Fun Backyard

Jika Senin merupakan hari yang sibuk untuk sebagian ibu, Senin pekan itu aku justru menyantaikan diri dengan mengajak anak-anak jalan-jalan. Tak jauh-jauh, hanya kebelakang rumah saja.

Bisa dibilang jalan-jalan didaerah rumahku adalah hal yang langka. Bukan karena lingkungannya ngga nyaman buat jalan-jalan tapi lebih karena ritme sehari-hari yang pergi pagi dan pulang sore atau bahkan ngga pulang. Hari itu aku putuskan untuk mengajak kedua anakku jalan-jalan kebelakang rumah. Seingatku dulu disana ada sapi dan sawah, dulu itu adalah ketika kakak berumur 1,5 tahun yang lalu.  Dah lama juga ternyata…

Menu jalan-jalan kali ini pada awalnya adalah liat sapi doank, sempet ngga yakin bakalan ada sapinya sih, karena denger si sapi udah raib digondol maling. Tapi paling ngga kalo ngga ketemu sapi pun bisa ketemu sama ayam. Ayam cukup menarik juga kan ya buat diajak main?

*mendadak ngga yakin gini

Dan benar saja ayam adalah hal menarik pertama yang Rayi temukan, si ayam dikejar-kejar dan diajak main. Beberapa kali Rayi bahkan meminta difoto bersama ayam tapi lebih seringnya minta ayamnya saja yang difoto “Bun, foto ayam putih” “Bun, foto ayam anaknya” Bun, foto ayam bunda” dan seterusnya. Berbeda dengan kakaknya yang agak sungkan dengan dunia binatang, ayam hanya menjadi teman jauh saja baginya.

WP_20160418_08_22_03_Pro[1]

Tak jauh berbeda antara ayam dengan sapi, setelah tahu bahwa sapinya ternyata masih bersisa satu aku meminta izin melihat-lihat sapi, yang sayangnya aku lupa tanyakan boleh mencoba memerahnya atau tidak. Cukup menarik melihat sapi ini, karena begitu kami datangi kandangnya si sapi yang tertidur mendadak bangun dan berdiri. Sepertinya momen itu adalah momen terbaik dari sesi jalan-jalan pagi itu bagi Rayi, kerena sampai beberapa hari setelahnya si sapi terus diceritakan padaku dan ayahnya. Bagi kakak? Seperti biasa kakak hanya melihat sapi sedikit lebih jauh namun cukup takjub dengan besarnya badan si sapi.

Ngga hanya sapi dan ayam sebenarnya yang bisa diulik disana, ada penggilingan padi, sawah, dan juga pabrik tahu. Khusus pabrik tahu aku juga baru tau kala itu, bukan pabrik juga sih, hanya tempat pembuatan tahu rumahan.

WP_20160418_08_24_58_Pro[1]

Beruntungnya pagi itu aku dan anak-anak bisa berbincang sedikit dengan sang pemilik pabrik tahu, bapak Encang Sutisna dan bertanya-tanya soal pembuatan tahu. Dimulai dengan perendaman kacang kedelai selama 3-4 jam,dimasak, digiling, diperas dan dicetak, sedangkan ampas tahu dijadikan makanan sapi nan lezat dan bergizi. Bangunan berukuran 3×4 meter itu berisi berbagai macam alat pembuatan tahu, semua dilakukan disana sehingga tampak penuh, becek dan panas. Mungkin itu juga yang membuat Qai nampak enggan bertanya-tanya pada pak pemilik, biasanya paling tidak Qai menunjukkan ketertarikannya dengan bertanya 1-2 pertanyaan padaku sebelum pada akhirnya aku sodorkan untuk bertanya langsung. Namun bisa jadi tahu kurang menarik karena Qai kurang suka tahu, mungkin kalau itu keju Qai lebih berbinar-binar matanya hehe.

Mungkin juga butuh beberapa kali jalan-jalan untuk membuat mesin dieselnya bekerja 🙂

#ODOPfor99days

#day78

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s