Matrikulasi 3.2: Kembali ke Fitrah

PENGANTAR NICE HOMEWORK #3 part 2

Bunda, pekan ini kita belum berganti materi. Kalau Bunda lihat kembali Nice Homework #3 , di awal tertulis huruf romawi  I. Membuat Kurikulum yang “Gue banget”. Artinya masih ada romawi II. Yang artinya “to be continued….

Dan apakah itu? Mari kita simak pengantar NHW#3 part 2 berikut ini :
KEMBALI KE FITRAH

Pekan ini adalah pekan yang spesial, karena inilah detik-detik terakhir kita untuk memasuki bulan Tarbiyah, yang langsung dipandu oleh Sang Maha Pemberi Ilmu yang akan menuntun kita semua untuk kembali ke fitrah.

Seringkali di akhir Ramadhan dan memasuki awal bulan Syawal kalimat “Selamat kembali ke fitrah” menjadi kalimat favorit  yang muncul mengiringi ucapan selamat hari raya Idul Fitri kita.
Apakah tahun ini kita akan mengucapkannya kembali tanpa makna?

Tentu saja TIDAK.

Kalau pekan kemarin kita sudah berusaha seoptimal mungkin untuk menemukan makna kehadiran kita di dunia ini. Ini syarat ilmu utama untuk masuk ke tahapan ilmu berikutnya.Maka berusahalah untuk mengamalkannya.

Pekan ini kita akan mulai belajar, bagaimana memandu anak-anak menuju kesejatian fitrahnya.

“KEMBALI KE FITRAH” bermakna mengembalikan anak-anak kita pada kebahagiaannya, membantu menemukan makna kehadiran anak-anak di muka bumi ini.

Segera petakanlah fitrah anak-anak, kemudian rancanglah pendidikan sejati yang sesuai dengan fitrah mereka.

Pandulah perjalanan setiap fitrah tersebut, agar anak-anak bisa selamat dan bahagia sampai Aqil balighnya nanti.
Kerusakan generasi hari ini adalah karena fitrah fitrah tidak didik secara menyeluruh sehingga peran dan tanggungjawab tidak muncul ketika anak mencapai baligh. Inilah mengapa baligh dan aqil akhirnya tiba tidak satu paket.

Bagaimana caranya?

Buatlah buku untuk masing-masing anak, ini adalah sejarah untuk mereka. Di dalam buku tersebut berisi pengamatan Bunda selama ini.
a. Apa saja keunikan yang dimiliki anak-anak?
b. Kegiatan-kegiatan apa saja yang membuat mata mereka berbinar-binar?
c. Prioritas ‘materi kehidupan apa saja” yang akan anda berikan ke masing-masing anak secara bertahap?
d. Fitrah-fitrah apa saja yang akan anda perkuat untuk anak-anak secara bertahap?
e. Dll (masing-masing keluarga bisa berbeda kebutuhannya)

Setelah itu kita akan membuat  NHW#3 part 2

MEMBUAT KURIKULUM YANG “ANAK-ANAK GUE BANGET”

❔Andita:
Anak HPL nya 24 Juni..bagaimana cara saya mengerjakan NHW bu? apakah saya buat juga dengan kondsi dia yang masih baby/bagaimana bu? :)➡ Persiapkan saja kerangka draft yang akan Andita isi saat ananda nanti lahir. Sehingga Andita akan menjadi Ibu yang siap lahir batin insya Allah.

❔Indria-Bekasi:
Assalamualaikum mau bertanya bu Septi, apa buku untuk anak ini berisi kegiatan harian sampai kegiatan tahunan mereka juga? Yang ingin kita lakukan sebagai keluarga,
Terimakasih➡ Wa’alaykumsalam mbak Indria, Bukan kegiatan harian mbak, tapi isinya adalah seputar perkembangan anak-anak kita, seperti Diary kita untuk masing-masing anak. Katanya kita ini pendidik utama dan pertama, tapi kadang catatan masing-masing anak saja kadang kita tidak punya, apalagi “personalized curriculum” mereka. Sekarang kita belajar melakukannya dengan bertanggung jawab. ✅

