Reviu Diskusi Kreatif di kelas Bunsay Bandung 2

Menjalani rutinitas itu kadang mbosenin, itu itu aja setiap harinya, setiap minggunya, setiap bulannya, setiap tahunnya. Kadang yang bikin bosen kegiatannya, kadang orang-orangnya, kadang tempatnya, kadang suasananya. Apapun bentuk kebosenannya biasanya nih muncul pertanyaan ‘biar ga bosen ngapain ya?’

Nah sadar ngga sadar ternyata saat terbersit pertanyaan itu adalah awal sebuah proses kreatif itu muncul. Maka akan jadi salah besar ketika kita bilang kita bukan orang kreatif tapi kenyataannya selalu ada cara baru menghadapi rutinitas. Hmmm… mulai mikir kan sebenernya kreatif itu apa sih?

Ini juga yang diuji cobakan ke fasil-fasil sulung Institut Ibu Profesional (IIP) oleh Bu Septi (Septi Peni Wulandani, Red) founder komunitas IIP dalam diskusi perdana materi 9, memicu kreatifitas anak. Kami disiapkan hidangan materi sedikit demi sedikit dan Ibu (panggilan sayang kami pada Bu Septi) hanya bertanya singkat ‘Menurut teman-teman apa sih kreatif itu?’. Mendapat sajian seperti itu rasanya seperti disiapkan makanan dalam porsi kecil dan ditanya gimana rasanya oleh kokinya langsung. Apapun rasa, tampilan, warna, tekstur dan teman-temannya itu wajib dijawab agar koki mendapatkan feed back langsung saat itu juga. Menariknya ialah, tidak semua wajib jawab, tapi semua wajib punya jawaban. Bisa jadi hanya ‘setuju sama si A’ tapi itu ngga papa, yang jelas pola ‘todongan’ semacam ini meminimalisir jawaban ‘ngga tau’.

Gembira dengan feed back pertama, Ibu kembali menampilkan slide materi dengan pertanyaan singkat selanjutnya. Apakah rasanya masih sama? Beda ternyata! Jika diawal tadi ditanya gimana rasanya, sekarang ditanya bahannya! Mirip-mirip dengan ngebedain ini pedes pake cabe kriting atau cabe rawit tanpa liat cabenya. Ngga ada yang salah dari semua jawaban, karena semua berdasarkan sudut pandang. Bisa jadi kelompok cabe kriting melihat dari warna masakan yang kemerahan hingga berkesimpulan demikian, bisa jadi kelompok rawit lebih kuat penciumannya hingga berkesimpulan demikian. Hmm…makin menarik nih pola diskusinya.

Satu hal yang menarik diluar pola diskusi baru ini ialah fasil dilarang baper! Karena ngga semua orang bisa langsung faham dan nerima dengan pola diskusi seperti ini. Tapi sekali lagi, jadi fasil mesti kreatif kalau kelasnya tetep pasif. Bagaimanapun juga meski tren diskusi semacam ini cenderung positif, kadang tetap kurang menggigit ketika diterapkan di kelas, masih aja banyak yang udah baca tapi ngga komen. Ngerasa dicuekin ga sih? Maka ketika fenomena semacam ini diajukan ke forum fasil, Ibu pun memberikan tips jitu anti baper buat para fasil sulung hehehe…Ntaps!

Memasuki materi 9 ini, fasil kembali di rolling ke kelas-kelas lain. Fungsinya selain penyegaran juga cara yang kreatif untuk mengasah kemampuan ngefasil di kelas dengan kultur yang berbeda-beda sekaligus kerjasama dengan fasil-fasil dari kota lain.
Kali ini aku ditempatkan di Bandung 2, setelah sebelumnya du BCCG dan Korwil 7. Pulang kampung istilahnya, setelah sebelumnya melanglangbuana kesana kemari. Pengalaman ngefasil kelas Bandung 2 itu seperti mengulang kembali saat-saat memandu diskusi atau kulwap 2 tahun di WAG Bandung. Peserta kuliahnya ialah teman-teman yang sudah cukup sering ketemu, namun tetap saja menghidupkan kelas ini masih jadi PR tersendiri.

Sesuai dengan kesepakatan diawal kelas, saat sesi diskusi dimulai maka artinya wajib aktif diskusi. Sedikit yang muncul saat diskusi, agak dimaklumi juga karena bagi ibu-ibu terutama yang memiliki anak kecil biasanya jadwal ngelonin atau paling tidak nemenin tidur dan bonus ketiduran hehe. Namun kesepakatan tetap kesepakatan, maka diskusi tetap dimulai dengan meminta izin suami untuk memandu diskusi selama 1 jam. Apa yang kami lakukan di grup persis sama seperti yang Ibu ajarkan dan ternyata berhasil walau awalnya hanya satu dua orang yang muncul.
SS pertama yang kami bagikan di grup menjadi cambukan member lain untuk ikut aktif diskusi dan membuat kelas lebih hidup. Perlu tambahan 15 menit untuk sampai pada slide terakhir, yang untungnya tambahan waktu ini juga di acc oleh suami.

Di hari berikutnya ada kejutan dari Ibu untuk memberikan reviu mengenai pola diskusi baru. Sifatnya hanya sunah alias tidak wajib bagi member, namun sebagai pemacu semangat menulis maka kejutan ini dibarter dengan Tantangan 10 hari.
20 tulisan reviu pola diskusi kali ini di barter dengan Tantangan 10 hari. Ketika belum mencapai 20 tulisan, maka tantangan tidak akan disampaikan, sedangkan waktu memulai tantangan ialah keesokan harinya.
Dipikir-pikir kok jahat ya? Tapi sebanding kok, keesokan harinya sebelum jam 8 pagi sudah masuk 18 tulisan yeayyyy….

Memang kadang kreatifitas itu muncul karena bentuk tekanan oleh keadaan sekitar, maka ketika bosan ngerjain tantangan, kami tantang balik supaya member ‘mengejar’ tantangan hahaha…

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s