Pelesir ke kampus Nangor

Tadinya tak ada rencana khusus melewatkan sore yang cerah di kampus Unpad, sudah hampir 9 tahun tak pernah kekampus ini, penasaran juga sudah seperti apa bentuknya. Sepulang dari Limbangan menengok mertua, suamiku dengan baik hati mau puter balik melewati Parakan Muncang ke kampus lama istrinya. Agak bingung karena setelah melewati pangdam, kok malah bablas menuju Bandung? Akhirnya aku baru sadar ada jalan baru sebelah Ikopin, woow…aku ketinggalan banyak ternyata.

IMG-20160410-WA0010[1]
Bareng si cantik di kampus emaknya

Buat yang pernah menikmati unpad Jatinangor sebagai kampus paling tidak sampai 8 tahun yang lalu tentu akan terkagum-kagum dengan penampilan Unpad saat ini.
Banyaknya bangunan baru dengan konsep mirip-mirip Itebe Ganesha menjadikan Unpad Jatinangor sebagai Itebe yang berbukit-bukit. Sebenarnya ngga perlu menunggu Itebe jadi berbukit-bukit juga sih karena kampus Unwin sudah dijadikan Itebe dengan konsep yang mirip.
Jaman dulu pertama kali aku menginjakkan kaki ke Unpad kesanku adalah panas dan gersang. Sejak dulu panas dan gersang sudah anti sama hal ini, persis seperti jalan by Pass Soekarno-Hatta. Dengan kontur menanjak sejak memasuki gerbang depan dan diapit dengan tanah merah tanpa tanaman plus tanpa kanopi dan minim kendaraan lengkaplah sudah menu hiking menuju kampus. Baidewei gerbang depan sekarang ditutup karena menggunakan gerbang samping dari arah pangdam. Bukan singkatan dari panglima kodam ya, itu singkatan dari pangkalan damri, panggilan khas anak-anak Unpad.
Menuju kampus pun perjalanan yang berat, terbiasa ngangkot tiba-tiba harus ngebis, bis luar kota pula. Seumur-umur biasa naik angkot, damri dalam kota atau bis luar kota yang tiketnya dipesan jauh-jauh hari, kali ini berebut naik bis hanya agar bisa duduk nyaman. Ngebis dengan cara nyegat dijalan ini rasanya ngga bisa dibilang asik, berebut duluan naik, kadang ngga peduli udah cantik pake rok  dan udah make up-an. Rasanya ketika berhadapan dengan kultur yang semrawut seperti ini, pelajaran tentang antri pun bisa menguap. Tapi yang namanya witing tresno jalaran soko kulino, lama-lama dibawa asik juga. Naik turun bis walaupun bis belum berhenti sempurna jadi salah satu keahlian unpader geng bis babon alias Bandung-Cirebon.
Kalo yang mangkalnya di Pangdam itu ya khusus bis damri aja, DU-Jatinangor atau Elang-Jatinangor, yang dari arah Caheum biasanya milih naik Babon, MS, Damri-Kuningan atau ngangkot kalo kepaksa banget. Namanya juga jalan luar kota, tambah sama banyaknya spot-spot pendidikan, macet mah udah biasa. Terkadang bis luar kota memilih lewat Cipacing dan muter ke Sayang (Sayang ini nama wilayah yaa), tapi pernah juga saking macetnya milih lewat ke Parakan Muncang yang mana itu beberapa km setelah Unpad, alhasil anak-anak Unpad milih berhenti di Cipacing dan ngojeg dengan bayar 2 kali lipat.
Ngomong-ngomong soal kendaraan, didalam kampus juga ada kendaraannya lo. Dulu ada yang namanya bis kuning. Bis gratis yang ngelewatin lingkar luar Unpad ini hanya ada 2 biji, tahun kedua setelah aku berstatus mahasiswa sudah dikandangkan didekat kebon Muncang. Mirip-mirip kaya bis UI gitu, tentu dengan keriput karat dan jalannya yang perlahan. Serunya naik bis ini adalah, pertama gratis, itu mah udah jelas banget daya tarik maha dahsyat buat mahasiswa, yang kedua adalah naik bis ini yang ngga bisa goyang dijamin langsung mahir, itu karena bis ini dangdut banget, shock breakernya super parah sampai kalau belok bisa beberapa derajat lebih miring daripada mobil kebanyakan. Makanya kalau naik bis kuning begitu belok kanan kita-kita siap dikiri, dan kalau belok kiri, kita-kita siap dikanan, ngimbangin bisnya supaya ngga tiguling maksudnya.
