Resume: Menggali urgensi Public Speaking sebagai seorang ibu bersama Febrianti Almeera

Hari ini merupakan hari launchingnya Rumah Belajar Public Speaking IIP di Graha Ganesha Bandung. Bukan sebagai penggembira saja kali ini aku datangnya tapi sebagai peserta. Agak maksa sebenernya ngikut RB ini, kenapa? Karena aku dari dulu lebih nyaman dibelakang layar. Bukan senang dibelakang layar juga sih, seneng tampil tapi kalo ada yang lebih mumpuni tampil ya monggo aku mah dibelakang aja

*sesenggukan dina pojokan

Public Speaking sendiri berarti berbicara didepan publik, didepan orang banyak. Kalau dalam tahapan personal communication bisa dibilang udah sangat biasa banget, secara doyan ngobrol gitu loh. Lah kalo didepan umum? Haduuuhh….minus banget aku.

Kalau kita flashback kebelakang nih, dari kecil kita tuh kita dah biasa banget tampil, tapi ya tok cuman tampil, sesuai skenario, mau itu nyanyi, nari, baca puisi, dan sebagainya. Sayangnya keberlangsungan kita tampil tuh hanya terbatas pada waktu-waktu tertentu, saat kenaikan kelas, kartinian, atau tes kesenian. Tampil yang murni berhubungan dengan Public Speaking biasanya baru mulai ketika memasuki SD tingkat akhir atau SMP bahkan SMA, biasanya berhubungan dengan presentasi tugas sekolah. Itupun tak seberapa, dan secara teknis tidak dipelajari bagaimana sih tampil yang baik didepan publik, karena targetnya adalah materi tersampaikan didepan kelas.

Awal baca daftar materinya udah suka banget, apalagi dengan biaya yang sangat terjangkau, bener-bener sayang kalau kelewatan 1 materi pun. Nih materi-materinya:

  1. Urgensi public speaking bagi seorang ibu
  2. Trik tampil lebih percaya diri
  3. Teknik opening dan closing
  4. Be expert story telling
  5. Rahasia mempengaruhi orang dengan kata-kata: Persuasive technique
  6. Vocal technique
  7. Body language technique
  8. Metode NLP yang dinamis
  9. Great slide presentation
  10. Final presentation
RB PS
Launching Rumah Belajar Public Speaking, bangga berjamaah bersama ibu-ibu hebat

Sebelum mulai materi seperti biasa banyak ngobrol kesana kemari sama teman-teman, ada sesi perkenalan juga yang seperti sudah diduga diharusken bicara didepan umum. Aku sih ngga kepanggil dan ngga mengajukan diri juga. Entah kenapa kok rasanya ketika mau bicara didepan itu merasa seperti terintimidasi, padahal audiensnya ya teman-teman juga. Jaman aku SMA kelas satu, pada mata pelajaran tertentu ada yang diwajibkan mementaskan 1 cerita, kayaknya itu pelajaran bahasa deh. Dan saat itu aku gagap banget, grogi ngga karu-karuan. Teman sebangkuku yang membuat cerita, dialog , teknis pelaksanaan, seperti sudah khatam soal seni pertunjukan, tampil didepan umum. Istilah blocking aja aku masih bingung sementara gambaran sebuah pertunjukan lengkap tersaji detail dikepalanya. Pada akhirnya yang kuingat dia menjadi satu-satunya ketua kelas perempuan dari 10 kelas yang ada diangkatanku.

Mungkin masih bisa dibilang wajar kali ya, ketika kita grogi untuk suatu hal yang jarang kita lakukan atau merasa tak mampu untuk mengerjakannya. Hanya saking parahnya kemampuan public speakingku, pernah sepulang libur lebaran aku membawa bakpia dari Jogja, rencanaya akan kebagikan untuk teman-teman sekelas, tapi saking groginya aku sampai meninggalkan 1 dus bakpia di kolong meja (tau kan meja yang ada kolongnya buat naro tas?) dan berharap bisa ditemukan oleh teman-teman sekelas tanpa aku harus berkoar-koar menawarkan bakpia.