❔Nia: Selain berbinar atau tidak..apa clue yang paling bisa kita lihat dari anak apabila kerangka yang kita buat ternyata tidak cocok pada anak?➡  Ciri lainnya adalah munculnya internal motivation. Nggak perlu disuruh untuk belajar hal tersebut, anak-anak sudah pro aktif memulainya. Kemudian lihat karya-karyanya, biasanya makin produktif anak-anak ini kalau sudah menemukan jalannya.✅

❔Eka Ratnawati-Bogor: Assalamualaikum,
Bu Septi, putra putri saya berumur 14 dan 15 tahun, apakah tidak terlambat untuk mulai memberikan perubahan dalam keluarga ? Sesuai dengan fitrah anak seperti dalam tabel bu septi …saya langsung loncat ke usia 14-21 tahun ? Apakah tidak terlambat juga dalam menerapkan kurikulum yang “anak-anak gue banget” ? Apakah faktor lingkungan yg saat ini sdh terbentuk akan berpengaruh pada pola pikir mereka  kedepannya jika menerapkan pola kurikulum gue banget ?
Sejauh ini ana-anak sudah mandiri, komunikasi kami bagus, namun kadang ada kekhawatiran kami untuk masa depannya.➡ Wa’alaykumsalam bu Eka, sekali lagi tidak ada kata terlambat bunda, yang ada hanyalah kita terbelenggu di ruang waktu, tidak pernah beranjak untuk memulai. Ketika Bunda sudah melompat ke tahap 14-21 th, perlu diamati, hal-hal apa saja yang seharusnya kemampuan tersebut dimiliki anak saat mereka berusia di bawah 14 th, tetapi sampai saat ini belum terlihat. kalau ada tambahkah terlebih dahulu, latihkan, daripada saat mereka berkeluarga nanti kita baru tahu, sudah akan makin sulit kita berkontribusi. Dikuatkan DOA saja kalau sudah sampai tahap ini✅

❔Ambi: Bu untuk kurikulum anak ini apakah dibuat jangka panjang juga seperti kurikulum yang dibuat untuk diri sendiri kemarin?atau boleh kita buat smpe usia 5thun saja atau bagaimana bu? mengingat saya saat ini masih berusaha mengenali potensi anak saya yg masih berusia 2tahun.
Jadi untuk fitrah bakatnya saya masih meraba2..
Saat ini saya sudah buat diary dan kurikulum tapi masih pada fitrah tauhid saja dan masih sampe usia 2,5 th..➡ Mbak Ambi, saat ini belum ada ketentuan, karena para Bunda sedang tahap belajar di awal, maka kerjakan semampu yang bisa kita praktekkan terlebih dahulu, kalau bisa itu BAIK. Apabila sudah bisa lengkap selama jangka waktu 5 tahunan dst, itu HEBAT 🙂

Untuk Fitrah, kalau baru sampai fitrah tauhid saja, tetapi detail dan dalam, kemudian bisa dilaksanakan dengan baik, itu akan jauh lebih baik, dibandingkan mereka yang menulis lengkap tapi tidak dikerjakan sama sekali.✅

❔Rindu – Cianjur: Bu anak saya 31 bulan hal yang paling berbinar-binar yang pernah saya liat saat ini adalah saat dia nonton video (matanya sangat berbinar-binar kalau waktunya nonton video). Di rumah kami TV sudah off, nonton video di laptop hari Sabtu dan Minggu saja. Kalau saya amati dia memang tipe audiovisual. Info yang pernah saya dapat bahwa anak dibawah 3 tahun kan lebih baik belum terpapar gadget. Bagaimana mengarahkannya ya?➡ Teh Rindu, anak dengan tipe audiovisual biasanya memang sangat menyukai sesuatu yang langsung bisa didengar dan dilihat. Betul saya setuju anak usia 2-7 th sebaiknya tidak didekatkan dengan berbagai gadget. Maka yang saya lakukan dulu adalah “Bermain Bersama di Alam” bukankah suara alam dan video yang Allah buat untuk kita jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan video yang dibuat manusia?✅

