Resume: Sharing Penerapan Home Education Anak Usia Dini

Minggu lalu bisa dibilang hari yang padat *sok sibuk termasuk Rabu lalu saat aku menghadiri kopdar penyusunan lesson plan home education anak usia dini. Menariknya apa dari acara ini? Ini ajang eksis gitu loh, bisa ketemu orang-orang hebat dibidangnya, saling belanja ide, nambah teman dan sahabat, memperpanjang silaturahim dan yang paling penting, aku punya anak usia dini ūüôā

Menilik kebelakang sedikit saat kuliah umum tentang home education lalu mengikuti grup whatsappnya dan dengan berbagai macam metode penerapan sempat mikir juga sama ngga sih antara home education dengan home schooling? Apa hanya perbedaan istilah aja home education mah umum sebagai istilah di Amerika dan home schooling itu umum dipake di Inggris? Yang ujung-ujungnya sama aja kaya mindahin sekolah kerumah?

HE

Bisa dibilang pertemuan kali ini adalah ajang¬† penguatan diri bahwa ‚ÄėYak, kami sudah menerapkan home education untuk anak-anak. Apa yang kami lakukan tidak bertentangan dengan framework fitrah anak. Jika ada perbedaan dengan keluarga lain, itu wajar. Keluarga lain cocok dengan dengan HE khasnya, dan kami punya ke-khas-an sendiri. HE kami unik, tak perlu memaksakan diri karena tak sama, apalagi membandingkan yang tak bisa dibandingkan. Anak-anak kami unik, kami pun orangtua yang unik dan kami akan menjadi home team yang unik pula‚Äô

Bertempat di Bumi Inspirasi, kediaman sekaligus bengkel hijaunya teh Isti Khairani acara yang direncanakan pukul 8.30 dengan sukses molor hampir setengah jam. Dengan moderator teh Mesa Dewi dan Bubu Wiwik Wulansari bertindak sebagai pembicara,  ini memaparkan HE ala home teamnya dengan sangat menarik.

Dimulai dengan pertanyaan Mengapa HE Usia Dini?

Sebenarnya sih jawabannya udah jelas ya, karena orangtua adalah pendidik pertama dan utama. Jangan bayangkan bahwa mendidik adalah ‚ÄėIni ibu budi‚Äô tapi tugas kitalah sebagai orangtua untuk mengisi kantong-kantong jiwa anak, membangun bonding antara orangtua dan anak. Menyambung-nyambungkan sel-sel otak anak dengan membangun kenangan dan meninggalkan kebiasaan.

Bagaimana caranya memulai HE? Simak tips dari Bubu:

  • Mengenali nilai yang dianggap penting oleh keluarga
  • Membuat garis besar kurikulum/ tujuan
  • For this change I must change first
  • Memahami prinsip HE AUD:
    • Pendidikan prasekolah: dunia bermain, bukan konten materi
    • Parenting yang baik
    • Orientasi jangka panjang

Keluarga bubu menempatkan nilai-nilai keagamaan dan etika sebagai nilai penting, di tahun pertama dibuatkan Lesson Plan untuk menjaga hal apa-apa saja yang akan dipelajari hari itu. Namun pada prakteknya, engga selalu ngikutin jadwal plan yang dibuat, karena dalam keseharian, bermain bisa berupa apa saja tebak-tebakanan, petak umpet, kejar-kejaran, lompat-lompatan dan lain-lain yang terpenting membangun bondingnya, bukan konten materinya.

