Matrikulasi 4: Ibu manager keluarga handal

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja, yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita, kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu rumah tangga, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja di rumah?

  1. Apakah masih “ASAL KERJA”, menggugurkan kewajiban saja?
  2. Apakah didasari sebuah “KOMPETISI ”, sehingga selalu ingin bersaing dengan keluarga lain?
  3. Apakah karena “PANGGILAN HATI”, sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga.

  1. Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalkami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
  2. kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
  3. Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Masih ingat satu quote di Ibu Profesional kan,

“The only reality is YOUR PERCEPTION”

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita

 “Saya Manager Keluarga”, kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

a. Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga. Kalau saya memakai istilah 7to7, dari jam 7 pagi – 7 malam, menggantung daster, memakai pakaian yang rapi, layak, nyaman.

b.Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi.

c.Buatlah skala prioritas.

d.Bangun komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. – Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini – aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

b. ONE BITE AT A TIME Apakah itu one bite at a time? -Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. DELEGATING Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya. Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih “SEKEDAR MENJADI IBU”. Ada beberapa hal yang saya lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas saya agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

  1. Dulu saya adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka saya tingkatkan ilmu saya di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “manajer keuangan keluarga.
  2. Dulu saya adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak. Sudah itu saja, hal ini membuat saya jenuh di dapur. Akhirnya saya cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
  3. Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, saya adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat saya tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah. Akhirnya saya cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”. Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
  4. Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

Pertanyaan-pertanyaan

Dengan dipandu oleh Andita dari IIP Malang sebagai moderator, berikut sejumlah pertanyaan yang terangkum selama beberapa hari:

#1 Pertanyaan Andita – IIP Malang

“Because women are ummun wa robbatul bait” karena perempuan adalah ibu & manager rumah tangga. Dari dulu saya sudah suka dengan caption itu. Yang ingin saya tanyakan di point B. One Bite at a Time, lakukan setahap demi setahap. Misalnya dalam mendapatkan ilmu dan mempraktekkannya.

Bagaimana caranya agar kita tidak menjejali diri dengan berbagai ilmu dan belum ‘selesai’ dalam praktek dan menjadikannya habits Bu? Kadang poin x baru separuh jalan sudah kepincut ingin menjalani poin selanjutnya.

Jawaban:

Situasi yang dikatakan tadi, pasti akan terjadi kalau sang ibu belum tahu peran hidupnya apa dan bidang yang akan ditekuninya apa. Sehingga masuk kategori galau, semua ingin dipelajari, tetapi belum tentu semua bisa dijalani. Sehingga hal ini akan membuat kita makin galau. Kalau teman-teman menjalankan dengan sungguh-sungguh tahapan matrikulasi ini, pasti akan lebih mudah menemukan “prioritas hidup”. Ilmu -ilmu mana yang memang sifatnya WAJIB kita amalkan, dan ilmu-ilmu mana yang sifatnya hanya menjadi referensi untuk menguatkan ilmu utama.  Prinsip selanjutnya adalah “tumbuh bersama” anak. Jangan sampai gara-gara merasa masih kurang dan belum selesai dengan diri kita, justru mengabaikan pendidikan anak. Belajar bersama, tumbuh bersama. Pastikan di keluarga kitalah, anak-anak dan diri kita bisa tumbuh dengan optimal, karena semua bisa menjadi guru, dan semua bisa menjadi murid.

#Pertanyaan 2 Yessy – IIP Sumut

Bagaimana caranya agar saat kita berusaha men-switch pikiran dengan hal yang positif dapat bertahan lama? Tantangan saya adalah saya dan suami masih belum mampu menemukan cara komunikasi yang tepat dengan orangtua dalam hal mendidik anak kami. Hal ini membuat saya lebih banyak memilih mengajak anak beraktifitas di luar rumah. Karena sering keluar rumah, saya menjadi kelelahan menyiapkan urusan domestik sebelumnya.

