Pengaruh pola asuh terhadap seksualitas anak

Bagaimana pola asuh bisa berpengaruh terhadap fitrah seksualitas anak?

Saat kita jadi anak-anak, berapa banyak kita merasakah kehangatan orangtua terutama ayah? Ayah jaman old biasanya cenderung kaku dan sulit mengungkapkan cinta pada anaknya. Bukan cuma ayah aja, tapi kadang ibu juga sama kakunya sama ayah. Menyiapkan makan dan pakaian bisa dianggap sebagai bentuk rasa cinta tanpa harus diungkapkan bagi ibu, membayar uang sekolah juga dianggap bentuk kasih sayang ayah lagi-lagi tanpa disampaikan. Belum lagi ketika kita berbuat kesalahan, ayah jaman old cenderung menghukum dengan keras, maksudnya supaya tegas dalam mendidik, tapi efeknya bisa jadi menjadi trauma dan bahkan menjadi pola didik yang sama saat sang anak ini menjadi orangtua kelak dengan dalih ‘saya dikerasin juga jadi orang kok!’

Apakah akan sama efeknya bagi anak di generasi yang berbeda?

Setidaknya setiap 20 tahun sekali muncul suatu karakter baru dalam masyarakat, hal ini dapat dilihat dari kondisi sosial ekonomi dan pola asuh yang tercipta dimasanya. Bahkan trend dan kebutuhan pun bisa jadi pemicu munculnya generasi baru.

Karakteristik tiap generasi berbeda dan punya ciri tersendiri.
Generasi Baby Boomer (lahir tahun < 1960)
Generasi yang lahir setelah perang dunia II ini adalah generasi yang mempunyai banyak saudara. Generasi yang adaptif, mudah menyesuaikan diri karena setelah selesai perang perlu banyak penataan ulang dalam segala aspek kehidupan. Adat istiadat masih dipegang teguh, dan orang-orang pada masa itu masih cenderung ‘kolot’ baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam pengasuhan. Setia pada keluarga termasuk melakukan apapun demi nama baik keluarga, self-centered, anti kritik dan bertarget pada pengakuan lingkungan dan uang.

Generasi X (lahir tahun 1961-1980)
Generasi ini lahir di awal kemunculan PC, video games, televisi kabel. Generasi yang mampu beradaptasi, tangguh, mandiri, loyal dan sangat mengutamakan citra, ketenaran dan uang. Generasi ini cenderung mandiri dan suka keberagaman, tidak sabaran dan biasanya menolak aturan. Generasi ini lebih terbuka dengan kritik dan saran. Pandangan mereka ialah bekerja untuk hidup bukan hidup untuk bekerja, sehingga antara pekerjaan pribadi dan keluarga cenderung seimbang.

Generasi Y (lahir tahun 1981-2000)
Dikenal sebagai generasi milenial, generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti e-mail, SMS, sosial media. Mempunyai karakter yang luwes dan fleksibel, berkomunikasi terbuka, terbuka dengan pandangan politik dan ekonomi serta mempunyai perhatian yang lebih terhadap kekayaan. Generasi ini biasanya lebih realistis, disiplin dengan toleransi tinggi. Senang dengan suasana kerja yang fleksibel dan kekeluargaan. Reward terbaik ialah perasaan ketika pekerjaannya berarti bagi hal-hal tertentu.

Generasi Z (lahir tahun 2001-2010)
Disebut sebagai generasi internet, serupa dengan generasi Y tapi mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu.

Generasi Alpha (lahir 2011-2025)
Generasi yang sangat terdidik dan karakter umumnya belum diketahui pasti.

Melihat karakteristik generasi diatas secara umum, wajar saja jika pola asuh orangtua jaman old sebegitu kakunya, karena targetannya adalah pengakuan lingkungan. Hal ini akan berimbas pada pengasuhan yang kaku, didesain sedemikian rupa agar muncul pengakuan dari lingkungan.
Orangtua jaman now sendiri bisa dibilang gabungan antara generasi X dan Y, yang cenderung lebih toleran, dan memerhatikan perasaan serta aktualisasi diri.

Meski demikian, gambaran ini hanyalah pandangan umumnya, banyak juga orangtua demokratis di generasi baby boomer atau orangtua diktaktor di generasi X atau Y karena semuanya kembali lagi ke sosial, budaya, pendidikan, agama dan juga pola asuh orangtuanya dulu. Paling tidak ada 4 jenis pola asuh yang bisa dikelompokkan, yaitu:
Orangtua Demokratis: Sangat menuntut, responsif tinggi
Mengayomi, kasih sayang, menentukan batas disiplin dengan batasan, komunikasi terbuka
Orangtua otoriter: sangat menuntut kurang responsif
keras, kaku, harapan tinggi, menghukum ketimbang disiplin
orangtua permisiif: tidak menuntut, responsif tinggi
merangkul, memaafkan, kurang konsisten, lebih sebagai ‘kawan’ daripada ‘orangtua’
orangtua lepas: tidak menuntut, kurang responsif
tidak terhubung secara emosional, egois, tidak konsisten, tanpa batas, kurang interaksi

Dalam sebuah penelitian tahun 2010 mengenai hubungan pola asuh demokratis terhadap perilaku seksual remaja, ada hubungan signifikan antara keduanya. Apabila pola asuh demokratis diterapkan dengan baik maka perilaku seksual remaja akan rendah. Penelitian lain di tahun 2006 mengenai pola asuh otoriter terhadap perilaku seksual remaja mengungkapkan bahwa semakin otoriter pola asuh orangtua, semakin tinggi perilaku seksual remaja.

Hal ini menjadi pengingat untuk kita bahwa ternyata kehadiran orangtua perlu untuk menumbuhkan fitrah seksualitas anak yang berujung pada peran keayah-bundaan pada anak. Penumbuhan fitrah ini harus sesuai dengan tahapan usianya dengan membangun konsep diri positif anak. Bisa dilihat presentasi nya disini.

#FitrahSeksualitas
#Tantangan10Hari
#Level11
#day6

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s