Matrikulasi 6: Rizqi itu pasti kemuliaan harus dicari

Materi Matrikulasi Ibu Profesional Batch #1 Materi ke #6

[Bunda Produktif]

RIZQI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI

Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan”  dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanahNya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR” .  Sehingga muncul ghirah yang luar biasa dalam menjalani  hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati. Para Ibu di kelas Bunda Produktif  memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rizqi.

“Mungkin kita tidak tahu dimana rizqi kita, tapi rizqi akan tahu dimana kita berada. Sang Maha memberi  Rizqi sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”

Allah berjanji menjamin rizqi kita, maka melalaikan ketaatan padaNya, mengorbankan amanahNya,  demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar. Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah  bunda yang akan berikhtiar menjemput rizqi, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.

Semua pengalaman para Ibu Profesional di  Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah KEMULIAAN hidup.

Karena RIZQI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang.

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rizqi pada pekerjaan kita. Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rizqi yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rizqi itu urusanNya.

Seorang ibu yang produktif bekerja itu agar bisa menambah syukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Rizqi tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendakNya.

Bukankah Siti Hajar berlari tujuh kali bolak balik dari Shafa ke Marwa, tetapi zam-zam justru keluar dari kaki mungil Ismail?

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rizqi adalah Kejutan.

Rizqi adalah kejutan yang datangnya dari arah tak terduga,  untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rizqi hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya, kemudian ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “ Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni Wulandani/

http://www.ibuprofesional.com

—-TANYA JAWAB—-

  1. Diah Depok

Jadi sebaiknya kita mempraktekkan bunda sayang/cekatan dlm kehidupan sehari-hari dulu baru masuk ke ranah produktif ya?➡ Mbak Diah, namanya pijakan memang harus setahap demi setahap. Pijakan pertama yang kuat akan memudahkan langkah kita untuk naik ke pijakan berikutnya. Jadi Kuatkan dulu bunda sayang dan bunda cekatan ( kalau bunda sudah memiliki anak-anak), tapi kalau masih gadis atau belum punya anak pijakannya, bunda cekatan baru bunda sayang. Kejar ilmunya dan segera praktekkan, agar lebih memudahlan langkah kita ketika masuk ke bunda produktif. Bagaimana kalau kondisi memaksa kita untuk masuk ke ranah produktif terlebih dahulu. Bisa kita kerjakan secara paralel, namun perlu sebuah management waktu yang sangat bagus dan mengejar ilmu bunda sayang dan bunda cekatan dengan cepat, mengikatnya dengan amalan/praktek✅

  1. NiaNio-Depok

Bu Septi, saya mau curcol sekaligus tanya konkrit. Saya masih kerja di ranah publik karena masih biayai adek adik saya kuliah dan yang kedua masi kepikiran pembiayaan rumah (kpr). Ingin betul mantap meyakini bahwa rizki itu pasti…tapi logika manusia saya masih menggoda…takut gak kebayar kpr nya..masih panjang belasan tahun lagi hihihi. Bagaimana tips nya ya➡ Mbak Nia, khawatir akan kondisi sendiri saat ini boleh, tapi yang tidak boleh adalah mengkhawatirkan rizqi dari Allah. Karena itu janji Dia yang akan menjamin rizqi makhluk Nya, selama kita TAAT kepadaNya. Prinsip saya dan keluarga ketika menghadapi sebuah kekhawatiran/ketakutan adalah memakai prinsip di bawah ini : ‘How to conquer the fear?, FACE the fear’, bagaimana cara mengatasi ketakutan? hadapi ketakutan tersebut. Hadapi, susun strategi, apabila gagal, ubah strategi berikutnya. Karena There is NO FAILURE, only wrong result, so we have to change our strategy. ✅

