Resume: Mengenal Makarlusi bersama Tasaro GK

Bisa dibilang setelag gabung ODOP ini, kami-kami ini ‘dipaksa’ tak hanya menulis tapi juga membaca. Sayangnya nih, belum juga semua tulisan itu sempet dibaca eh si empunya karya udah nongol via kulwap.
*mendadak mati gaya
Tahu buku tetralogi Muhammad? Karya Tasaro GK ini jujur aja belum pernah aku baca, tapi kepingin banget beli bukunya ketika liat di togamas, tapi apa daya kala itu hanya bisa ngiler liatnya.
Buat yang belum baca bukunya, aku copaskan reviewnya dari goodreads ya:

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan

Kashva pergi dari Suriah, meninggalkan Khosrou, sang penguasa Persia tempatnya mengabdikan hidup demi menemukan lelaki itu: Muhammad. Al-Amin yang kelahirannya akan membawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, penguasa yang adil kepada rakyatnya.

Kehidupan Kashva setelah itu berubah menjadi pelarian penuh kesakitan dan pencarian yang tiada henti terhadap sosok yang dijanjikan. Seorang Pangeran Kedamaian yang dijanjikan oleh semua kitab suci yang dia cari dari setiap ungkapan ayat-ayat Zardusht sampai puncak-puncak salju di perbatasan India, Pegunungan Tibet, biara di Suriah, Istana Heraklius, dan berakhir di Yatsrib, sang Kota Cahaya.

Hasrat dalam diri Kashva sudah tak terbendung lagi. Keinginannya untuk bisa bertemu dengan Muhammad demikian besar hingga tak ada sesuatu pun yang membuatnya jerih. Bahkan maut yang mengintai dari ujung pedang tentara Khosrou tak juga menyurutkan kerinduannya bertemu Muhammad.

Kisah pencarian Kashva yang syahdu dalam novel ini akan membawa kita menelusur Jazirah Arab, India, Barrus, hinga Tibet.