Jawaban:

Sekali lagi, the only reality is your perception. Maka buatlah persepsi positif terlebih dahulu dengan diri kita, setelah yakin, masukkan persepsi positif tentang orang-orang di sekitar kita. Jangan perhatikan sisi buruknya, selalu panggil sisi baik orang-orang di lingkaran pertama kita, meski saya akui itu berat. Kalau LOLOS berarti naik kelasnya tinggi.

Kemudian ketika kita belum selesai berkomunikasi dengan orang-orang di lingkaran pertama seperti orangtua kita, maka kuncinya TIDAK BOLEH PUTUS ASA. Berikan stimulus porsi kecil tapi sering. Nah selama proses tersebut, mengajak anak beraktivitas keluar rumah adalah cara yang tepat. Saya dulu juga mengerjakan hal tersebut. Kemudian aktivitas luar rumah bersama anak ini saya maknai sebagai jam kerja saya yang utama yaitu mendidik anak. Maka urusan domestik lainnya, harus bisa selesai sebelum jam kerja tersebut. kalau tetap tidak memungkinkan menyelesaikannya maka DELEGASIKAN ke orang lain untuk urusan non pendidikan anak.

#3 Pertanyaan Nia – IIP Depok

Karena misi masa depan, saat ini saya masih harus bekerja di ranah publik, sehingga masih mendelegasikan pendidikan anak ke eyang putrinya, mama saya, untuk senin-jum’at 06.00-19.00.

  1. Apa dan bagaimana strategi paling jitu agar mama saya sepemahaman dengan kurikulum mendidik yang telah kami buat?
  2. Mama saya sejak awal menikah menjadi ibu rumah tangga, namun yang saya rasakan juga bukan termasuk yang profesional. Karena banyak hal yang menurut saya kurang, ilmu mama baik agama maupun keuangan dan kecekatan kurang. Sejak sebelum menikah saya punya niat, tidak mau seperti mama saya. Saya ingin jadi lebih baik. Begitu ikut matrikulasi saya seoptimal mungkin shift mode dirumah jadi ibu. Kadang karna mama saya dulu tidak begitu dia memandang apa yang saya lakukan berlebihan. Dia tidak suka melihat anaknya repot dan membandingkan dengan suami saya yang tidak melakukan pekerjaan domestik sehingga menyalahkan suami saya. Padahal saya sampaikan saya bahagia melakukan ini dan saya ingin meraih pahala dari Allah. Sampai ketika saya sampaikan saya punya cita-cita resign 5 tahun lagi untuk full di rumah dan home education anak saya pun, mama saya nampak tidak sependapat. Yang saya takut mama saya tidak ridlo dan niat saya terhambat. Bagaimana menjembataninya?

Jawaban:

Kalau kondisi saat ini menurut mbak dan suami adalah kondisi pilihan yang terbaik untuk anak-anak, maka terima dengan sepenuh hati. Kuncinya hanya satu, kita harus siap menanggung resiko yang terjadi, dan jangan pernah menyalahkan mama, apapun kondisinya.

Maka kalau tipe mama adalah seseorang yang mau belajar, bantu mama dengan ilmu. Apa yang mbak nia baca, mama juga ikut baca. Ajak ngobrol mama setiap saat seputar ilmu pendidikan terkini. Berikan hal-hal praktis yang membuat mama bisa menerapkannya dalam mendampingi anak-anak kita selama kita bekerja.

Kalau hal tersebut tidak bisa dilakukan, maka cari asisten rumah tangga yang bisa anda didik dengan baik, kemudian minta mama berperan sebagai supervisornya. Sebagai manajer keluarga, anda harus latih ilmu-ilmu apa saja yang harus dikuasai oleh seorang pelaksana pendidikan dan seorang supervisor.

Andaikata tetap tidak bisa lagi, maka memang diri kita orang yang paling tepat. Segera ambil peran tersebut sebelum terlambat. Kalau ibu tidak meridhoi karena urusan duniawi, maka yakinkan bahwa ini akan baik untuk urusan akherat. Karena orang yang memikirkan akherat, maka dunia akan ikut. Setelah itu buktikan bahwa kita bisa. Pengalaman saya, mulai dari ibu tidak ridho, sampai sekarang sangat mendukung aktivitas saya sebagai ibu  manajer kelaurga . Danitu saya perlu proses 4 tahun untuk menyakinkan beliau.

