Catatan perkembangan anak-anak

Selepas nganter suami ngantor (nganter sampai depan rumah doank) anak-anak udah sibuk main pasir. Kebayangnya bakalan anteng nih ditinggal emaknya baca buku n ngotret-ngotret ngga taunya ngga lama udah dapet panggilan “Buuuuuunnnnn dimanaaaa? Siniiiii maiiiiinnnnn”
Ah emak ngga jadi me time….

Benar ternyata, 24 jam itu kurang! Rencana bikin lesson plan buat anak-anak berantakan, plus rumah juga ikutan berantakan. Anak-anak main seru seharian ini. Dari pasir ke buku,  dari kardus ke cat.
Beragam aktivitas memang sengaja aku sediakan buat anak-anak tanpa konsep pembelajaran. Bukan karena ngga mau bikin tapi karena biasa mikir loncat-loncat, kalau kata orang mah tipe orang kreatif ya begini. Sebuah kebanggaan walau kadang pengen juga jadi orang yang fokus. Alhasil setelah baca referensi sana-sini yang ada ialah semua menarik. PR nya sekarang ialah untuk memutuskan mana yang penting dan mulai bilang ‘menarik tapi tidak tertarik’.
Sambil diselangi dengan kehebohan kegiatan anak-anak indoor, sedikit demi sedikit mulailah aku ngotrat-ngotret rencana belajar anak-anak. Mulai dari melihat ceklis perkembangan buat Rayi dan mencari pola kecerdasan Qai.
Rayi masih asik dengan mainan mobil-mobilannya saat aku menyelesaikan ceklis perkembangannya.  Hasilnya ialah diusianya yang mulai menginjak 4 tahun masih ada keterlambatan dari segi motorik halusnya.
Maka untuk mengejarnya semua stimulasi harus dilakukan berhubungan dengan mobil, karena kebinar-binaran Rayi disana.
Ada 2 kurikulum wajib untuk Rayi setiap harinya, yaitu merobek kertas dan meremas kertas. Ada 2 sketsa cerita untuk memotivasi Rayi melakukan stimulasi secara tak langsung. Sebagai calon pembalap harus memiliki genggaman setir yang kuat, karena saat mengemudi dengan kecepatan tinggi dibutuhkan  genggaman yang kuat dan fokus yang tinggi. Meremas kertas ialah cara melatihnya, jika remasan bola Rayi lebih kecil daripada kakak Qai maka Rayi dapat bonus bisa melihat gambar-gambar mobil selama 5 menit di ponsel bunda.
Merobek kertas juga menjadi kurikulum wajib Rayi. Sketsanya ialah sedang menyiapkan salju sebagai bagian dari kondisi sirkuit saat sedang musim dingin.
Dalam prosesnya sengaja aku masuk sebagai orang yang lebih kecil usianya dari Rayi. Hal ini akan membangun konsep dirinya lebih naik lagi. Seperti saat merobek kertas, emaknya berpura-pura tidak bisa merobek, maka Rayi maju dengan percaya diri “Gini bun caranya, liat nih Rayi hebat”
Anggapan bahwa dirinya hebat selama dibawah 10 tahun masih wajar karena anak belum ada beban taklif, dan itu bukan termasuk kedalam kategori sombong.
Lain Rayi lain Qai. Qai mempunyai kecerdasan visual-spasial tinggi, segala puzzle Qai suka, maze pun Qai nagih, membangun menara Qai jago. Konsekuensi lain dari anak dengan kecerdasan ini ialah pemikir, maka perlu dikuatkan dari segi matematika logis.
Konsep berfikir Qai perlu dibangun dan untuk Qai akan banyak waktu untuk bundanya nyerocos menerangkan ini dan itu karena pemahaman itu bukan sekali jadi tapi butuh pengulangan dan penguatan.
#Tantangan10Hari
#TantanganHariKe8
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaBintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s