Surat Cinta untuk Suamiku

Pertangahan 1999…

Masjid itu kosong, Uput liat Akang sendiri dipelataran masjid, khusyu sekali membaca buku. Kita belum berkenalan, tapi Uput tau Akang adalah lelaki yang baik, lelaki yang sayang pada keluarga, bertanggungjawab, punya prinsip dan pendirian, lelaki yang berbeda namun tetap luwes.

Akang memandang Uput kala itu dan tersenyum, bibit cinta itu tertanam tak terasa…

Sayang ingat saat kita bertemu untuk pertama kalinya? Mungkin hanya sekedar intuisi saja kala itu, tak bisa dijadikan alat ukur yang tepat, tapi  Uput tau itu tepat, itu terbukti dalam tahun-tahun kehidupan kita. Sebuah intuisi yang tak pernah diperkuat oleh kata-kata, tapi ditunjukkan oleh perbuatan dan diarasakan oleh hati.

Perjalanan cinta memang kita jauh jika dibandingkan dengan cinta Rasul pada Khadijah, atau mendekati cinta yang hanya taaruf sebentar lalu kemudian menikah. Kita melalui perjalanan panjang sebelum memutuskan untuk menikah hampir 8 tahun lalu. Bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal, tapi bertumbuh bersama Akang itu pelajaran dan pengalaman paling menyenangkan buat Uput.

Allah terlalu baik untuk kita, menganugrahi Qaireen ditahun pertama di tahun pertama pernikahan kita. Kita saling menguatkan ketika dokter mengatakan ada kemungkinan janin terancam keguguran, tapi Qai bertahan. Kita belajar dan bertumbuh menjadi orangtua bersama, memang tak mudah , tapi Akang tak pernah menyerah. Menemani Uput melewati bulan-bulan awal post partum syndrome, mendapati Uput yang selalu menangis ketika menyusui, berkali-kali meminta maaf pada Qai karena menganggap diri sebagai ibu yang buruk dan Akang selalu ada buat Uput. Terima kasih karena telah berjuang bersama membesarkan Qai yang karena kecemasan Uput yang berlebihan belum terbiasa tersenyum hampir menjelang setahun pertamanya. Pelajaran yang berharga sekali yang Uput lewati bersama Akang, belajar bersama menjadi orangtua yang lebih hangat.

Sayang, Uput bangga rasanya ketika jalan bersama, santai walaupun berjalan kaki, ngga masalah naik angkot, mendorong motor mogok bersama. Berhujan-hujanan membawa anak yang sedang sakit ke dokter, sampai memakai kresek di kepala saat hujan semuanya menyenangkan. Akang ngajarin untuk berhemat, untuk bisa ngirit belanja makan sehari-hari bahkan berpasrah diri ketika kemalingan bukan dengan kata-kata, tapi dengan contoh. Makasih sayang, kesenangan dan kesedihan yang kita alami bersama semuanya berharga.

Allah baik sekali mengamanahkan Rayi pada kita ditahun kelima pernikahan kita. Terima kasih sayang, karena menemani Uput melahirkan hanya kita saja, itu sangat berarti buat Uput. Akang membuat proses kelahiran kali ini jadi lebih nyaman. Kita kembali bertumbuh menjadi orangtua baru.

Belasan tahun kita bersama bahkan makin membuat Uput bangga sama Akang. Bangga saat Akang sigap ngasih ASI yang tak seberapa banyak bolak-balik ke klinik saat Rayi harus disinar. Bahkan masih bisa tersenyum dan tenang memeluk Uput saat Uput nangis-nangis dan stres berat karena tak bisa memompa ASI. Akang rela mengorbankan waktu istirahat untuk menemani Uput pumping dan membesarkan hati Uput tanpa menggurui. Itu berarti banget buat Uput.

Akang ngga pernah kasih muka ruwet saat pulang kantor, ngga pernah bawa masalah kantor kerumah. Uput bersyukur Akang ngga pernah ngasih tambahan pikiran buat Uput. Akang bisa santai memberikan kebijakan untuk pengelolaan rumah tangga sama Uput, ngga pernah marah ketika rumah berantakan, ngga pernah protes atas semua kegiatan Uput.

Akang selalu membebaskan Uput melakukan apa saja, memberikan kepercayaan selama anak-anak terdidik dengan baik. Akang ngga pernah memberikan batasan ini-itu dan membiarkan Uput belajar dari kehidupan itu sendiri, Uput belajar memperlakukan orang tua dengan lebih baik dari Akang, Uput belajar membantu sesama dari Akang, Uput belajar banyak dari Akang, belajar ikhlas untuk setiap keadaan.

Akang tau? Uput ngga pernah merasa disanjung sedemikian rupa selain sama Akang, makanan yang Uput buat walaupun biasa atau bahkan ngga enak tetap Akang makan, ngga pernah Akang bilang makanannya ngga enak. Inget waktu Uput belajar bikin bolu dan itu keras sekali? Tetep Akang makan. Pas Uput tanya dibagi ngga bolu buat temen-temen yang lain? Akang hanya bilang ‘bolunya mah buat Akang aja semua, ngga rela kalau dibagi ke orang lain’ Uput seneng kang, walaupun Uput tau bukan karena itu Akang ngga bagi-bagi juga. Akang selalu punya jawaban yang menyenangkan buat Uput, jawaban yang ngga nyakitin.