Sekilas profil singkat Tasaro GK

Sabtu, 30 April 2016, 20.00-21.00 WIB.
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan “GK”, singkatan dari Gunung Kidul) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta. Berkarir sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karir sebagai penulis sekaligus editor.
tasaro gk
Tasaro GK
Saat ini Tasaro GK adalah seorang guru PAUD di sebuah perkampungan lereng Gunung Geulis, Sumedang. Menghabiskan waktu sebagai penulis, guru serta perajin paper craft untuk menghias dinding kamar dua anaknya.
Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah, menimang anak dan terus menulis buku.
Karyanya yang fenomenal yaitu novel tetralogi MUHAMMAD :
1. Lelaki Penggenggam Hujan
2. Para Pengeja Hujan
3. Sang Pewaris Hujan
4. Generasi Penggema Hujan
lelaki penggenggam hujan
Assalamu’alaikum
Teman-teman apa kabar. Perkenalkan saya Tasaro GK. Memenuhi undangan Mbak Wita, alhamdulillah bisa bersilaturrahim dalam grup pribadi-pribadi progresif ini.
Baik….saya percaya teman2 sudah lama bersentuhan dengan dunia literasi. Baik sebagai pembaca maupun penulis. Banyak teori dan sharing pengalaman dan prosea kreatif dari berbagai narasumber. Maka apa yang akan saya sampaikan malam ini sekadar memperkaya apa yang sudah teman-teman kuasai.
Saya pribadi penulis yg cenderung tidak memilih genre tertentu dalam menulis. Saya suka menulis apa saja. Beberapa buku saya juga terbit dengan berbagai genre. Tapi kemudian memang lebih banyak pembaca yang mengenali saya sebagai penulis fiksi sejarah dan saya tidak menampiknya. Sebab, saya memang menyukai sejarah.
Layar belakang pendidikam saya jurnalistik dan saya belajar banyak dari dunia kewartawanan selama aktif menjadi reporter. Saya menemukan benang merah yang cukup mencolok dalam penulisan jurnalistik terutama “feature” dengan ragam penulisan kreatif utamanya fiksi. Maka malam ini sy akan berupaya berbagi perihal unsur-unsur fiksi yang mesti dikuasai dan bagaimana cara mudah mempraktikkannya dalam konteks novel.
Saya menyebutnya MAKARLUSI sebagai komponen-komponen novel yang mesti ada sebagai syarat sebuah novel memang kuat dan berumur panjang;
teMAKARakteraLUrdikSI
Tema
Karakter
Alur
Diksi
A. Tema
Memilih tema seolah sebuah langkah sederhana. Tapi tema yang menarik pembaca bukanlah hal sederhana.
Mari kita coba bedah karya sang Maestro:
Harry Potter.
Maka yang dilakukan penulis pertama adalah “meraut” tema hingga seruncing mungkin hingga cukup tajam untuk mencuri perhatian pembaca.
Dunia sihir (kurang runcing)
Dunia sihir britania (kurang runcing)
Dunia sihir britania yang fokus pada seorang anak (kurang runcing)
Dunia sihir britania yang fokus pada anak misterius di dalam sekolah sihir penuh intrik sihir-sihir kuno
Proses “meraut” tema tadi membuat fokus pembaca terarahkan dengan tajam. Membantu pembaca segera mengetahui beda Harry Potter dengan kisah-kisah sihir lainnya.
B. Karakter
Menciptakan tokoh-tokoh yang mudah dikenali dan tak terlupakan merupakan tahapan yang menantang. Tokoh dengan mata berwarna jingga akan lbh mudah diingat pembaca dibanding yang bermata hitam. Tokoh dengam rambut Tiga Helai lebih menancap di imajinasi pembaca dibanding yg berambut biasa saja.
Pada kasus Harry Potter, pembaca akan sangat mudah menhidentifikasi setiap karakter berkat ketangguhan Rowling dalam mendeskripsikan fisik dan tabiat masing-masing.
C. Alur
Saya bisa menyebutnya sebagai 7 Pertanyaan Fiksi. Setelah mampu menjawab 7 pertanyaan ini Anda berpeluang untuk menciptakan alur yang kuat.
1. Siapa tokoh Anda?
2. Apa goal hidupnya?
3. Apa/Siapa yang menghalangi tokoh Anda meraih goal hidupnya?
4. Bagaimana tokoh Anda mengalami kegagalan saat berupaya mengejar goalnya?
5. Bagaimana tokoh Anda tercerahkan dan bangkit dr keterpurukan?
6. Bagaimana adegan dramatis tokoh Anda saat meraih goal hidupnya?
7. Ending macam apa yang Anda siapkan sebagai akhir tak terlupakan?
D. Diksi
Pilihan kata. Film dinikmati sinematografinya. Sedangkan novel dinikmati diksinya. 10 tahun kemudian baik pembaca maupun penonton hanya akan mengingat alur ceritanya.
Diksi yang baik dan dalam berkaitan dengan pemaknaan. Tak harus puitis. Yang penting penulisnya benar-benar sadar sepenuhnya mengapa dia memilih setiap kata yang tertulis.