Selain ada bis kuning, ada juga omprengan yang kenaikan tarifnya sesuai dengan kenaikan harga bensin, dari mulai 300, 500 sampai 700. Rutenya agak berbeda, kalau naik omprengan menuju Biologi itu masih harus nyebrang ke Kimia dan Cantina MIPA. Pilihan lain yang lebih cepat adalah ojeg. Awal-awal ketika gerbang depan masih dibuka, mamang-mamang ojeg siap mengantarkan menuju jurusan masing-masing. Tapi kemudian dilarang dan mamang ojeg pun migrasi ke luar gerbang samping. Adalagi angkot biru yang menggantikan bis kuning mangkalnya didekat GOR Pakuan, tetep harus jalan dulu dari pangdam jadinya. Untuk rute angkot biru ini aku lupa, soalnya menjelang lulus baru ada, ada yang bisa kasi petunjuk? Asli lupa.
Walaupun ada beberapa alternatif kendaraan didalam kampus, hal pertama yang harus dipatuhi adalah jangan telat. Selain menuju tempat kendaraan-kendaraan ini mangkal perlu upaya lebih dengan nanjak dan berebut dengan mahasiswa lain jumlahnya juga minim. Makanya kalo emang udah telat mending ngojeg dari pangdam, itupun harus jelas rutenya ‘Pak, ke biologi lewat gerbang samping, FKG, dekanat MIPA!’ kalo ngga ya sama juga lamanya karena dibawa muter lewat gerbang atas. Belum lagi kalo mamang ojegnya malah ngambil jalan tengah setelah sampe ke gerbang atas, tambah muterlah kita.
Kalau lagi ngga buru-buru sih paling seru pagi-pagi jalan sama temen-temen menuju kampus ngelewatin cekdam. Trek nanjaknya hanya pas naik dari Arboretum ke kampus. Tapi ya gitu deh, sebelum cekdam memang harus jalan lewatin tanah merah dulu plus dengan beberapa semak di kanan-kirinya, kadang dibarengi dengan menebalnya sol sepatu jika tanah sedikit lembab atau berdebu parah ketika angin menerpa dikala panas dan kering cuacanya. Di pangdam sendiri deretan warung siap sedia dengan berbagai makanan dan minuman, dan juga wartel. Tau wartel kan? Itu lo warung telekomunikasi, box berisi telepon yang bisa kita pake asal bayar sama pengelolanya itu looo, belum jaman-jaman banget hape kala itu.
Kalo sekarang sepertinya semua kendaraan didalam kampus gratis semua ya? Tambah shelter sepeda sepertinya oke juga, lumayan sarana olahraga buat mahasiswa yang ngga sempat nge-gym.
Berbagai cerita yang tentang konon katanya Unpad akan dibangun sempet bikin ngarep-ngarep juga kapan nih dibangunnya. Tapi emang bukan rejeki kali ya jadi sampai pas lulus pun yang ada hanya nambah sedikit kanopi saja. Mengunjunginya walau sekilas beberapa waktu lalu jadi mengingatkanku akan acara ospek beberapa tahun lalu. Mungkin bisa dibilang ospek angkatanku adalah ospek terakhir yang sifatnya main fisik. Bukan berarti tamparan atau pukulan juga maksudnya, tapi olahraga keliling Unpad.
Lapangan tempat push-up dan sit up sudah berubah menjadi gedung rektorat, jalanannya pun menjadi lebih tertata. Gor pakuan, tempat anak-anak olahraga sudah disulap menjadi Bale Agung Mesjid Raya Unpad. Benar-benar memanjakan mata sekali dibandingkan beberapa tahun lalu.
Arboretum dan cek dam juga terlihat lebih hijau dan rapi. Jika dulu melewatinya seperti melewati kebun dan semak, kali ini terasa seperti melewati hutan dan taman.
Memang sudah seharusnya berubah, menyandang kampus terbesar se-Bandung (padahal mah Sumedang) selayaknya jadi baik dan berbenah.
 #ODOPfor99days
#day75
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s