Ilmu parenting juga framework HeBat dari Ust. Harry, menjadi panduan keluarga bubu dalam melaksanaan HE ini usia dini. Bagaimana bubu berbicara kepada anak dengan lebih banyak memantulkan perasaan anak, memandu kemandirian anak,  menerima perasaan anak dan menghargai pilihan anak adalah poin penting juga. Rileks saat anak memilih baju piyama untuk ke tempat wisata, atau keukeuh pakai celana terbalik. Rileks untuk menerima saat anak menangis, marah atau tidak mau berbagi dengan adiknya
Alhamdulillah ternyata bermain-main yang selama ini dilakukan sesuai dengan framework HE untuk anak usia masa pralatih yaitu: rich sensor and motor experience (pengalaman aktivitas yang menstimulasi sensori/panca indera, motorik kasar dan motorik halus), open ended play dan imaginative play.
Dengan relasi:  anak sebagai player dan orangtua sebagai fasilitator.
Walaupun bubu memberikan tips bermain di ruangan dengan menyiapkan tray untuk invitation to play, tapi aktivitas main ini tidak melulu soal tray. Sekedar main kejar-kejaran, petak umpet, tebak-tebakan sejatinya tetap bermain. Karena salah satu nilai yang ingin kami bangun dalam HE anak usia dini ini adalah membangun bonding antara orangua dan anak. anak bisa belajar melalui bermain adalah bonus.
Setelah menjalaninya selama kurang lebih 2 tahun, bubu memilih tidak membuat lesson plan dan membiarkan anak belajar sesuai keinginannya/ child led learning. Karena bubu percaya setiap anak adalah pembelajar sejati dan setiap waktu adalah kesempatan belajar, bahkan ketika kami orangtuanya tidak sedang membersamainya, mereka tetap merekam dan mempelajari apa yang sedang kita lakukan.
Perlu atau tidaknya lesson plan ini, tergatung style keluarga masing-masing karena setiap keluarga itu unik. Bikin lesson plan bukan berarti berlebihan dan yang ga bikin bukan berarti ga ada arah atau lebih baik, selama visi misi keluarga jelas, nilai apa yang mau ditanam maka operasionalnya disesuakan dengan keunikan keluarga masing-masing.

Dalam menjalankan HE ada beberapa framework yang harus diperhatikan, yaitu menjaga fitrah anak dan stimulasi berdasarkan usia. Anak usia dini mah ngga banyak-banyak fitrah yang harus dikuatkan, cuman 3! Tapi ketiganya merupakan pondasi menuju masa aqil-balighnya. Kuatkan saat ini!

Fitrah keimanan dilakukan dengan menanamkan iman, adab, akhlak dan bicara. Jangan pernah merasa manjadi orangtua yang gagal ketika menghadapi anak-anak. Percayalah bahwa Allah bersama kita, anak-anak diutus Allah sebagai guru untuk kita. Ketika perlakuan, ucapan anak ada yang tak menyenangkan bisa jadi kitapun telah memperlakukan anak seperti itu.

Fitrah belajar. Semua anak adalah pembelajar, hanya kadang kita mematikan fitrah belajarnya karena kita tak sanggup sabar. Tak sanggup sabar mendengar celoteh anak-anak, tak sanggup sabar menjawab pertanyaan anak-anak, tak sanggup sabar fokus bermain dengan anak-anak. Pupuk terus fitrah belajar anak dengan menguatkan bahasa ibu dengan berkomunikasi produktif dengan pasangan dan anak. Menggali curiosity intelligent dengan permainan yang menarik dengan 5W+1H what, where, who, when, why, how dan dengan menanyakan why not dan what if kita bisa menumbuhkan creative of imagination, rt of discovery dan noble attitude.  Tak cukup disitu, menyadari bahwa semua anak adalah bintang dengan keunikan cara belajarnya masing-masing akan melesatkan fitrah belajarnya.Fitrah belajar tak sama dengan memberikan konten materi, karena anak usia dini belum berkembang sempurna otaknya. Bagian otak yang berkembang pada anak usia dini adalah pagian prefrontal corteks, dan itu tak bisa dimatangkan dengan konten materi.

Bubu Wiwik mencontohkan tentang permainan untuk menumbuhkan fitrah belajar anak:

Saya tidak lagi menggunakan lesson plan, karena keinginan untuk belajar dan berkreasi seringkali datang sendiri dari si anak. biasanya di mulai dari bertanya, saya percaya anak punya fitrah belajar dan dia adalah pembelajar sejati. menguatkan fitrah belajar ini, saya merujuk pada games curiosity inteligent ala bu Septi jika anak sudah mengajukan pertanyaan.
Misal: tentang kue kesukaan anak saya:
what, who, where, when, why, how? misal: itu apa?
what: pancake,
who: siapa yang membuat?
where: dimana dibuatnya?
when: kapan membuatnya?
why: kenapa membuat pancake? kenapa bentuknya seperti itu?
how: gimana cara bikinnya?apa bahannya?
dari games ini maka bisa mengembangkan rasa ingin tahunya menjadi: mengapa tidak…bagaimana jika…: mengapa pancakenya tidak diberi kunyit dan tidak dipanggang, bagaimana jika bentuknya segitiga. dari rasa penasaran ini kelak memunculkan imaginative creation, art of discovery dan nobble attitude. sehingga kami membantu mewujudkan kreasinya dan membolehkan menambahkan kunyit ke pancake ataupun masukin sabun, batu dan tanah ke percobaan volcano kami.
Walaupun belum sampai menjadi penemuan dan bermanfaat tapi kadang saya punya catatan dari hasil kreasinya:  nambahin sabun ke percobaan volcano membuat luapan asam sitrat+soda menjadi perlahan dan gelembung busa yang keluar lebih besar.
Untuk fitrah bakat, kami mengumpulkan portofolio hasil karyanya, gambarnya, dokumentasi perjalanan, dan aktivitas anak yang paling membuatnya berbinar. karena kelak kami ingin dia bekerja sesua passion dan bahagia maka sejatinya kami orangtuanya lah yang harus memulai itu. alhamdulillah suami sedang menuju ke sana, sedang saya masih mencari, hehe…
Semoga ragam aktivitas versi talent maping bisa segera launching sebagai panduan juga. Sementara ini, hanya melalui buku tapi ketika dia sedang intens bertanya tentang suatu profesi kami berusaha membawanya ke tempat itu. seperti saat dia bertanya tentang polisi, kami membawanya ke polres bandung di jl. jawa dan mengobrol dengan bapak polisi.
Fitrah Bakat.

