Piknik Disekitar Rumah

Biasanya nih ketika ada hal baru, reaksi kita juga baru. Bisa nerima langsung, bisa ngga terima, bisa jadi biasa-biasa aja, bisa juga ngga peduli. Didepan rumah nih beberapa waktu yang lalu lagi ada peningkatan jalan alias sedang ada pengecoran. Jalan yang tadinya relatif rame sama lalu lalang kendaraan sekarang jadi sepi. Sejak pagi orang-orang udah pada celingukan liat jalan, jarang-jarang ada car free day didepan rumah.

Anak-anak mulai keluar rumah dengan sepedanya, suami-istri mulai bawa raket dan main badminton di jalan. Suasana pagi ini mendadak ramai dan bahagia.
Peramal banget ya bisa ngatain bahagia, tapi keliatan kok bahwa semua orang butuh piknik. Piknik sederhana didepan rumah, bahkan yang hanya duduk-duduk dan liat yang sepedahan.

Pagi ini kalau buatku dan anak-anak juga ngga jauh beda, menikmati car free day sambil ikut jalan nganterin suami sampai nemu tukang ojeg. Kebetulan hari ini ialah jadwalnya suami dines luar dan janjian perginya dengan rekan sekantornya di jalan raya. Untuk menuju jalan raya sekitar 2 km, kagok juga kalau pakai mobil, mana jalannya muter sampe 5 km. Maka suami putuskan untuk naik ojeg saja ke jalan raya. Sepulang kami mengantar ayahnya anak-anak, kami piknik juga sama seperti orang-orang, hanya saja kami piknik ke sawah.
Menyusuri pematang sawah walaupun anak-anak ngeluh gatel kena rumput, kepeleset, bahkan tigebrus ke sawah. Jalan-jalan sederhana semacam ini secara ngga langsung memberikan ruang pengalaman buat anak-anak, pengalaman pengindraan, pengalaman emosi dan juga pengalaman fisik.

Ngga papa ketika petualangan kecil ini dimulai dengan cemberut, ngga suka karena banyak tantangannya, menurunkan ego karena bener-bener ngga ada jalan lain dan mau tidak mau harus terus jalan. Toh ketika sudah kembali mendarat di pemukinman, pengalaman tadi akan terendapkan sebagai kenangan manis untuk anak-anak.

Terbukti maghrib tadi Rayi bilang ‘besok kalau jalan-jalan ke sawah lagi mau bawa teropong biar bisa liat rumah’ sambil bawa gulungan karton yang menyerupai teropong. Anak-anak memang kreatif, tinggal bagaimana orangtua memberikan kesempatan anak menerima stimulasi dan berkreasi tanpa menghakimi.

#Tantangan10Hari
#Level9
#ThinkCreative
#KuliahBunsayIIP
#Day4

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s