NHW 1: Parameter sebagai personal, istri dan ibu

Mengikuti kelas Matrikulasi Ibu Profesional ternyata tak hanya melulu materi, namun ada pula Nice Homework yang harus dikerjakan setiap minggunya. Kurang pas rasanya ketika tugas ini hanya dikerjakan oleh aku pribadi tanpa minta pendapat suami. Namun karena satu dan lain hal suami tak bisa ikut serta maka walaupun ini murni parameterku sendiri, selepas ini akan kuminta pendapatnya juga.

Pada awalnya mendengar kata Ibu Profesional membuatku minder. Bayanganku tentang ibu profesional adalah ibu yang bekerja diranah publik dan tetap menjalankan perannya sebagai ibu dengan sangat baik.  Aku sendiri adalah ibu yang tak bangga dikatakan ‘hanya’ menjadi ibu rumah tangga, tak suka bekerja diranah publik, belum berpengalaman berwiraswasta dan sepenuhnya mendapatkan rizki-Nya melalui kerja keras suami. Kala itu pilihan menjadi ibu profesional merupakan ajang ‘bunuh diri’ jika dihadapkan pada pertanyaan “kamu profesional dibidang apa?’ waah udah deh ngga bisa jawab.

Pada akhirnya kuliah umum Oktober tahun lalu membuka mataku tentang ibu profesional, bahwa setiap ibu ternyata bukan hanya tentang aspek kodrati, namun ada ilmunya juga. Kegalauanku akan ‘hanya’ menjadi ibu rumah tangga juga nyatanya menjadi dilema hampir semua ibu baru, dan pilihannya hanya 2 biasanya terjerumus dalam kenyinyiran pro kontra working mom dan full time mom atau berangkulan bersama ibu-ibu lainnya menjadikan diri pantas dan bangga menjadi ibu sekaligus menjadi kebanggan keluarga menjalankan peran sebagai ibu terlepas itu bekerja diranah publik ataupun diranah domestik.

Aku memilih yang kedua.

Mengikuti grup Whatsapp selanjutnya ternyata membawaku menjadi bukan satu-satunya orang yang masih bingung mengenai tahapan menjadi ibu profesional. Membaca resume parenting dan seri buku Ibu Profesional makin menguatkanku bahwa menjadi ibu adalah pembelajaran seumur hidup. Dibaca-dipraktekkan-dibaca ulang-dipraktekkan dan seterusnya.

Senin 9 Mei 2016 lalu diadakan kelas Matrikulasi khusus koordinator, fasilitator dan pengurus Rumah Belajar Institut Ibu Profesional.  Nyemplungin ke kelas matrikulasi ini aku hanya berbekal izin dari suami, kenyataan bahwa akan ada sebuah penilaian dari nice homework yang diberikan merupakan tantangan tersendiri. Adapun materi bisa dilihat disini.

Ini dia penampakan Nice Homeworknya

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Sebagai seorang individu aku adalah pribadi yang senang ngobrol, menjalin komunikasi dengan banyak teman dan chit-chat ngalor-ngidul itu sudah biasa, tambah lagi setelah adanya aplikasi whatsapp kegemaranku ngobrol makin tersalurkan. Namun aku membatasi diri tak terlalu banyak ngobrol ngga penting di grup, sebagai gantinya aku menuliskannya dalam blog kegiatanku sehari-hari.

Bisa menulis setiap hari terlepas itu dipublish atau tidak saat ini menjadi penyaluran ngobrolku, selain bagian dari penyaluran emosi juga. Aku berusaha meningkatkan jumlah kata dalam setiap tulisanku, kadang berhasil kadang tidak. Kadang hanya butuh 30 menit kadang bisa berjam-jam. Soal managemen waktu juga masih menjadi PR untukku. Jika di bikin daftar parameter pribadiku, maka inilah dia:

  1. Bisa menulis-publish tiap hari, sudah berjalan hanya belum konsisten. PR ku selanjutnya adalah membuatnya menjadi konsisten serta meningkatkan kemampuan menulisku minimal 1000 kata dalam waktu 1 jam.
  2. Bisa meluangkan waktu membaca setiap harinya, paling tidak 2 jam/hari sehingga untuk buku-buku tebal bisa 1 buku per pekan
  3. Menuliskan dan mengumpulkan portofolio anak per hari, membuatnya dalam jurnal. Mengumpulkannya dalam blog untuk masing-masing anak adalah impianku selanjutnya, PR yang sangat besar. Syawal ini mudah-mudahan bisa launching blognya anak-anak.Aamiin.
  4. Cukup istirahat, kalau ini dilanggar bisa bete seharian.