Ada rasa tak ada yang mau mendengarkan atau tertolak itu sensasinya sakitnya tuh disini, jadi semasa kelas 1 SMA aku memilih tak terlihat, membacakan cerpen didepan kelas dan banyak yang ngobrol itu rasanya seperti tak ada yang memperhatikan, dan itu yang membuat aku lebih baik ngumpet dibelakang layar. Begitulah jika yang namanya ngga dilatih, ngga berkembang, ngga menjadi kebiasaan baru.

Pada saat awal perkenalan teh Shanty yang dipersilahkan maju pertama kali. Ngakunya sih grogi, tapi itu sih merendah aja kayanya abisnya ngga keliatan grogi sih. Menurut ibu 2 anak ini salah satu pembicara yang paling keren adalah Kak Seto yang sangat ciamik bicara didepan orang, kalau meminjam istilah sebuah iklan ‘semua mata tertuju padamu’ begitu kira-kira impian penggagas One Day One Post IIP ini mengakhiri sesi perkenalannya. But guess what? Pada saat itu blogger ini sudah mencuri banyak perhatian orang dan itu keren untuk orang yang katanya grogi.

Lain teh Shan lain juga teh P-U kalau ibu kece yang satu ini memang menawarkan diri untuk tampil kedepan. Sama sama ngaku grogi tapi kayanya sama kaya teh Shan alias hanya merendah saja, orang keren banget ituh. Teh Rilly apalagi, udah khatam didunia siaran masih juga ngikut RB Public speaking, tambah kebantinglah si aku. Dari semua yang melakukan sesi perkenalan yang kelihatan sangat niat adalah Teh Fiena, mengajukan diri dan sudah nyiapin slide perkenalan juga, sementara teh Lendy yang terakhir perkenalan (dan katanya grogi) malah nyerocos lebih dari 5 menit waktu yang diberikan.

Katanya grogi, lha itu bisa ngomong

Rasanya saat itu pengen banget ngacung ‘hey aku donk yang mau coba tampil didepan’ tapi kok tetap berat ya buat ngacung? Aku ingat beberapa tahun yang lalu pernah menjadi guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tidak tetap di salah satu sekolah di Arcamanik, tahun awal-awal PLH masuk ke kurikulum. Sebenarnya tugasku mudah hanya mengikuti seniorku saja, ibarat kata hanya sebagai guru pendamping. Hingga pada suatu hari aku ditugaskan ngajar dan seperti yang sudah bisa diterka itu sangat belepotan. Grogi banget, deg-degan sepanjang mengajar, walaupun pada akhir sesi kelas semua teman-teman bilang bagus.

Mengusung slogan ‘ibu bicara ibu berkarya’ RB public speaking menjadikan proses bicara tak hanya sekedar bicara tanpa makna, tapi menjadikan tutur kata yang keluar dari mulut ibu adalah hal yang bermanfaat ‘saatnya ibu menginspirasi’.

Materi pertama tantang Urgensi Public Speaking Bagi Seorang Ibu disampaikan oleh seorang wanita muda, teh Febrianti Almeera seorang writer, trainer dan juga singer. Paling tidak begitu sih yang aku baca dari CV nya.

Hmm…rasa-rasanya pernah liat ni orang dimana ya?

Aku cukup apresiasi ketika perempuan kelahiran 1991 ini menyampaikan keengganannya untuk tak menyampaikan materi yang belum pernah dialami sendiri, yaitu sebagai seorang ibu karena beliau baru menikah 3 bulan lalu dan memilih hanya menyampaikan materi hanya sampai urgensi public speaking saja. Memberikan materi tanpa mengalaminya sendiri akan terasa kosong menurutnya, dan materi seperi itu tak akan sampai kepada audiens.