Tanya-Jawab

1. Marina
a. Novel Muhammad yg Mas tulis kan atas permintaan penerbit ya, dalam kondisi begini sejauh mana penulis bisa bebas berkarya? Apa judul, isi cerita (gabungan biografi dan fiksi), sampai deadline ditentukan penerbit atau dari Mas sendiri?
(Penerbit hanya menantang. Artinya seluruh konsep, sudut pandang, pengembangan ada di penulis. Penerbit sama sekali tidak mencampuri proses kreatif dalam penulisannya)
Saya jadi penasaran sebetulnya penerbit itu mencari penulis untuk buku X biasanya berdasarkan apa Mas?
(Intuisi, riset, tren pasar)
Dalam novel Muhammad dan juga beberapa novel best seller lainnya yang memiliki setting di luar negeri, atau daerah-daerah di Indonesia, dengan sisipan budaya setempat yang khas dan kental adatnya, apakah sang penulis harus benar-benar pernah menjelajah ke tempat-tempat tersebut? Misal ada yg ingin menulis ttg cerita di sebuah lokasi padahal blm prnh ke tempat itu, risetnya bisa darimana saja ya?
Jawaban: Unsur fiksi: pengalaman, riset, imajinasi. Pada kasus tertentu misal davinci code, riset dilakukan secara langsung krn memang ada sponsor. Jika tidak, riset pustaka atau wawancara jadi pilihan.
b. Mas Tasaro kan pernah di surat kabar ya. Juga karya-karya Mas pernah dimuat di berbagai media. Sebetulnya tema-tema seperti apa sih yg disukai dan memiliki kemungkinan besar untuk dimuat? Apa beda-beda tergantung media nya? Atau ada satu kesamaan, misal saya pernah baca bahwa ‘cerpen koran’ itu katanya yang mengangkat cerita-cerita aktual (kasus-kasus terhangat yg jadi berita)?
Jawaban: Tidak ada yg berlaku umum. Menembus sebuah media mesti diawali dengan mengenal media bersangkutan: kecenderungan, keberpihakan, selera editor, link.
c. Sebagai editor, penulis/karya seperti apa yang bisa membuat Mas tertarik? Apa titik krusial dari sebuah naskah novel misalnya yang akan langsung dilirik oleh editor?
Jawaban: Sinopsis. Lalu tema, karakter, alur, diksi.
d. Apa sebaiknya penulis itu menggunakan nama pena dalam karya-karya nya?
Jawaban: Tidak ada yg mutlak. Ditimang-timang saja.
2. Erie
Assalamualaikum, salam kenal mas Tasaro GK. saya dan suami termasuk salah satu penggemar novel Tasaro terutama yang Galaksi Kinanthi (sampai putri sulung kami, kami namai Kinanthi karena terinspirasi dengan perjuangan Kinanthi hope)
pertanyaannya saya, apakah mas Tasaro berencana untuk membuat kelanjutan dari serial galaksi Kinanthi / Kinanthi (beda penerbit)
saya dan suami dibuat penasaran selama 5th ini apakah Kinanthi akhirnya menikah dengan ajuj?
Jawaban: Mbak Erie terimakasih apresiasinya. Sy biarkan mengalir saja Mbak. Hehe…seperti AADC yg menemukan alasan “kembali” setelah 14 tahun.
Kinanthi in person saat ini masih di Amerika dan masih menjalani pendidikannya.
3. Wita
a. Hal penting apa saja yg harus di perhatikan dalam mengawali penyusunan naskah novel?
Jawaban: jawabannya ada di materi ya.
b. Peran editor menjadi kunci dalam sebuah naskah layak terbit. Bagaimana pendapat Mas Tasaro tentang penerbit indie?
Jawaban: Bagi saya mau indie mau major yg harus penerbit jawab adalah “bisakah mereka menerbitkan naskah yang bagus?”
c. Genre buku apa favorit Mas Tasaro?
Jawaban: Buku anak.
4. Wini
Merujuk ke materi awal.
Apakah alur = 5W + H?
Jawaban: Prinsipnya semua fenomena di dunia ini menerbitkan pertanyaan 5w 1h. Namun dalam konteks 7 pertanyaan fiksi tidak berkorelasi langsung pada teori jurnalistik itu.Artinya bukan turunan rumus tersebut. Sy kiran per poinnya sudah cukup jelas saya tuliskan.