Temen-temen HE pasti dan akrab banget dengan istilah tour the talents sebagai bekal menjalani profesi sesuai passion dan bahagia. Dengan mengenalkan beragam aktivitas, mengunjungi orang-orang dengan berbagai profesi dan mendokumentasikannya dalam portofolio, hasil karya, foto fieldtrip serta sikap. Sharing teh Nca seputar fitrah bakat ini adalah harus ada dokumentasi perhari! ODOMA kalau teh Nca mengistilahkannya alias One Day One Meaningful Activity. It‚Äôs oke hanya kita tulis ‚Äėhari ini berantem sama temennya, ngga lama kemudian baikan, yang ngulurin tangan duluan si ehm‚Äô.

Oke, masuk ke panduan stimulasi berdasarkan usia 0-72 bulan. Ini yang biasanya rame di googling ibu-ibu baru ‚Äėbagaimana cara stimulasi motorik pada bayi?‚Äô ‚Äėbagaimana cara stimulasi bicara pada bayi‚Äô dan sebagainya, hayoh ngakuuu….

*apekteh aku aja

Panduan membuat jadwal main ini berdasarkan stimulasi sesuai perkembangan usia anak 0-5 tahun dengan parameter: motorik kasar, motorik halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. (tabel stimulasi anak 0-5th bisa di download https://www.dropbox.com/s/r2xun0giusysjd0/Stimulasi%20anak%20usia%200-72%20bulan.pdf?dl=0)
kemudian untuk evaluasinya menggunakan KPSP (kuisioner pra skrining dan perkembangan) yaitu suatu alat yang digunakan untuk mengetahuiperkembangan anak, normal atau ada penyimpangan, yang di evaluasi per 3 bulan. download: https://www.dropbox.com/s/45ptxfd7hcabztu/Kuesioner%20Pra%20Skrining%20Perkembangan.pdf?dl=0
Sesi Tanya-Jawab:
1. Firna Maulina: Klo pengalaman saya bikin lesson plan tp ternyata anaknya ga tertarik jd bete emaknya
Jawaban 1: nah iya teh.. sama.. maka dalam perjalanannya saya menurunkan ekspektasi
2. Firna Maulina: Teh wik, dlm sehari menyiapkn berapa permainan? Krn anak kan cepat bosan….Atau ketika kita sodorkan A blm tentu anaknya mau
Jawaban 2: teh firna nyiapin mainan satu aja.. misal nyiapin puzzle aja, lego aja, atau balok aja, atau percobaan aja
3. Ropy:  lesson plan yg ga tereksekusi akbt anak g minat bikin saya pusing
Jawaban 3: teh ropy kalau anak ga minat, biasanya saya yg pura2 main sendiri, bikin rumah ah, bikin kastil ah.. biasanya anak langsung kepo dan ikut main.. kalo ga tertarik juga, main bebas aja..
4. Dewi mulyati: Masya Alloh.. Luar biasa.. Berdekatan jaraknya ya… Stok sabarnya sptnya lengkap..Bgmn klo kakaknya ingin main diluar..adiknya ingin didalam..
Jawaban 4: bunda dewi biasanya anak-anak ini udah seneng main bareng, kalo ada yang inisiatif pindah tempat main, langsung ikut baik kaka/adiknya
5. Ropy: Menarik yg ttg rileks. Ropy msh bljr utk hal ini, brntg suami ambil alih utk soal  rileks. Faiz Brgkt ke tmpt krja dgn baju piyama, kaos kaki n sandal beda  pasangan
Blh dishare teh melatih rileks ala bubu bgmna?
Jawaban 5: Jaga2 kepancing emosi, saya merem dulu dan berdoa, pastinya harus jelas dulu soal kepemilikan dan menghargai si pemilik untuk tidak diambil haknya..
kalau si kakak/sdik emang pingiiin banget ngambil, diminta bilang dlu baik2, kalo udah bilang biasanya adik luluh, kakak engga..