Mengutip dari KBBI bahwa profesional berarti memiliki kepandaian khusus untuk menjalankan tugas dan fungsi peran. Maka ketika profesional dikaitkan dengan kata ibu, maka untuk menjalankan tugas dan peran seorang ibu salah satu kepandaian khususnya adalah public speaking.

Kenapa public speaking ini penting?

Perempuan berkacamata ini menjalaskan bahwa poin pertama inilah yang menjadikan 9 pertemuan berikutnya menjadi penting atau tidak. Public speaking akan menjadi penting kalau kita bisa menemukan jawabannya, dan ini peer bagi semua.

Urgensi untukku?

Dalam tahapan menjadi seorang Ibu profesional, tentunya kita sudah tak asing dengan materi Bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif dan bunda shalihah. Jika ketiga materi awal bisa dibilang sudah umum dibahas ada tahapan bunda shalihah yang ternyata tak hanya tentang ibadah dan ketaatan kita pada pencipta, memberikan contoh dalam menyalehkan keluarga saja, namun ada yang tugas tambahan dibelakangnya. Mengutip dari materi Matrikulasi batch 1 IIP, bahwa parameter bunda shalihah adalah:

BUNDA SHALIHAH

  1. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
  2. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
  3. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
  4. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?
RB PS 2
Kalau bisa baik dari awalnya, ngga udah nakal dulu deh!(Ki-Ka: Aku-Fiena-Febrianti Almeera-Lendy)

Ada nilai yang diperjuangkan dan hal yang ingin diwariskan, dan itu bisa terwujud dengan adanya komunikasi. Komunikasi produktif dengan suami, anak-anak, keluarga, dan publik. Bagiku mengantarkan anak-anak bangga dengan kemampuannya, berkembang menjadi apa yang Allah instalkan secara baik, paham akan maksud Allah akan tugasnya didunia sudah cukup, paling tidak sampai saat ini. Jika besok aku memutuskan untuk ikut berbagi impian yang sama dengan ibu lainnya, menjadi agen perubahan, aku sudah mempunyai bekal bicara didepan umum.

Prinsip komuniasi adalah adanya pesan yang sampai, ketika kita ngacoblak panjang kali lebar kali setengah tinggi dan itu adalah rumus luas segituga tapi lawan bicara kita ngga ngerti, maka itu bukanlah sebuah komunikasi.

Setelah memiliki jawaban apa pentingnya public speaking ini bagi kita, perempuan yang memberikan nama Almeera sebagai nama harapannya ini memberikan contoh dengan mengajak peserta untuk menyebutkan nama dari dokter, pebasket, pebulutangkis, ustads yang kepikiran. Nama-nama yang kemudian muncul adalah nama dari orang-orang yang terkenal seperti dr.Boyke, Deni Sumargo, Susi Susanti, Aa Gym serta ustadz Yusuf Mansur. Mereka ini dinamakan sebagai orang yang top of mind, orang-orang yang berada pada level atas ingatan sebagian besar kita. Mereka lebih dari paling rajin, paling berpengaruh, paling memiliki ciri dan identitas unik, meraka adalah orang-orang yang go to public and speak.

Bicara adalah kuncinya! 80% orang mengingat orang-orang yang top of mind dan hanya 20% orang yang menempati posisi ini, hal ini sesuai dengan hukum Pareto. Menjadi terang diantara lampu-lampu lain yang mencoba terang.

Seorang public speaker Jamil Azzaini mengatakan bahwa ‘Semua orang yang mau naik kelas wajib bicara’ Bicara apa? Bicara tentang apa yang kita kuasai, yang kita menjadi praktisi didalamnya dengan membenahi mindset, mindset yang tepat akan melahirkan action yang tepat, dan action yang tepat akan menghasilkan result yang tepat pula. Jadi perbaiki mindset dengan menjawab pertanyaan mengenai urgensi public speaking bagi seorang ibu terlebih dahulu.

