NHW5: Learn how to learn

Learn how to learn adalah materi pembelajaran matrikulasi minggu kelima ini. Sebagai seorang ibu tentunya banyak hal yang harus dipelajari, kadang tak melulu soal anak tapi tetap ada kaitannya seperti mengenal proses belajar yang paling kita sukai. Kenapa proses ini penting? Karena dengan mengenal gaya belajar kita, kita akan dengan mudah mengenal gaya belajar anak.
Refleksi merupakan jalan terbaik mengetahui gaya belajar kita, beberapa pertanyaan bisa dijadikan modal menggali cara belajar kita, seperti pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apakah pengalaman anda tentang cara belajar?
2. Apakah anda senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
3. Mengetahui cara meringkas?
4. tanya diri kita sendiri tentang apa yang kita pelajari?
5. Apakah punya akses ke informasi dari banyak sumber?
6. menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
7. memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?
8. Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?
9. Bagaimana saya berkomunikasi untuk mendapatkan feedback system terhadap apa yang saya pelajari? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?

Jika mengingat belajar dimasa lalu, aku teringat dengan sosok alm.bapak karena beliaulah yang memberikan saran untuk belajar dengan cara membaca dan meringkas. Awalnya memang terasa jauh lebih lama dalam proses belajar, tapi dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan saja, proses seperti ini memang lebih nerap masuk ke kepala. Mungkin proses belajar seperti ini yang selama ini bapak pakai dan berhasil pada diri bapak. Entah sebenarnya bapak sadar kami memiliki gaya belajar yang sama atau tidak tapi belajar seperti ini berhasil untukku. Hampir semua buku-buku pelajaran isinya adalah ringkasan dari textbook. Biasanya aku meringkas dengan alur kebawah, dibuat per poin dan membutuhkan waktu cukup lama dalam mempelajari sesuatu. Sebelum ringkasan itu masuk kedalam buku dengan manis, aku membutuhkan banyak kertas-kertas bekas atau kertas buram untuk ngotret ini itu, mengumpulkan berbagai informasi untuk kemudian dipilah-pilah menjadi informasi utuh yang bisa dicerna olehku.

Aku susah konsentrasi dalam kondisi bising informasi. Untuk mencerna informasi aku membutuhkan banyak waktu untuk merangkai puzzle informasi dan itu harus dilakukan dalam keadaan sunyi. Adanya gangguan seperti lagu atau orang yang ngobrol bisa memecah konsentrasi dan itu akan menjadikan proses belajar menjadi tambah lama. Namun ketika informasi itu sudah bisa dikatakan paham, akan lebih paham lagi jika ada proses aktif disana seperti mendiskusikan atau mengajarkannya lagi. Jadi malam-pagi adalah waktu yang pas buat belajar.
Alm.bapak bukanlah seorang yang hobi baca, sekali saja beliau membaca lalu buku itu disimpan tak pernah dibaca-baca lagi. Kebiasaan itu juga ternyata sama sepertiku, namun bapak selalu ingin anak-anaknya punya hobi baca. Mungkin bapak pun paham walaupun membaca adalah jembatan ilmu tapi tetap ngga bisa dijadikan hobi buat bapak. Akhirnya anak-anaknya bapak inilah yang diminta punya hobi baca. Sebagai anak-anak yang punya konsep hidup untuk bersenang-senang dan bersenang-senang untuk hidup, membaca pun harus senang, harus yang seru-seru aja. Buku non textbook yang bapak belikan adalah buku ensiklopedi, itu termasuk buku seru menurutku, buku seru lainnya adalah buku cerita dan komik punya temen. Kalau bacaannya seru, bisa bablas ngga ngapa-ngapain hanya untuk menamatkan 1 buku. Aku tidak bisa bilang punya hobi baca karena semenariknya membaca buku tetap ngga bisa detail untuk isi cerita, kadang butuh pengulangan 2-3 kali balikan baru bisa nempel. Mungkin karena ketika baca yang terjadi hanyalah proses visual saja, hanya melibatkan 1 anggota tubuh untuk belajar. Menurut Edgar Dale, seorang pendidik dari Amerika, kita hanya mampu mengingat 10% dari apa yang kita baca. Jika kita mendengar, kemampuan daya ingat kita meningkat menjadi 20%. Melihat demo akan meningkatkan kemampuan daya ingat hingga 50%. Ini semua termasuk dalam cara belajar pasif.
Dalam Cone of Learning terlihat bahwa kemampuan belajar meningkat seiring dengan banyaknya anggota tubuh yang digunakan untuk belajar.

