Mini Portofolio Qaireen

Namanya Qaireen Nazura Sheena, cukup lama kami menggodog nama untuk putri pertama kami ini, dan Alhamdulillah tetap bisa launching di hari H kelahirannya.

Qaireen berasal dari kata khairun yang berarti baik dalam bahasa Arab. Masih dalam bahasa yang sama Nazura kami sematkan agar Qai menjadi pemimpin yang di hormati. Sedangkan Sheena berasal dari bahasa Hebrew yang berarti rizki atau anugerah. Kurang lebih peran untuknya sudah kami lafazkan dalam namanya, menjadi pemimpin yang baik dan dihormati serta menjadi anugerah tersendiri bagi orang-orang yang mengenalnya. Terlepas dari bidang apa yang akan ditekuni nanti, tugas kami membersamainya mengoptimalkan potensi terkuatnya.

01012010300
Qai pas lahir

Ada beberapa aspek fitrah yang kami amati dan tumbuhkan pada Qai, yaitu:

  1. Fitrah keimanan

Semenjak dalam kandungan hingga kini Qai sudah diperkenalkan dengan ritual ibadah seperti sholat, shaum juga mengaji dan mengikuti beberapa kajian. Setelah lahir pengenalan Rabbnya dengan membacakan cerita tentang kebesaran Allah melalui cerita para nabi dan juga cerita-cerita sepanjang jalan. Ketika dijalan bertemu kucing, Qai belajar bahwa kucing itu ciptaan Allah, ketika melihat hujan Qai belajar bahwa tak hanya makhluk hidup saja yang diciptakan Allah, melainkan seluruh bumi dan isinya. Mengajarinya adab dan doa-doa sederhana dan semua dilakukan dengan gembira.

2011-09-03 15.37.54
ikut-ikutan sholat
  1. Fitrah belajar

Sebelum mengenal konsep belajar untuk anak berusia 0-7 tahun, Qai pernah mencicipi metode glenn doman menggunakan flash card. Flash card bikinan sendiri dan akhirnya Allah memberikan hidayah-Nya dengan memberikan rasa tak nyaman saat melakukannya. Ada rasa salah dan tak tepat ketika mengajukan flash card didepan Qai. Lalu kemudian aku membebaskan diri dari semua metode belajar. Aku banyak membacakan buku, menarik kesimpulan dengan tetap bercerita. Pada awalnya aku membacakan gambar lalu membuat banyak gambar tokoh-tokoh di buku. Kemudian setelah Qai lebih besar aku mulai menggabungkan antara membaca tulisan dengan membaca gambar. Menempelkan banyak kertas berwarna didinding dan langit-langit kamar. Membuat mural di ruang keluarga dengan berbagai warna. Membiarkan Qai bermain tanah, pasir, air, rumput, batu. Mengamati ketika orang-orang bekerja, bermain ke sawah, bermain ke kandang sapi, melihat proses pembuatan tahu, dan berbagai proyek kunjungan serta wawancara lainnya. Dilain waktu membuat berbagai kerajinan dan gambar-gambar. Qai memang anak yang cukup dini dimasukkan ke sekolah, Qai cukup mandiri diusianya yang ke 2 tahun. Sebagai orangtua baru memang ada berbagai kontroversi mengenai memasukkan anak ke sekolah terlalu dini. Pertimbangan kami kala itu hanya mencarikan teman untuk Qai, karena di lingkungan rumah jarang sekali ada anak yang bisa diajak bermain. Qai adalah anak yang cerdas, mudah bersosialisasi dan berbaur. Sekolah Qai tidak mengajarkan calistung dan lebih banyak bermain, komunikasi antara pihak sekolah dan orangtua cukup intens. Menginjak usianya 6,5 tahun Qai mulai menunjukkan peka bacanya, Qai jadi sering membacakan cerita kepada adiknya.

  1. Fitrah bakat

Dari semua kegiatan yang Qai lakukan, menggambar dan jalan-jalan adalah kegemaran Qai. Biasanya ketika malamnya dia minta aku cerita, keesokan harinya dia tuangkan dalam gambarnya. Kini pun Qai masih suka menggambar namun tak terlalu intens, Qai lebih menunjukkan kesenangannya menggambar untuk berbagi. Qai berkembang menjadi sosok yang penuh ide dan senang berbagi. Qai adalah anak yang pertama kali membagi-bagikan hasil gambarnya menjadi hadiah untuk teman-temannya. Gambar sederhana dengan tulisan ‘Happy Defa’ atau ‘Happy Annisa’ sesuai dengan nama teman-temannya. Qai adalah anak yang senang berteman dan berbagi kebahagiaan. Dia biasa anteng bikin hadiah-hadiah ini dan benar-benar mempersiapkannya sendiri tanpa minta bantuanku atau ayahnya. Biasanya Qai hanya nanya kertas ngambil dimana, bahkan Qai tak perduli sekalipun itu kertas bekas, dia hanya ingin berbagi. Rasa ingin berbagi ini ditunjukkan Qai jauh sebelumnya, diusianya yang ke 2,5 tahun Qai pernah mempunyai cita-cita membelikan ayah, bunda, mamah eyang, papah eyang, yangti dan yangkungnya mobil masing-masing. Bahkan ketika berusia 3 tahun, Qai bilang mau punya adik 4 supaya 1 adik untuknya, 1 adik buat bundanya, 1 adik buat ayahnya dan 1 adik buat gurunya.