Nah, kalo gitu, nanya ke si kakak, mainan yang boleh dipinjem yang mana? lalu jelasin ke adek kakak belum siap berbagi, tapi mainan yg lain boleh, kita tunggu kakak selesai main yg itu ya, nanti baru adek bisa pinjem..
Kadang saya juga mumet,jadi kalo ada yg ngadu, didiemin aja,coba selesaikan berdua atau beneran didiemin karena jaraknya jauh, biasanya akur sendiri
Teh ropy,, mengingat pentingnya anak percaya dir dengan pilihan dan tau konsekuensi atas pilihannya adalah sangat berguna dmasa depan, kalo soal baju kami bisa cuek.. walau jujuur, saya sebel juga kadang ga sabar kapan dia “sadar” pake celana kebalik itu ga nyaman,¬† hehe… faiiizz.. tos tuh sama farid
6. Ai Santiani:¬†Untuk menumbuhkan kemandirian teh Wik, gambaran ‘tegas’ tuh bagaimana ya? Hawwin klo selesei mandi, mau pake baju suka ngeyel (lari2an), pegang mainan apa aja. Padahal scr skil dia sdh bisa, walaupun blm rapi.
Jawaban 6: Kalo dari yang wi alami, kemandiran tiap anak beda bedaaaa banget… menapakinya adalah proses yang sesuatu..hehe.. dulu bikin kesepakatan, kebetulan kamar mandnya agak masuk lorong dan lemari baju ditaro disitu,jadi habis mandi langsung pake baju di lorong yaa baru boleh main dll.. kalo udah sepakat, tiap abis mandi langsung di tongkrongin di lorong
7. Yuli aripin: Kalo tegas dalam aturan main bagaimana teh?  Saya selama ini bebasin sok main apa aja asal tidak bahaya, tapi orang sekitar mencap gada aturan, manjain. Anak betah banget maen Air tanah kotor2an. Terigu campur2 bumbu
Dibilang hambur2. Padahal menurut saya pelajaran yg diambil oleh anak dari aktivitas tsb lebih besar dari “sekedar ” harga terigu dkk.
Jawaban 7:¬†teh yuli, kalo orangnya tetangga sih, saya cuek aja, selama ini dikomplek emang suka diteriakin satpam, awaas buu itu jatuuh, pas anak manjat2, atau para baby sitter yang lagi ngajak anak main diluar, pas liat saya langsung menyingkir.. karena tau kalo bu wiwik mainnya “ga bener” ke tanah, lari2 dari tanjakan, dll.. soalnya anak2 itu kalo liat farid main suka pgn ikutan kokotoran. jadi yang harus ditingkatkan kitanya yg selalu siaga ngejagain kalo takut jatuh misalnya
Bener ya teh, it takes a village to raise a child 
8. Syifa nuraini muflihah:Teh wi sharingnya top banget
Waktu sharing HE kemaren ga nangkep semua karna suasananya kurang kondusif jadi ga begitu kedengeran, Alhamdulillah ada sharing lanjutan.. Jazakillah
Pengalaman menyusun lesson plan memang ga begitu ampuh dalam prakteknya, karena anak belum tentu mau main permainan yg sudah disiapkan..kadang malah mencari-cari sendiri apa yg bisa dimainkan atau belum mau beralih dari hal yg membuatnya tertarik. Tapi lesson plan ampuh banget saat ibu&anak lagi mati gaya
Rileks saat dia memilih baju piyama untuk ke tempat wisata, atau keukeuh pakai celana terbalik. Rileks untuk menerima saat dia menangis, marah atau tidak mau berbagi dengan adiknya. Apalagi kalo anak pertama mau tidur harus pake baju ke pesta, mau main pake celana/baju yg itu2 aja, ga mau pake jaket kalo naik motor..
Jd intinya harus belajar menerima ya, teh
#day82
#ODOPfor99days
Advertisements

One thought on “Resume: Sharing Penerapan Home Education Anak Usia Dini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s