  1. Laila – Aceh

Jika melaksanakan masing-masing pilar bertahap, dulu Bu Septi di tahun keberapa terjun ke pilar Bun produktif, butuh berapa lama “selesai dg diri sendiri” Apakah ibu ritme mempercepat/memperlambat dlm menjalani hari-hari menemukan misi diri?➡ Mbak laila, saya menikah tahun 1995, dari tahun 1995 – 2003 saya fokus di bunda sayang dan bunda cekatan. Sambil momong anak-anak. 2003-2008 saya masuk ranah bunda produktif, masih dalam proses menemukan kesejatian diri, belum tuntas selesai dengan diri saya, masih terus mencari, tapi sudah ketemu jalannya. Tinggal kemauan saya sendiri mau lebih cepat atau lebih lambat mencapainya. Sehingga yang penting adalah ketemu peran hidup, atur ritme kita sendiri, mau berapa lama sampai ke tujuan. Karena proses hidup yang saya pakai adalah : Menemukan peran hidup – Menemani anak menemukan peran hidup mereka – Membantu teman-teman lain untuk menemukan peran hidupnya. Tahap saya sekarang masuk di jalur yang ke 3, membantu teman-teman menemukan peran hidupnya. Setelah itu ? tidak tahu, menunggu surat cintaNya, apakah akan mendapatkan tugas baru lagi, atau justru dapat surat cinta untuk pulang berkumpul bersama dengan para kekasihNya , insya Allah.😍✅

  1. Shanty – Bandung

Kalau lihat materi yang bu Septi sampaikan tentang kelebihan menjadi ibu produktif seperti membuat hidup penuh makna, meningkatkan rasa percaya diri dan gairah hidup, bermanfaat buat orang banyak, sampai ke meningkatkan imunitas tubuh segala. Ini keren banget. Semua orang memerlukan hal ini untuk menjadi ibu yang bahagia. Tapi di bagian awal, bu septi mengatakan jangan dulu ke Bunda Produktif kalau Bunda Sayang dan Bunda Cekatannya belum beres. Apa tidak kontradiktif ya Bu? Karena pengalaman saya dulu yang sempat ‘hanya’ mengurus anak dan rumah tangga, tanpa memikirkan kebermanfaatan untuk orang lain rasanya memang kurang optimal dan stress sendiri. Rasanya lebih nyaman dengan saat ini yang bisa menyediakan waktu untuk yang lain juga selain urus anak dan rumah tangga. Walau memang waktu produktifnya hanya sekitar 1-2 jam sehari➡ Teh Shanty, kata “hanya” mengurus anak dan rumah tangga itulah yang mengurangi keihklasan kita untuk mencapai kebahagiaan sebuah proses. Tapi itu wajar dialami semua ibu, saya saja di tahun-tahun awal juga mengalaminya. Merasa tidak berguna kalau hanya ngurus anak dan rumah tangga saja. ternyata saya ketemu kuncinya :

  1. Saya belum menerima fitrah saya sebagai ibu, masih memikirkan ambisi pribadi, karena saat itu melihat teman-teman seangkatan sudah pada “keren-keren” bekerja di sebuah kantor/perusahaan. Ternyata definisi “keren” saya saat itu belum berubah, masih rata-rata pemahaman kebanyakan orang.
  2. Saya tidak memaknai hari-hari saya sebagai sebuah proses produktifitas.

akhirnya saya switch mindset saya dengan kalimat pak dodik sebagai penguat “bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan” Akhirnya saya buat jam kerja saya bersama anak-anak menjadi jam produktif. Tempat saya punya laboratorium untuk melangkah ke ranah produktif. Saya maknai kebersamaan bersama anak-anak saya menjadi kegiatan dinamis dan sangat menyenangkan. Akhirnya Allah memberikan jalan rizki yang tak terkira. Kebersamaan saya bersama anak 1 , diberi bonus usaha oleh Allah sebuah Jarimatika. Kebersamaan saya bersama anak no 2, menghasilkan abaca-baca, kebersamaan saya dengan anak no 3, menghasilkan Jari Qur’an. Setelah anak besar-besar, saya diberikan amanah School of Life Lebah Putih dan Ibu Profesional. Janji Allah pasti adanya…..tinggal bagaimana cara kita memaknainya✅

