Matrikulasi 7: Menemukan Misi spesifik hidup

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.
Sebelumnya kita sudah memahami bahwa “Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitaas hidup kita ini tidak akan selalu dengan berapa rupiah yang akan kita terima , melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita. Karena Rejeki itu kejutan, nilai rupiah itupun bonus dari kesungguhan kita bukan yang dicari sebagai obyek utama. Mohon dipahami dulu dengan seksama materi sebelumnya, kemudian praktekkan agar kita semakin yakin akan proses menjemput rejeki.

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup. Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir ( sekitar 10-13 th) dan memasuki taraf aqil baligh ( usia 14 th ke atas).

Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagaian manusia yang disebut sebagai (mid-life crisis).

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tersebut apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri :
a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar
b. energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.
c. rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi
d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.

Ada 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas :
a. Kita ingin menjadi apa (be)
b. Kita ingin melakukan apa (do)
c. kita ingin memiliki apa (have)

Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan :
a. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
b.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan ( strategic plan)
c. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang anda pikir memang harus diubah.

Berikutnya mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita.Mulailah dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.Buatlah prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita “gagal fokus”.

Demikian sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, silakan dibuka diskusi dan esok hari saya akan lebih detilkan materi ini secara real di nice homework #7 berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di Nice homework #6.

Salam Ibu Profesional,

/Septi/

Pertanyaan dan Diskusi

#1 Pertanyaan Shanty – IIP Bandung

Jadi bertanya-tanya, pernahkah atau adakah orang yang kita pandang secara materi kurang, tapi memiliki kemuliaan?

Jawaban:

Inilah materi utama saya di tour de talents untuk anak-anak. saya silaturahim ke orang-orang yang senantiasa menaikkan kemuliaan hidup, sehingga indikatornya bahagia dan sukses. Contoh pertemukan anak-anak ke tukang sampah di Jogja Pak Wisnu namanya, yang dengan tulus mengambil sampah dari rumah ke rumah sambil mengedukasi warga satu desa. Bonusnya dia sempat dipanggil Oprah Winfrey untuk talk show. Kemudian saya ajak bertemu dengan Prigi Arisandi, yang awalnya hanya membersihkan sungai brantas saja, dan akhirnya bisa mendapatkan penghargaan yang langsung diserahkan oleh Barack Obama, ada pak Sumadi yang mengedukasi jamban di desa-desa, sehingga terkenal dengan sumadi jamban :), ada tri mumpuni seorang perempuan pejuang mikrohidro, dan masih banyak lagi list orang-orang yang meningkatkan kemuliaan hidup, materi mengikutisebagai bonus sebuah kesungguhan.

#2 Pertanyaan Putri Yudha – IIP Bandung

Soal cara pandang soal kemuliaan ini apakah artinya kemuliaan ini adalah perjalanan tiada henti sampai kita meninggal? Karena sejatinya kemuliaan itu Allah yang menilai dan tidak ada standar khusus dalam penilaian manusia terhadap manusia lainnya.

Jawaban:

Betul, kemuliaan itu perjalanan tiada henti sampai kita meninggal di dunia, dan sekali lagi hanya Allah yang tahu kadar kemuliaan hidup kita. Yang bisa kita rasakan adalah ketentraman hidup dan kebermanfaatan bagi sesama dan alam semesta.

#3 Pertanyaan Nia Nio – IIP Depok

Noble atitude seperti dalam kurikulum bu Septi untuk anak-anak itu yang seperti apa?

Jawaban:

Saya berikan contoh dalam menggali fitrah belajar ya mbak. Di awal kami menerapkan 4 hal yang menjadi tujuan anak belajar sesuatu sampai bermanfaat :
◾ Tahap Intellectual Curiosity
Anak-anak akan mempelajari sesuatu dimulai dari rasa ingin tahu dari dalam dirinya, bukan dijejali, ini menjadi salah satu ciri manusia yang senantia berpikir. Inside-Out, bukan outside-in.
◾ Tahap Creative Imagination
mengembangkan kemampuan kreativitas anak, karena ini modal utama sebuah perubahan hidup.
◾ Tahap Art of discovery and invention
dari mempelajari ilmu-ilmu tersebut, muncullah satu kata dari mulut anak “A ha!” ternyata bla….bla…bla…
◾Tahap Noble Attitude
Tahap tholabul ‘ilmi nya ini menumbuhkan sebuah action berbagi, entah berbagi proses atau berbagai kebermanfaatan hasil, sehingga memunculkan ilmu-ilmu baru dan meningkatkan kemuliaan hidup.

