Mengasah pede dengan public speaking

Senin 28 Agustus 2017

Apa sih yang dipikirin kalau denger istilah public speaking? MC? Anchor? Presenter? Yah pokoknya itulah seputar kegiatan ngomong didepan public. Hari ini adalah jadwal Qai ber-public speaking, dari waktu ke waktu Qai mulai terlihat keberaniannya. Jika minggu lalu Qai mulai menunjukkan kemampuan ekspresinya, kali ini tugas presentasinya ialah menceritakan kegiatan harian.

IMG_20170821_143609
Qai sedang menampilkan ekspresi marah

Sedikit flash back beberapa waktu lalu, sekolah tempat Qai menimba ilmu dulu mengedepankan kurikulum khas yang masih berhubungan dengan berbicara didepan umum. Namun ketika ujian, Qai drop! Nangis dan ngga mau maju, padahal jika dirumah Qai sangat bersemangat dan cukup lancar presentasi. Rasanya ada yang salah, sampai akhirnya ujian selanjutnya Qai maju paling akhir saking ngga maunya maju. Itu pun mau maju dengan banyak dorongan dari teman-teman dan gurunya.

Menilik kejadian tersebut akan tidak sehat jika hal yang membuat Qai mau mencoba sesuatu adalah bersumber dari luar, hanya karena ada teman, hanya karena ada guru, hanya karena ini ujian dan sebagainya. Namun tidak bisa disalahkan juga mengingat usianya yang kala itu baru menginjak 7 tahun. Konsep dirinya belum terbantuk sempurna dan ini tugas kami sebagai orang tua untuk memperbaikinya.

Setelah Qai kami tarik dari sekolah formal mulailah fase banyak bemain, banyak kegiatan dimulai. Public speaking for kids ini termasuk salah satu kegiatan yang kami pilihkan buat Qai. Awalnya terkesan ‘maksa’ karena kegiatan ini awalnya merupakan acara lepas dan menjadi rutin setelah banyak peminatnya. Kesan pertama saat awal pertama ikut ialah ‘public speaking itu bukan Qai banget’. Qai nangis pas diminta maju dan menceritakan tentang cita-citanya. Dia ngga mau maju dan menyisakan hamper 15 menit buat nemplok di emaknya. Wah tantangan nih!

Ketika tawaran membuat kelas regular digulirkan spontan aku daftarkan Qai. Aku tau pasti Qai sebenarnya bisa, hambatan dimananya ngga aku pikirin pokoknya masuk aja dulu. Pas aku bilang ke Qai kalau dia didaftarkan ke kelas public speaking, Qai manyun.  Dan benar saja sepanjang hari Qai terlihat tidak bersemangat. Hari ini setelah 5x pertemuan Qai mulai menunjukkan perubahan, percaya dirinya lebih baik masih dengan meminta persetujuan tiap kali menyampaikan sesuatu. Tapi itu bagus, semuanya bertahap. Lama kelamaan Qai mampu menunjukkan emosi aslinya, mengungkapkan perasaannya. Masih dengan suara yang minimalis tapi that’s fine.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s