#4 Pertanyaan Novita – IIP Tangsel                      

Bagaimana cara menyeimbangkan tantangan kerja dan urusan domestik yang seringkali berkejaran satu sama lain dan bagaimana cara mendelegasikan pemahaman kita pada art terkait cara ngedidik anak

Jawaban:

Kuncinya pada KESUNGGUHAN dan MANAJEMEN WAKTU. Kalau kalimat yang selalu pak Dodik sampaikan ke saya sejak dulu ketika galau antara pekerjaan domestik dengan pekerjaan publik adalah seperti ini:

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu”.

Dalam saya maknai sebagai urusan domestik, luar saya maknai sebagai urussan publik. Maka mulailah mengerjakan hal-hal profesional yang mbak sering lakukan di tempat kerja, terapkan di rumah terlebih dahulu, misal:

  1. Di tempat kerja, kita malu kalau tidak tepat waktu, maka di rumah kita harus lebih malu lagi kalau tidak tepat waktu.
  2. Di tempat kerja kita tampil cantik, maka di rumah harus lebih cantik.
  3. Di tempat kerja kita sabar dengan anak orang lain/rekan sekerja kita, maka di rumah harus lebih sabar lagi dengan anak dan suami.
  4. Di tempat kerja ada perencanaan yang bagus, maka di rumah harus lebih bagus lagi.

Sehingga luangkan waktu khusus ke ART mbak untuk magang cara mendidik anak, ketika mbak novita di rumah dan mendidik anak. Suruh duduk, lihat dan catat, kemudian berikan menu pendidikan anak dengan rotasi 10 hari an, ke ART kita, siapkan alat dan bahannya, kemudian latih lagi sampai ART kita mahir melakukannya.

Hal tersebut di atas yang saya lakukan untuk ART saya, sehingga 5 tahun bersama saya, ART saya sekarang sudah bisa menjadi guru TK dan sekarang membina rumah tangganya sendiri dengan kondisi lebih baik dari saya ketika ssaya di awal menikah. Bahkan sekarang bisa jadi pengusaha. Seorang perempuan desa yang tadinya minder karena hanya lulusan SMP sekarang jadi Pede.

There is no try, DO or DO NOT

Segera lakukan yang terbaik, karena tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini.

#5 Pertanyaan  Mesa – IIP Bandung

Diskusi santai ya bu, hehe… mau nanya, dulu ibu waktu awal bertekad menjadi ibu profesional, sehari tidur berapa jam bu?

Jawaban:

Di awal dulu hanya 3-4 jam, sekarang bisa lebih bisa atur waktu.

#6 Pertanyaan Nesri Baidani

Bu Septi dulu bikin kurikulum butuh waktu berapa lama hingga solid seperti sekarang?

Jawaban

Dulu di awal saya memulai dengan simple. Prioritas pendidikan yang jadi mata pelajaran wajib sepanjang hari untuk anak-anak adalah : IMAN-AKHLAK-ADAB-BICARA

Kemudian kami mencari tujuan mendidik anak bagi keluarga kami itu sebenarnya apa saja ? Dari hasil ngobrol ketemulah :

INTELLECTUAL CURIOSITY

CREATIVE IMAGINATION

ART OF DISCOVERY AND INVENTION

NOBLE ATTITUDE

Seiring perjalanan waktu ketemu Abah Rama, masuklah materi passion maka ketemu rumusan berikutnya :

ENJOY-EASY-EXCELLENT-EARN

Sudah tutup mata selama bertahun-tahun, mau yang lain punya kurikulum sekeren apapun saya tetap kekeuh dengan yang saya buat bersama keluarga

Sampai akhirnya yakin, dan saya duplikasi di Lebah Putih

#ODOPfor99days

#MatrikulasiBatch1

#day107

#InstitutIbuProfesional

#GoesToProfessionalMother

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s