Maka sebenarnya janji Allah pasti, “akan dinaikkan derajad manusia yang menuntut ilmu”, maka menuntut ilmu yang seperti apa?  maka inilah yang membuat kita “berpikir.”

#5 Pertanyaan Andita – IIP Malang

Bagaimana teknisnya memperkenalkan anak-anak dengan orang-orang tersebut? Bagaimana cara menghubunginya? Apakah punya daftar khusus orang-orang yang akan diperkenalkan?

Jawaban:

Pertama menguatkan fokus konsentrasi pikiran kita sebagai orangtua, kalau istilah umumnya “red car syndrom”, apabila kita fokus ke mobil warna merah, maka sepanjang perjalanan rasanya ketemu terus dengan mobil warna merah, padahal sebenarnya mobil warna merah itu selalu lewat terus, hanya saat itu pikiran kitalah yang nggak fokus. Dari awal saya dan Pak Dodik sudah berprinsip anak-anak harus punya banyak referensi tentang “profesi dan peran hidup” sehingga mereka jadi kaya akan pilihan. Kemudian kita list profesi dan talents seperti apa saja yang ada di muka bumi ini. Sehingga terbagilah profesi para profesional (employee, self employee, bussiness owner dan investor)  dari sana kita lihat mana yang sukses dan bahagia, kemudian kita list, muncullah orang-orang yang berada dalam fokus pikiran kami dari berbagai kuadran.

#6 Diskusi Shanty –  IIP Bandung

Jadi teringat sosok inspiratif yang sering ada di sosok Kompas atau di Kick Andy. Orang-orang bersahaja yang banyak berarti bagi orang lain.

Diskusi:

Betul bisa dimulai dari hal tersebut, pekerjaan saya dulu juga ngumpulin kliping tentang sosok-sosok hebat di kompas, dan cerita ke anak-anak bahwa di jaman sekarang banyak juga orang-orang baik seperti saat jaman Rasulullah, kemudian kita jelaskan apa yang bapak ibu dan kita lakukan juga sedang berproses ke arah sana, sehingga suatu saat di tahun 2006, saya masuk liputan di sosok Kompas dan Kick Andy di tahun 2007, baru anak-anak makin yakin dengan proses yang sedang dijalankannya bersama orangtuanya.

#7 Pertanyaan Farda – IIP Surabaya

Apa ada kemungkinan misi spesifik hidup berubah Bu dipengaruhi keadaan, sumber daya, dan perubahan kondisi hidup yang diluar perkiraan?

Jawaban:

Menurut pengalaman saya, misi spesifik hidup itu sebenarnya tidak pernah berubah, cara menemukannya saja yang bermacam-macam dan dengan berbagai cara, tapi ketika dilihat benang merahnya ternyata apa yang kita kerjakan mengarah kepada “misi spesifik hidup kita”.

Contoh ketika “galau” dulu proses saya mencari misi spesifik hidup adalah dengan berjualan baju dan berganti dengan berjualan soto , ternyata sepanjang berjualan baju dan berjualan soto yang saya lakukan adalah “mengajar dan menginspirasi para ibu yang mau beli baju dan mentraining serta memotivasi setiap pagi ke  para tukang masak, tukang belanja dan pramusaji warung soto saya. Ya lama-lama baju dan sotonya tutup  tapi ilmu training saya makin naik.

Berbicara indikator mulia, seberapa pentingkah kedudukan mulia secara duniawi (manusia) dan dimata Allah, menurut Bu Septi. Karena ada namanya personal branding dalam dunia manajemen yang ternyata juga berpengaruh.

Jawaban:

Mulia di mata Allah lebih dari segalanya. Prinsip kami selama Allah dan rasulNya tidak murka, jalan terus, meski banyak manusia yang mencemooh kita. Branding penting? Iya, maka branding itu akan ketemu dengan seiring kita menemukan misi hidup. Maka pak Dodik sangat mementingkan “personal branding dan family branding terlebih dahulu, sebelum masuk ke “produk branding”, biar tidak bertabrakan dengan core values keluarga kita.

Karena materinya butuh pemahaman mendalam bisakah dibantu diilustrasikan Bu? Dengan seorang tokoh?