Kondisi membaca yang cepat luntur ini ternyata jika ditarik ke ranah pelajaran sekolah baru bisa lebih efektif setelah diskusi atau saling bantu mengajarkannya kembali, sesuai seperti hasil penelitian om Edgar diatas, proses belajar aktif. Dari semua pelajaran sekolah, pelajaran kesukaanku adalah sejarah dan geografi. Mendengarkan guru bercerita, banyak berdiskusi dan presentasi menjadi salah satu poin senang belajar, karena dari situ aku tahu bahwa ternyata proses belajar seperti ini yang cocok untukku.
Kebiasaanku meringkas kemudian berubah, tetap meringkas per poin di buku tapi juga memiliki catatan kecil berupa mind map dengan aneka warna. Hal ini cukup berhasil mengingat banyaknya hal yang harus dihafalkan ketika sekolah dulu. Dari semua sistem penilaian yang dilakukan kebanyakan berupa ujian tertulis. Aku tidak pernah mengalami masalah dengan ujian tertulis, namun hal yang paling aku suka adalah jika bisa menjelaskan dengan gamblang baik dengan tulisan ataupun dengan diskusi.
Kalau bisa dibilang salah jurusan, ya memang benar aku adalah korban salah jurusan, mengisi jurusan UMPTN di detik-detik terakhir pengembalian formulir. Awal-awal memang terasa berat, tapi setelah dijalani ternyata ada juga hikmahnya, aku bisa banyak belajar menjadi fasilitator, bertemu banyak orang, berdiskusi dan mencoba banyak hal. Pada akhirnya aku paham bahwa ternyata kegemaranku adalah ngobrol dan diskusi bisa menjadi cara belajar yang menyenangkan untukku.
Bisa dibilang semenjak menikah keinginanku untuk kuliah sudah pupus. Efek salah jurusan ini berakibat galau memilih jurusan yang pas untuk jenjang S2 apalagi S3. Berkali-kali berfikir untuk mengambil kursus demi meningkatkan skill tapi juga belum dirasa pas. Memilih ulang dan mencari-cari jurusan juga semakin meyakinkanku bahwa jalanku mengaktualisasi diri bukan dari ranah formal, walau terkadang ada saja rasa iri ketika melihat pencapaian akademis teman-teman yang konsisten di bidangnya sejak S1 dulu.
Sepertinya kegalauan semacam ini memang umum menghinggapi ibu-ibu muda semacam aku, sehingga dalam matrikulasi minggu kelima ini muncul istilah ‘mengambil mata pelajaran dalam universitas kehidupan’. Jika universitas baik negeri maupun swasta mengambil bayaran untuk mahasiswanya, universitas kehidupan mempersilahkan kita untuk bebas memilih jurusannya, mau berapa SKS, mau berapa IPK-nya, mau lulus dalam berapa lama, mau didosennin sama siapa, mau ujian kapan, mau belajar dengan cara bagaimana, semuanya bebas.
Aku memahami bahwa tugasku saat ini adalah sebagai konselor intern keluarga. Menemani anak-anak bertumbuh, bermain dan belajar bersama. Pada awalnya mengambil ‘kuliah’ dengan jurusan tumbuh kembang anak menjadi pilihan diawal-awal menjadi ibu namun kemudian bergeser menjadi jurusan keluarga dan anak. Ada kenyamanan ketika mengambil tema ini, selain karena rasa nyaman setelah berkeluarga, pengabdian seorang wanita adalah keluarga.
Tidak dipungkiri banyak hal yang menggoda untuk dipelajari, turunan-turunan dari jurusan keluarga dan anak yang bila tak dikuatkan dulu pondasinya bisa bersifat korosif. Berusaha belajar 8 jam setiap harinya, dengan membuat catatan portofolio anak, belajar 1 topik per minggu seputar ilmu pengasuhan dan pengembangan diri. Terus terang ini berat, menjalani hari-hari yang masih sering ditinggal suami dinas sangat berpengaruh terutama dalam mengontrol emosi. Walaupun teknologi sudah canggih, berkomunikasi bisa lewat telepon/ sms/ WA namun tetap saja ada ruang kosong yang hanya bisa dipenuhi jika keluarga berkumpul bersama. Tak bisa dibilang sehat memang, namun kenyataannya demikian. Jika boleh jujur setahun ini hanya efektif 4 jam/hari untuk mempelajari ilmu-ilmu seputar anak dan keluarga. Sementara jika sudah tak kondisif membersamai anak-anak, aku memilih mengasingkan diri dengan menulis. Menulis mempunyai nilai ganda untukku, selain untuk penyaluran emosi juga bisa kulakukan untuk memperkuat ilmu-ilmu yang telah kudapatkan. Dari mulai menulis di buku, kotretan, file words, sampai yang di publish di facebook atau blog. Sempat juga mengalami fase futur dalam menulis karena merasa menulis ini bukan aku banget, namun seiring waktu kemudian menulis dijadikan salah satu sarana mengasah kemampuan juga.