  1. Farda

Bu septi setiap orang punya masa krisisnya masing-masing, nah,,pada titik bagaimana ya kita bisa merasa merdeka, bebas dari ego, selesai dengan diri sendiri, dan yang terpenting terinspirasi dari orang lain tanpa merasa terintimidasi?➡ mbak farda, kalau pengalaman saya, saya merasa merdeka bebas dari ego, selesai dengan diri sendiri, justru setelah berhasil melewati masa krisis. Silakan diamati, biasanya masa krisis itu akan datang secara periodik dalam rumah tangga kita. Kalau dalam kehidupan pernikahan ada yang 3 th an, 5 th an, atau 7 th an, masing-masing berbeda, dan akan selalu ada. Kalau di anak-anak saya menamai dengan “masa badai”, hasil pengamatan saya ternyata anak-anak akan muncul masa badai di usia ganjil selama mereka berusia 0-15 th, setelah itu tenang, karena sudah aqil baligh. Ketika melihat kehebatan orang lain, di masa -masa krisis, maka kata ajaib saya adalah “menarik tapi tidak tertarik” agar kita tidak terintimidasi. Saya hanya akan mengatakan, sudah di KM berapa keluarga sukses tersebut? keluarga saya sedang di KM berapa? apakah perjalanan saya ON Track atau OFF Track? Semakin mendekat ke surga atau menjauh? Apa yang sudah baik yang sudah dilakukan keluarga tersebut? terinspirasi :apa satu hal yang bisa saya lakukan esok hari agar hidup saya berubah? tulis-kerjakan satu-satu.Pinjam istilah Renald Kasali, di change management mau lompat ke kurva s selanjutnya➡Istilah di keluarga kami “High Energy Ending”, berhenti saat mencapai puncak. Untuk mencari tantangan gunung berikutnya.✅

6. Zy

Bu Septi.. Sepertinya saya sedang mengalami “masa badai” Anak saya yang pertama usia 11 tahun mulai ga tentu arah belajarnya.. Ga seperti usia 10 thn kebawah. Semangatnya mulai kendur. Daya juangnya lemah. Mudah pesimis. Bgmn cara menyikapinya ya bu.. Saya koq jd bingung…Apakah di usia tersebut ada masa ‘pembangkangan’ atau apa bu? ➡ mbak zy wa’alaykumsalam, anak usia belasan memang kadang memberikan berbagai “challenge” ke orangtuanya. Ini normal. Karena masa pre aqil baligh akhir. Bagaimana cara kita menyikapi? jadilah sahabat mereka, yg senantiasa ada baik suka maupun duka. Hadirkan hati kita, perlebar telinga kita untuk mendengarkan, mulut agak direm untuk menasehati. Anak-anak usia ini sdg proses mencari jati diri, ibarat tanaman dari spora yg nempel ke induk tanaman, perlahan-perlahan melepaskan diri menjadi diaspora yg akhirnya akan jadi individu baru. Proses melepaskan diri ini pasti “sakit” maka kitalah yg harus menyesuaikan diri. Karena kita pernah menjadi seperti anak tersebut, sedangkan anak-anak kita belum pernah menjadi seperti kita. Maka jangan paksa mereka mengikuti kehendak kita, bukan sayang tapi justru bumerang yang akan balik ke diri kita✅

7. Ririn

Mau nanya Bu Septi, saya berencana mendaftarkan anak saya ke pesantren kilat Ramadhan selama tiga hari menginap. Karena anak pertama pernah bilang kalau sdh SMP mau masuk pesantren, jadi saya bertujuan tuk memperkenalkan dunia pesantren. Nah ternyata dia ga mau, tapi saya mau maksa aja 😁 itu gmn Bu, tetap ga boleh ya Bu?➡“tapi saya mau maksa aja 😁 “kata ini yang tidak boleh mbak, hehehe✅

#ODOPfor99days

#day111

#MatrikulasiBatch1

#InstitutIbuProfesional

#GoesToProfessionalMother

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s