Keluasan hati orangtua, membebaskan anak berkreasi

Judul e-book ini ialah ‘memacu kreatifitas anak sejak dini’ lanjutannya ialah ‘judul diatas salah! ‘
Kooookkkkk????
Anak-anak sudah kreatif dari bayinya juga! Kitalah yang bikin standar kreatif sendiri dan itu yang mematikan kreatifitas anak. Bukan hanya tentang e-book pendahuluan yang disampaikan oleh Bu Septi, namun juga materi bunsay 9 tentang kreatifitas yang bikin kita mikir. Apakah kita termasuk orangtua yang hobi mematikan kreatifitas anak?

Suka nyadar ga sih kadang kita suka kritis sama apa-apa yang dikerjain ama anak? Hah kita? Aku aja itu mah. Padahal saat kecil dulu juga kita butuh hati yang luas buat berkreasi. Yang aku inget saat kecil dulu saking patarik-tariknya antara pengen berkreasi dengan tetap bertanggung jawab, aku pernah bikin paus super besar pake pensil dengan nyoba ngehapus coretan pensil di tembok terlebih dahulu. Sedikit coretan pensil yang berhasil dihapus itu bener-bener bikin semangat berkreasi. Paus super besar yang aku buat kala berusia TK itu rencananya akan kuhapus sebelum ibu pulang kantor, tapi terlambat!
Ibu terdengar sudah memasuki rumah dan bikin aku jadi buru-buru ngehapus si paus raksasa. Tapi ngga hilang juga! Paus raksasa masih tetap ditempatnya, lalu ibu masuk kamar dan liat si paus. Ibu hanya senyum tapi perasaan ‘ngga confirm‘ itu tetep ada. Sambil nangis aku jelasin bahwa tadi bisa kok dihapus dan ibu tetep senyum.
Soal perasaan yang ‘ngga confirm‘ ini jadi catatan tersendiri buatku. Karena senyum ini banyak artinya, bisa artinya ‘ngga papa’, bisa juga ‘sekali ini aja boleh, nanti ngga boleh’,  atau ‘ibu bangga kamu jujur, tapi nanti lagi jangan’ atau apa? Ibu termasuk orang yang jarang ngobrol, maka ketika perasaan ini coba dikonfirmasi ulang oleh seorang anak rasanya akan kagok, bertumpuk.
Keluasan hati orangtua dan perasaan penuh anak-anak menjadi 2 hal yang pertama kali terbersit saat anak-anak main. Dan untuk dua modal ini, orangtua wajib bebas beban, terutama beban innerchild. Karena sadar tidak sadar pola asuh saat kita kecil sedikit banyak terproyeksi menjadi pola asuh kita kepada anak.
Pagi ini dimulai dengan perasaan Rayi yang campur aduk karena diusianya yang baru genap 4 tahun akhir Oktober lalu perang ego dan belajar memahami konsekuensi itu sedang berlomba-lomba bermunculan di benaknya. Pengennya sih main setir mobil di tablet, tapi jadwal mainnya habis dan baru boleh main besok. Sepanjang hari Rayi nawar ‘main setir mobil sekali aja’ dan kembali marah saat diingatkan akan konsekuensinya.
Kadang marahnya heboh, kadang bisa dibujuk dengan main permainan lain.
Kemampuan Rayi mengendalikan emosinya sekaligus membuat dirinya nyaman bermain tanpa setir mobil ini mengalami peningkatan semakin sore. Mulai dari nangkep ikan, ikut bunda ngejemur sampai main bareng kakak.
Kadang memang diselingi dengan permintaan main setir mobil tapi dengan frekuensi rengekan yang berkurang. Seharian dirumah tanpa banyak beraktivitas ternyata berpengaruh positif terhadap cara pandang kita kepada anak. Lebih santai dan tenang saat menghadapi rengekan anak. Anak pun bereaksi positif dengan menurunkan frekuensi/ volume/ lamanya merengek.
#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunsayIIP
#ThinkCreative

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s