Penulis muda yang mengawali karir kepenulisan dari blog ini membeberkan modal utama public speaking:

  1. PD alias percaya DIA, bukan percaya diri ya. Dengan percara Allah jika kita tak sanggup maka akan Allah sanggupkan, jika kita tak mampu maka akan Allah mampukan. Semua yang terjadi adalah made by design, sudah dalan skenario Allah, jadi tak ada yang kebetulan, termasuk terhadap diri sendiri, tentu ada maksud Allah menjadikan kita ternyata bisa datang dan belajar tentang public speaking.
    1. Dengan cara melakukan persiapan
      1. Walk the talk sebagai pribadi, ibu, istri, menjadi kita seutuhnya dan menceritakan tentang profesionalisme kita. Kita akan bisa dengan mudah bilang bahwa kita adalah praktisi ibu, karena kita sudah menjalankan selama bertahun-tahun dan dengan ilmu. Jam terbang itu tak hanya sekedar 10.000 jam saja tanpa kemajuan, tapi harus ada kemajuan setiap harinya yaitu dengan ilmu.
      2. Siapkan pesan terbaik, ngga usah panjang, misalnya yang ingin disampaikan adalah menemukan urgensi public speaking pribadi
      3. Siapkan penampilan terbaik. Dalam public speaking tidak bisa disandiangkan dengan slogan don’t judge a book by it’s cover, karena cover itu penting. Seseorang sebelum berbicara pasti akan dilihat penampilannya. Bagaimana caranya bicara, berjalan, bahasa tubuh dan sebagainya. Karena jika seseorang itu kaku berada didepan umum, maka keseluruhan cara menjadi tak menarik.
  1. Menjaga fokus, mengapa harus fokus?
    1. Fokus pada keunggulan kita, bahwa kita memiliki keunggulan yang tak perlu disandingkan dengan keunggulan orang lain dan sebaliknya
    2. Mereka butuh kita. Semua yang datang pada acara tersebut mengharapkan akan adanya sesuatu yang menarik yang akan kita sampaikan, so sampaikanlah dengan cara yang menarik juga.
    3. Mereka teman lama kita. Mengetahui bahwa diantara audiens adalah orang-orang yang kita kenal berfungsi untuk membangun kedekatan. Sedikit tips dari perempuan yang memulai karir trainernya setelah adanya permintaan bedah buku ini adalah dengan datang sebelum acara dimulai dan berbincang santai dengan pada peserta. Mengetahui latar belakang kenapa ikut acara ini dan sebagainya. Ini menjadikan kita jadi memiliki teman lama walaupun sebenarnya baru kenalan juga.
  2. Mengambil kesempatan

Semua yang terjadi adalah sudah diatur Allah, jika ada tawaran PS maka ambil, jika tak ada kesempatan maka buatlah kesempatan tersebut. Jangan lupakan kesempatan untuk menjadikan opening yang berkesan, yaitu dengan senyum, tatap, baru bicara.

Mengenai grogi, penulis buku be the Great Muslimah ini membuat sebuah simulasi sederhana mengenai pikiran, yaitu dengan memejamkan mata dan membayangkan bahwa ada jeruk nipis ditangan kanan, kemudian dipindahkan ketangan kiri dan kemudian dibelah, dan diperas dan diminum. Secara tidak sadar saking ‘merasa’ kecutnya jeruk nipis, air liur kita ikut menetes. Dan ini yang dikatakan bahwa pikiran tak bisa membedakan itu nyata atau tidak, semuanya hanya ada dipikiran saja. Jadi ketika grogi, jalan aja.

#ODOPfor99days

#day96

Advertisements

2 thoughts on “Resume: Menggali urgensi Public Speaking sebagai seorang ibu bersama Febrianti Almeera

  1. Ketika grogi, jalan saja….karena itu adalah power of mind.
    Kerreen banget yaah….de Pepew kemariiin…

    Gak nyesel kalo aktif di IIP mah…banyak ilmu aplikatif yang selalu bikin para emakers makin PeDe.

    *semangaatt…!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s