Setiap kali jalan dan makan diluar, setiap ketemu makanan enak Akang selalu bilang sama anak-anak ‘kaya bikinan bunda ya’ atau saat hanya menghidangkan nasi dan telur goreng Akang menyambutnya bagai makanan terenak buatan chef profesional dengan ekspresi yang terlihat lebai tapi Uput suka. Akang pernah bilang ‘Cayankna ngga usah repot-repot nyiapin makanan, Akang mah nasi ma goreng telor atau goreng tahu juga cukup’

Menikah dengan Akang menjadikan Uput lebih belajar untuk besyukur. Bersyukur atas kehidupan yang menarik hingga detik ini. Tak pernah Uput sebahagia saat ini. Bahagia menjadi istri dari seorang lelaki yang akan menjamin seluruh keluarganya mendapatkan rejeki yang halal, bangga mengarungi rumah tangga yang dari seorang imam yang akan menjadi orang yang besar, bangga membersamai suami yang senantiasa belajar menjadi suami dan ayah terbaik bagi anak-anaknya, bangga mengarungi kehidupan bersama lelaki yang pantang membebani istrinya

Kita bukan malaikat yang tak pernah salah, kita hanya manusia. Uput berusaha menjadi istri terbaik buat Akang, Akang pun sebaliknya berusaha menjadi imam terbaik buat Uput. Kita berusaha memperbaiki diri menggapai syurganya, ngga usah secepat kilat, kita naiki tangganya bersama-sama, pelan-pelan saja. Ya Allah perkenankanlah Engkau satukan kami tak hanya sebagai suami-istri didunia tapi juga di akhirat. Aamiin

Ngga ada perempuan yang bakalan Uput cemburui selain perempuan yang bisa melihat Akang sama seperti cara Uput melihat Akang dan ngga ada perempuan yang Uput takuti selain perempuan yang bisa Akang lihat sama seperti cara Akang melihat Uput. I Love U more than U know…

Happy birthday sayang, semoga Allah berkenan mengabulkan doa-doa kita. Aamiin

17 Mei 2016

#ODOPfor99days

#day99

Advertisements

4 thoughts on “Surat Cinta untuk Suamiku

  1. Begitu terharu dan tersanjung sekali KY membaca Surat Cinta dari Bundah ini…. Maksih Cayank… Bingung KY mau ngebalesnya soalnya udah lama ga nulis surat atow puisi Cintah kaya waktu kita sebelum menikah….. paling ge sekaran-sekarang mah nulis surat dinas he…he..
    Cayank, Masih ingat kah semua tulisan kecil yang sering KY berikan belasan tahun silam? Pasti donk masih ingat, karena semua tulisan itu semuanya masih tersimpan baik dan menjadi salahsatu yang berharga buat kita sebagai salah satu kenangan indah dari begitu banyak kenangan-kenangan indah lainnya selama kita bersama;
    Begitu banyak dalam tulisan itu yang berisi pengharapan-pengharapan dan doa-doa buat kita yang tentunya selain rayuan dan sanjungan yang bisa bikin Cayank na klepek-klepek…. He…hee…
    Masi ingat kah tulisan kecil di balik foto Cayanknya yang lagi bergaya kekinian pada masanya saat itu…(kalo dilihat sekarang mah asa kumaha kitu gayanya teh he..he…). Ada tulisan yang KY tulis: Ya Alloh apabila dia jodohku maka dekatkan kan lah, apabila dia bukan jodoh ku maka jodohkanlah …Aamiin….
    Dan ternyata, Alhamdulillah doa yang begitu berharap (memaksa) itu sama Alloh di kabulkan pada tanggal 28 Desember 2008 sampai sekarang….
    Sudah begitu banyak pengalaman-pengalaman yang kita jalani bersama baik suka maupun duka yang semuanya akan semakin menguatkan pernikahan dan komitmen kita untuk selalu berusaha mewujudkan keluarga yang sakinah , mawadah dan warohmah serta untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
    Begitu banyak sanjungan buat Ayah (panggilan KY karena sudah menikah) dalam surat cinta Bunda padahal Bunda sendiri tau kalau Ayah tidak ada apa-apanya tanpa adanya Bunda dan sebenanya masih banyak sekali kekurangan Ayah, yang InsyaAlloh Ayah selalu berusaha untuk selalu memperbaiki diri dan menjadi yang lebih baik.
    Ayah (Yudi) bangga jadi suami dari Bunda (Putri Yudha Kusuma) yang lebih memilih berkarir secara focus menjadi Ibu Rumah Tangga yang Profesional untuk mewujudkan keluarga yang sakinah , mawadah dan warohmah serta mendampingi/mendidik anak-anak (Qaireen dan Rayi) secara fulltime.
    Tanggal 17 bulan ini adalah tanggal kelahiran Ayah dan tanggal 24 bulan ini juga adalah tanggal kelahiran Bunda. Kita sadari masih banyak kekuranga-kekurangan walaupun semakin bertambahnya angka umur dan berkurangnnya jatah umur kita di dunia ini. Tetapi Kita akan selalu berbuat yang terbaik dan selalu berusaha serta berdoa khususnya untuk kebaikan keluarga kita dan perbaikan pribadi kita masing-masing.
    Bunda, terimaksih sudah menjadi Istri, Ibu, Anak dan Menantu yang paling baik dan selalu berusaha menjadi lebih baik lagi. Ayah juga akan selalu menjadi Suami, Ayah, Anak dan Menantu yang paling baik dan selalu berusaha menjadi lebih baik lagi.
    Happy Birthday My Princess; Putri Yudha Kusuma Bidadari Dunia dan Akhir Yudi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s