Qai anak yang bisa menyenangkan tak hanya teman-temannya, tapi juga kami sebagai orangtuanya. Qai sering sekali menulis ‘happy ayah’ atau ‘happy bunda’ juga ‘happy rayi’ untuk adiknya dan menggambarkan kami sebagai keluarga yang ‘happy family’ dalam gambarnya.

Selain berbagi Qai menunjukkan bakat analisanya, biasanya kami pancing dengan diskusi sederhana ketika di rumah atau dijalan. Qai mulai belajar menganalisa menebak pimpinan proyek pergantian trafo, menganalisa kenapa terjadi kemacetan dan sebagainya. Tapi kalau ditanya Qai mau jadi apa nantinya? Qai bilang mau jadi penyanyi ^^

  1. Fitrah perkembangan, meliputi 3B alias brain, body dan behaviour

Selama masa kehamilan Qai, pernah ada indikasi medis yang dapat menyebabkan keguguran, Alhamdulillah Qai lahir cukup minggu dengan berat 3,2 kg dan panjang 51cm melalui proses kelahiran normal di rumah bersalin Rahmawati, Arcamanik Bandung. Perkembangan Qai sangat baik, tak ada penyakit parah yang dialami hingga kini usianya 6,5 tahun.

Secara body, Qai anak yang cukup berisi, anaknya kuat dan jarang sakit. Motorik halus Qai berkembang bagus, kemampuannya dalam menggambar dan menulis cukup memuaskan. Perkembangan motorik kasarnya lebih lambat dari anak-anak kebanyakan. Dan menurut dokter Qai memang mengalami sedikit kelemahan otot dan sedikit flat feet. Akibat motorik kasarnya yang kurang pas, Qai menjadi anak yang sulit fokus. Qai sempet terapi berenang beberapa bulan, namun terhenti karena mamasuki musim hujan, Insya Allah akan mulai lagi selepas Syawal. Kemampuan bahasanya murudul diusia 2,5 tahun, kosakatanya berkembang pesat dan hingga kini banyak menanyakan arti dari kata-kata baru yang ia temui.

Qai adalah anak yang cerdas, mudah bersosialisasi dan berbaur. Dalam berteman Qai tak suka ribut, dia anak yang sangat menghindari konflik. Biasanya Qai yang merangkul teman-temannya untuk main bersama, kadang berhasil kadang pulang sekolah dengan curhatan panjang kepada aku atau ayahnya. Qai selalu menaruh perhatian pada teman-temannya yang menurutnya berperilaku ngga asik, Qai akan bertanya dan berdiskusi panjang mengenai kenapa teman-temannya begini dan begitu. Biasanya jika sudah mulai obrolan yang aga berat untuk anak seumurnya ini aku mulai dari pertanyaan ‘menurut kakak kenapa?’ ‘bagaimana jika…’ dan kemudian kami bisa diskusi panjang. Dalam menghadapi sikap teman-temannya yang ngga asik ini Qai bisa bete lama banget, termasuk hal-hal lain yang membuatnya tak nyaman. Biasanya kami terima dulu perasaannya dengan wajar dan memberinya masukan dengan santai. Pengalaman kami yang mengapresiasi perasaannya dengan berlebihan malah membuat Qai semakin lebay. Alhasil setelah konsultasi dengan psikolognya Qai termasuk anak yang senang dengan perhatian, maka penting penerimaan perasaannya dan menanggapinya dengan santai.

Perangainya halus dan lembut, namun didalamnya sifatnya keras. Jika tak mau mengerjakan sesuatu dia bisa mogok ngomong dan menunjukkan penolakan. Banyak hal yang baru kami pelajari baru-baru ini, termasuk dengan membahasakan perasaan. Qai kurang terbiasa menamai perasaannya sehingga kadang kamipun bingung dengan emosi yang muncul. Namun ketika ia melihatku sedih, ia tak segan memeluk menunjukkan empatinya. Aku mulai melatihkan menamai perasaan kepada Rayi, adiknya dan mulai menerapkan pola yang sama dengan Qai. Sejauh ini belum terlihat perubahan yang signifikan.