Sebagai istri aku berusaha selalu menjalin komunikasi dengan suami, saat dirumah apalagi diluar rumah. Hanya sekedar nanya basa-basi menjadi kebiasaan yang aku pertahankan. Mengirimkan foto kegiatan anak atau menceritakan kegiatan anak juga sering aku lakukan terutama ketika dalam perjalanan pulang atau menjelang tidur. Ketika bisa menceritakannya dan mendapat apresiasi positif dari suami rasanya aku telah menjalankan amanah suami untuk menjadi ibu yang menemani anak-anaknya bertumbuh hari itu. Suami adalah sosok yang santai, rumah berantakan pun tak terlalu masalah. Namun aku tetap berusaha menjadikan rumah bersih dan rapi setiap harinya. Kadang berhasil kadang tidak, kadang rajin kadang tidak, maka aku menyiasati fluktuatifnya mood of nesting-ku dengan hanya mengerjakan minimal 4 kegiatan domestik saja setiap harinya.

Personal grooming juga merupakan PR lain, kadang masih saja lupa mandi sore dan menyisir rambut. Tapi selalu aku usahakan untuk tidak bau walaupun tidak wangi juga. Bukan karena ngga suka pake parfum, sekali lagi itu karena lupa. Sehari-hari aku mulai membiasakan tak menggunakan piyama/daster dalam jam ‘kerja’ sekalipun masih bisa dikatakan sebagai baju rumah tapi paling tidak bukan baju tidur. Jika dibuat daftar parameterku sebagai istri, maka inilah daftarnya:

  1. Komunikasi intens mengenai perasaan, kegiatan, hasil dari seluruh aktivitasku dan anak-anak setiap harinya
  2. Mengerjakan minimal 4 kegiatan domestik
  3. Bersih dan rapi dihadapan suami

Sebagai seorang ibu, aku berusaha menjadi ibu yang bisa dibanggakan oleh suami dan anak-anak. Apa suamiku bangga padaku? Jawabannya adalah ‘bunda lulus’ yeeeeaaaayyy….tetap dengan ‘sebagian udah oke banget, pertahankan! Sebagian oke aja, tingkatkan! Sebagian harus diperbaiki, semangat!’

Jika bertanya pada anak-anak apa bangga dengan bundanya? Jawabannya adalah pasti YA. Rasanya tak ada jawaban lain selain ya untuk anak-anak dibawah 7 tahun. Semuanya sangat menarik bagi anak-anak, kesenangan akan menetap lebih lama daripada kesedihan, karena dunia anak adalah dunia bermain. Anak-anak yang masih polos itu dengan mudahnya melupakan kemarahan bundanya dan tetap dengan mata berbinar-binar bilang ‘aku sayang bunda’

Tak ada nilai minus bunda dimatanya. Walaupun dalam kenyataannya masih juga ada komunikasi antara ibu-anak yang kurang oke. Setelah aku amati biasanya jika kondisi tubuh lelah fisik, lelah pikiran dan kurang tidur yang bisa menyebabkan hal tersebut, kondisi yang menjadikanku memiliki parameter-parameter sebagai personal dan sebagai istri.

Dalam hal ini aku mulai mempraktekkan mindfulness, sadar penuh hadir utuh untuk setiap keadaan. Berusaha mengurangi kegiatan, mengurangi target, dan fokus untuk setiap hal yang dikerjakan.

Mulai memahamkan anak-anak akan perasaannya dan memverbalkan berbagai perasaan yang dirasakan anak-anak. Poin keterlambatan (lagi) sebenarnya bagiku terutama untuk anak yang besar. Aku berupaya paling tidak bisa hadir dalam kehidupan anak-anak 8jam/hari. Semua kegiatanku aku upayakan selalu bersama anak. Tak bisa dipungkiri bahwa kegiatan domestik dan pemenuhan kebutuhan aktualisasi pribadi menjadi hal yang kadang beririsan dengan kebutuhan anak akan bundanya. Aku menyiasatinya dengan banyak ngobrol dengan anak-anak, bertanya kesehariannya, bertanya perasaannya dan membacakan buku serta dongeng. Jika bertanya cukupkah waktunya? Tentu tak cukup waktu tapi bagiku asal anak-anak menutup harinya dengan bahagia, merasa kebutuhannya terpenuhi oleh bundanya itu lebih dari cukup.

#ODOPfor99days

#day95

#MatrikulasiBatch1

#NHW1

#InstitutIbuProfesional

#GoesToProfessionalMother

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s