5. Wita
a. Tentang Diksi. Ada berapa macam kah Diksi itu?,
Jawaban: Diksi itu pilihan kata. Tidak ada pengelompokan khusus terhadal diksi.
b. Apakah ada rumusnya? Misal utk fiksi anak pake Diksi tertentu, fiksi romance pake Diksi tertentu?
Jawaban: Tidak
c. Dan bagaimana tips membuat Diksi sesuai adegan?..Bagaimana agar Diksi yg dipilih terlihat dramatis?,
Jawaban: show don’t tell, mungkin? (Jawaban Marin)
Sudah dijawab. Terimakasih Mbak Marin.
6. Shanty
a. Apa Mas Tasaro punya waktu menulis khusus? Apa rutin tiap hari pada jam tertentu?
Buku genre apa yang paling disukai?
Jawaban: Ndak ada mbak. Kapan selo saja.
b. Siapa penulis buku anak favorit Tasaro GK? Kenapa?
Jawaban: The little prince karya Antoine De Saint-Exupery. Karena di dalamnya ada unsur yang memenuhi syarat naskah yg baik implisit dan eksplisit.
IMG-20160430-WA0023[1]
7. Nita
Kalau nulis cerita fiksi butuh waktu berapa lama ?
Jawaban: Bisa seminggu bisa belasan tahun. Setiap penulis punya gaya masing2
8. Wini
a. Tentang point of view (POV) penulis. Dalam fiksi. Lebih baik berganti-ganti POV, atau tetap pada satu POV tertentu?
Jawaban: Selama penulisnya siap, pilihan POV tak akan menyulitkan. Tapi sebagai awalan POV orng pertama tunggal biasanya yg dianggap pling mudah.
b. Apa ada trik ga misalnya mau berganti POV biar ga terkesan kagok?
Jawaban: Hanya latihan saja. Kita akan tahu dengan sendirinya.
9. Nia tania
a. Motivasi apa yang membuat Mas Tasaro istiqomah nulis terus?
Jawaban: Setiap orang memiliki passion dan passion saya adalah menulis. Seperti bernapas.
b. Pernah nggak tiba2 nge-‘blank‘, nggak tau mau nulis apa dan terasa sulit untuk mulai menulis? Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Jawaban: Sering.
Ambil jarak dari tulisan. Kerjakan tema yang berbeda. Kembali ke naskah awal dengan kerinduan yang memuncak.
10. Marin
Menyimak.
Oohh orang pertama tunggal yaa yang dianjurkan untuk pemula.. Sip sip..
Saya mikir, kalo orang pertama tunggal kesannya jadi lebih personal dan dekat dengan pembaca.
Tapi kalo orang ketiga bisa serba tahu dan menceritakan lebih luas.
Tergantung pilihan aja kali ya
Jawaban: Siip Bu Marin.Tadi saya sampaikan dianggap paling mudah. Tantangan penceritaan orang ketiga adalah memecah identitas penulis. Ada tiga karakter berarti penulis menjelma jadi 3 karakter. Dst.
11. Ani
Menurut kita, karakter & tema kita cukup menarik.
Tapi setelah selesai nulis, dibaca lagi kok kayaknya ngga menarik buat dibaca orang lain yaa..Hehe..
Apakah ada kiat khusus?
Jawaban: Tentu ada Bu Ani. Dengan mengujinya dalam grup semacam ini. Sebelum ditulis panjang, cukup dalam beberapa kalimat inti lebih dulu.
12. wita
Berarti dalam Buku Muhammad itu ada 2 PoV ya?..
Jawaban: Orang ketiga tunggal dan Orang kedua tunggal

Closing

Hmm….tentu setiap penulia berproses dengan jalan nan berbeda-beda. Tapi yang saya rasakan dan alami, saya dulu sedikit sekali berdiskusi. Saya hanya menulis…membaca…menulis…membaca…menulis.
Lalu saya serahkan mekanisme penerbit mengadili naskah saya
Tidak pernah ikut kursus apapun. Tidak bnyak bertanya kepada siapapun. Saya hanya menyerap saja bacaan dan pembicaraan orang lalu menulis. Menurut pengalaman, pertanyaan hanya akan melahirkan pertanyaan baru. Mahir menulis membutuhkan latihan terus menerus.
Selamat menulis. Terimakasih telah berkenan menyimak.
Assalamualaikum
#ODOPfor99days
#day86
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s