Dalam kenyataannya tidak semua hal yang dipelajari berjalan mulus, segala urusan domestik dan mengurus anak serta suami setiap harinya berkembang dan seringkali menyita waktu untuk mengembangkan diri. Bukan sebuah keluhan, namun tetap harus ada jadwal khusus untuk belajar. Menyarikan, adalah hal yang membutuhkan lebih banyak waktu daripada hanya sekedar collecting information. Aku mulai menggunakan waktu setelah anak-anak tidur untuk mengerjakannya sebagai gambaran profesionalisme seorang fasilitator keluarga. Menyarikan dan menuliskan portofolio anak-anak adalah proyek terbesarku saat ini. Secara tak langsung hasil pengamatan, diskusi serta membaca anak juga bisa dijadikan bahan untuk mengenali gaya belajar anak serta mengetahui passion anak.

Great bunda for great team
Belajar menjadi kebutuhan yang mutlak untuk terus bisa bertumbuh bersama anak-anak dan suami. Membangun keluarga tak hanya seperti air mengalir, karena ikan mati pun bisa mengalir di sungai. Menjelajahi universitas kehidupan dengan predikat sebagai ibu membuka banyak hal yang bisa dipalajari, baik dari buku, internet, diskusi bebas, podcast dan sebagainya. Banyaknya hal yang bertebaran seputar keluarga dan anak-anak mau tak mau membuat kita jadi harus bijak menerapkannya pada keluarga, karena apa yang cocok untuk keluarga lain belum tentu cocok untuk keluarga sendiri. “Bahagia bertumbuh bersama keluarga” adalah prinsipnya, harus nyaman dan seimbang bagi seluruh anggota keluarga. Beberapa kali aku harus diam sejenak, mengatur nafas dan membenarkan posisi layar mendukung suami yang berperan penuh dalam penentuan arah kemudi. Bersinergi dengan para pelayar lainnya untuk saling menguatkan menghadapi badai di kapalnya masing-masing. Menjalin komunikasi dan saling berbagi dengan para ibu baik online maupun offline merupakan jalan menghimpun kekuatan menuju keluarga tangguh.
Dari semua hal yang sudah dialami dan dipelajari membuatku jadi banyak bersyukur bahwa ketika aku dihadapkan dengan kegalauan akan kekeringan ilmu karena banyak bertapa dirumah saja, Allah membukakan jalan lain. Jalan belajar bersama ibu-ibu pembelajar, belajar tanpa harus meninggalkan keluarga dan belajar yang memang dibutuhkan oleh seorang ibu untuk keluarganya.
Bahagia menjadi ibu, bahagia bertumbuh bersama keluarga.
Karena great bunda for great team

#ODOPfor99days

#day110

#MatrikulasiBatch1

#InstitutIbuProfesional

#GoesToProfessionalMother

Advertisements

One thought on “NHW5: Learn how to learn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s