Qai adalah anak yang penuh ide, idenya yang paling baru adalah membuat baju kembaran untuk semua keluarga. Saat ini Qai masih mencari model baju sambil menimang-nimang jenis kain apa yang akan dipakai. Beberapa kali mempunyai ide mendekor kamarnya sendiri namun belum juga terlaksana.

Untuk urusan tanggung jawab dan disiplin Qai masih dalam tahapan mulai terlihat, dari beberapa kesepakatan yang telah dibikin antara kami selaku orangtuanya dan Qai beberapa kali masih ada hal-hal yang harus diingatkan kembali.

Qai kecil mempunyai cita-cita yang banyak, seperti menjadi dokter, menjadi polisi, bahkan kini menjadi penyanyi. Terlepas dari akan menjadi apa nantinya kelak, aku dan suami sepakat menamai anak-anak dengan nama harapan sebagai pemimpin(khalifah). Pendidikan aqil baligh merupakan pendidikan untuk menyiapkan antara aqil dan balighnya anak datang bersamaan. Poin penting dalam pendidikan aqil baligh adalah kematangan fisik, mental dan akal yang seimbang. Fisik yang kuat, mental tangguh dan fleksibel serta akal yang cemerlang. Perlu ada komunikasi antara pihak keluarga dan sekolah dalam menyiapkan kurikulum untuk Qai, pedoman keluarga kami adalah menjunjung nilai Islam, berjiwa leaderpreneur dan berkembang sesuai dengan bakatnya.

  • Fisik: tidak bisa dipungkiri bahwa dengan badannya yang bongsor Qai bisa jadi mengalami kematangan fisik lebih dulu daripada anak seusianya. Kami mulai meniadakan makanan cepat saji yang biasanya mengguanakan hormon pertumbuhan pada ayam-ayam yang disajikan direstoran tersebut. Meniadakan msg dirumah dan menggantinya dengan makanan kaya bumbu. Mengatur pola makan Qai sehingga perkembangan badannya proporsional. Merutinkan berenang untuk penguatan daya tahan tubuh untuk melatih kemampuan kotorik kasar dan fokusnya.
  • Mental: untuk urusan ini Qai masih harus banyak berlatih. Kebiasaannya diperhatikan kadang menuntutnya untuk cepat meminta bantuan orang lain dalam mengerjakan tugasnya. Selaku orangtuanya kami biasanya mendorongnya dengan membuatnya nyaman mengerjakan sendiri serta memberi apresiasi atas usahanya. Sepulang sekolah kami biasakan untuk berbagi cerita seperti bercerita didepan umum, dalam hal ini aku, ayahnya dan Rayi adiknya tentang pengalamannya disekolah. Qai berlatih mengatasi rasa gugupnya dan semakin berani tampil dan mengungkapkan kesehariannya. Qai termasuk anak yang kurang siap dengan penolakan, dia bisa bete seharian kalau perasaannya sedang kacau. Banyak berdiskusi dan menerima perasaannya sedikit banyak membantunya untuk tidak merasa sendiri, bahwa kami ada untuknya. Untuk urusan tolak menolak ini sedikit banyak ada kaitannya dengan urusan perniagaan. Untukku pribadi ini merupakan PR, karena aku tak dibiasakan berniaga sejak kecil, akibatnya jadi malu menawarkan, takut ditolak dan sebagainya. Untuk itu kami mencarikan partner sekolah yang sevisi dengan keluarga kami, bagi kami sekolahan tempat Qai menimba ilmu haruslah sekolah yang juga mengedepankan konsep aqil-baligh dan pro terhadap bakat anak. Sekolah yang tak hanya mengedepankan konsep Islam namun juga menempa mental leaderpreneur sebagai salah satu modal dasar aqil balighnya, bisa mencari penghidupan mandiri.
  • Akal: Qai termasuk anak yang cerdas, beberapa kali diskusi bisa terjadi saat dirumah juga saat dalam perjalanan. Diskusi ini tak berlangsung secara terjadwal, maka kami berencana 2 minggu sekali membuat proyek keluarga dengan anak-anak bergantian menjadi pimpinan proyeknya. Kecemasannya cukup tinggi sehingga tekanan sedikit bisa membuatnya blank, kami membantunya untuk lebih terarah, terjadwal dan terencana, sehingga tak harus cepat, tapi tepat seperti saat menyiapkan keperluan sekolahnya ataupun ketika sedang bermain tangram.

 

#ODOPfor99days

#day104

#GoesToProfessionalMother

Advertisements

One thought on “Mini Portofolio Qaireen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s