Jawaban:

Seperti pertanyaan teh Shanty di atas, sangat banyak contoh di muka bumi ini. Teman-teman bisa searching dengan keyword “social enterpreneur” nanti akan ketemu lagi dengan banyak orang-orang yang berada dalam fokus pikiran kita.

#8 Pertanyaan Lendy – IIP Bandung

Bagaimana cara menyatukan frekuensi dengan orangtua?

Jawaban:

Buktikan dan terus berproses. Lebih sering menunjukkan kebaikan kita ke orangtua dibandingkan saat dulu belum berubah. Jangan pernah pikirkan “persepsi orangtua ke kita”, atau orang lain ke kita, teruslah berbuat baik dan raih kemuliaan di mata Allah. Berat ? iya, tapi surga jaminannya insya Allah. Kalau surga itu gampang diraih, pasti tidak ada ujian yang seberat itu.

#9 Diskusi Shanty – IIP Bandung

Saya hobi ngumpulin kliping sosok inspiratif. Tapi asli nggak kepikiran untuk kenalan langsung. Abis rasanya orang jauh banget di tipi. Ha…ha… Sampai malam ini..

Diskusi:

Itu biasanya karena kita tidak tahu jelas tujuan kita ngumpulin. Kalau saya dulu kekeuh harus bisa bertemu dengan orang-orang hebat itu karena untuk anak saya. Sehingga itu membuat kagum ara kecil, ibunya ibu rumah tangga biasa, tapi setiap kali orang tersebut ada di tivi, tidak lama kemudian pasti ketemu dan seakan-akan sudah jadi kenalan lama ibunya. Sehingga sampai hari ini Ara itu masih punya mindset bahwa ” semua orang terkenal itu pasti teman ibunya”, hal tersebut membuat dia pede, meski saya sendiri nggak kenal sebenarnya.

#10 Pertanyaan Farda – IIP Surabaya

Menanggapi jawaban dari pertanyaan Mbak Shanty tentang orang-orang inspiratif-mulia tersebut. Seingat saya (mohon diklarifikasi ya bu)..bahwa bu septi saat masa kegiatan kaya wawasan, mengajak menemui anak dengan kriteria orang “bahagia” lalu beranjak ke orang yang “sukses dan bahagia”.

Nah, dari paparan ibu, rata-rata ada salah satu tanda kriteria yang jadi tolok ukur orang tersebut pernah “mendapat pengakuan” dari sebuah lembaga/institusi/acara talkshow/media. Apa itu jadi kewajiban bu? Atau kita juga boleh mengajak anak kepada orang disekitar rumah kita yang mungkin belum “terakui” luas ?

Dan untuk mengawali action sekarang bu, mungkin ada tips trik teknis saat dulu mengawali ingin bertemu orang-orang hebat. Bagaimana polanya biar bisa saya adaptasi duplikasi.

Jawaban:

Di masa 0-7 th kami berdua mengawali tour de talents dari orang-orang terdekat. Ada penjual makanan yang sukses dan bahagia (sukses dan bahagia syarat wajib, skalanya saja yang berbeda) di sekitar rumah, tukang salon yang sukses dan bahagia,  kami datangi.

Setelah anak-anak usia 7 th ke atas (dengan catatan sudah memiliki adab yang benar) maka mulailah menaikkan level anak-anak untuk bertemu dengan orang-orang yang “wilayah kerja” misi hidupnya lebih tinggi bisa skala nasional dan international. Berbagai cara kita tempuh, salah satunya dengan mengumpulkan berita tentang orang-orang hebat, membaca biografi mereka lewat buku, silaturahim dan lain-lain.

Tip dan triksnya bermacam-macam :
◾Mengirimkan personal message
◾Telepon
◾Mengikuti seminar dengan pemateri orang-orang yang dituju
◾Mengikuti pameran/expo yang didatangi oleh orang-orang yang dituju
◾Ikut komunitas
◾Silaturahim langsung ke rumah

Teknisnya harus jadi ibu yang pede, tahu adab dan sopan santun bertamu, memiliki kemampuan mendengarkan yang dahsyat. Ini kunci suksesnya.

Sebaiknya 7 th ke atas dan paham adab. Kalau 7 th ke atas ternyata belum punya adab, tunggu sampai adabnya tumbuh, ini indikator utama.

#ODOPfor99days

#day113

#MatrikulasiBatch1

#InstitutIbuProfesional

#GoesToProfessionalMother

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s