❔Evi: Alhamdulillah, setelah masuk IIP saya banyak sekali pencerahan.  Saya sudah mulai membuat agenda aktivitas anak anak selama sepekan . Dengan melihat fitrah iman, belajar, dan bakat.  Insya Allah buku anak anak sedang dipersiapkan seperti yang ibu jelaskan poin poin nya. Yg mau saya tanyakan,  anak saya yang pertama akan masuk TK bulan depan. Apa yg perlu saya perhatikan dan kombinasikan untuk home edukasi nya? Terima kasih bu➡ Bunda Evi, Alhamdulillah senang saya kalau ada banyak perubahan di diri Bunda dan keluarga, khususnya anak-anak. Selamat melanjutkan buku untuk anak-anak tersebut, yang memang “Anak-anak kita banget”. Anak yang akan masuk TK perlu bunda amati ?
a. Apakah sudah ada sekolah yang disurvey dan sesuai dengan ‘Value Keluarga kita? kalau belum surveylah saat jam belajar.
b. Apakah dengan dimasukkannya anak-anak ini ke sekolah, fitrah-fitrah yang sudah kita mulai dari rumah akan berkembang baik atau justru sebaliknya.
c. Apabila keputusannya dalah sekolah, maka kitalah yang harus mengajukan kerjasama dengan kepala sekolahnya, jangan justru terbalik, kita yang diminta bekerja sama oleh Kepala Sekolah.✅

❔ Zy-Depok:
Bu Septi.. Kalau saya belum pernah membuat buku perkembangan/personalized curriculum untuk anak-anak, artinya saya harus kembali ke KM0 ya?
Trus saya pernah dengar kata-kata bu Elly Risman bahwa jangan pernah delegasikan fitrah keimanan anak kpd pihak lain. Sementara saya mendukung suami yang orientasi mendidik anak-anak dengan kekuatan imannya. Tapi kami sebagai orangtua merasa kurang mampu dalam hal ini. Mohon dibantu untuk pencerahannya. Terimakasih➡ Mbak Zy, kalau ternyata peran dan misi hidup mbak Zy, adalah di ranah pendidikan anak dan keluarga, maka tidak perlu kembali ke KM 0, toh mbak Zy udah memulai belajar dari dulu.

Kalau untuk tahapan dalam mendidik anak-anak, maka bisa jadi ini KM 0 bagi konsep pendidikan anak-anak di rumah dengan bersungguh-sungguh. Karena selama ini yang kita jalankan asal mengalir saja.✅

Saya setuju bahwa pendidikan fitrah keimanan tidak bisa didelegasikan ke pihak lain. Kalau kita merasa kurang, maka itu tandanya kita harus Belajar di ranah tersebut. Karena ini menjadi materi wajib bagi modal kehidupan anak-anak✅

❔ Lendy-Bandung: 
Bu Septi, saya selama ini masih bingung kalau ternyata bakat anak offtrack dari core value.

Apakah diarahkan ke yang lain, Bu..?
Misalnya : bermain musik.
Dalam Islam haram kan yaa, Bu..?
Atau menggambar objek ciptaan Allah, seperti menggambar orang.➡ Teh Lendy, kalau kita melihat apa yang dipelajari anak-anak OFF Track dari Core value Keluarga, maka mengubahnya harus dengan bertahap. Misal anak senang musik, tunjukkan para ahli musik di dunia ini yang keahliannya membuatnya makin TAAT sama Allah. Musik macam apakah yang ditekuninya?. kemudian menggambar, cari juga orang-orang yang dengan keahlian menggambarnya ini membuatnya makin TAAT sama Allah, seperti apakah ciri-cirinya. Kemudian ajak anak berpikir, sebaiknya apa yang akan dilakukan dengan hobi ini, agar Allah dan Rasulnya tidak murka?✅

#ODOPfor99days

#MatrikulasiBatch1

#day103

#InstitutIbuProfesional

#GoesToProfessionalMother

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s