Senyum yang sama

Aku pernah melihat undangan pernikahan untuk kakakku yang dalam undangannya terpampang foto si calon pengantin. Saat itu undangan dengan foto belumlah umum, tapi bukan disitu letak uniknya, yang unik justru foto yang dipajang. Aku melihat calon pengantin ini bagai saudara kembar yang berbeda jenis kelamin, mirip semirip-miripnya!

Dalam sebuah sesi tanya jawab dengan seorang psikolog ada audiens yang bertanya kenapa antar pasangan biasanya ada saja yang mirip satu dengan yang lain. Terkait dengan hal ini beberapa kali aku menemukan jawaban yang mengatakan bahwa ketika kita berpasangan ada kecenderungan untuk menyamai pasangan kita, dari mulai baju, sifat, kebiasaan dan sebagainya dan inilah yang menyebabkan kemiripan itu muncul ketika akhirnya berpasangan. Namun apakah dengan menyamai pasangan otomatis muka kita juga berubah? Jawaban dari si psikolog tadi agak sedikit berbeda, dia mengatakan bahwa manusia cenderung mempunyai sifat mencintai diri sendiri. Narsis! Ke narsisan ini yang menyebabkan banyak orang yang mencari pasangan yang mirip dengannya sadar tak sadar.

Beberapa orang yang ngga suka dibanding-bandingkan biasanya akan defensif begitu dibilang mirip, tapi sebagian yang lain malah seneng dan makin membanggakan dengan pake baju kembaran haha. Beberapa kali malah ketemu ma temen yang kayaknya niat banget nyari kemiripan sama istrinya, disaat kita-kita cuma bilang ‘asa mirip ih kalian berdua’ (suami-istri) si suami langsung bilang dengan bangganya ‘iya nih, tulang idung kami yang miripnya’

Sebenarnya aku ngga pernah sadar juga kalau aku sama akang mirip sampai akhirnya pas lahir Qaireen temen-temen aku bilang Qai mirip aku dan temen-temen Akang bilang mirip Akang.

Yaiyalah da anak bersama…

Pernah pas nganter temen ke Rumah Sakit karena ambruk di sekolah disangka adik-kakak ma Akang sama kakaknya temen. Saat aku mulai menjelaskan kondisi si adik, kakaknya dengan santai bilang “Iya tadi itu kakaknya udah bilang ke teteh kondisinya gimana”

Dan aku bingung ‘kakak yang mana?’

1
Akang n aku

Lain waktu sebelum nikah dulu, Akang pernah ngajak aku jalan-jalan ke Karawang. Pulang pergi bareng sama rekanan yang kebetulan ada perlu ke kantor disana. Akang dulu memang ditempatkan di Kerawang walaupun lebih banyak ngantor di Bandung sesuai instruksi bosnya, jadi ambassador Balai Karawang di Bandung.

“Pak Yudi ni bageur ih adiknya diajak jalan-jalan nengok kantor”

Hah? Mirip gitu sampai disangka adiknya Akang?

Sepertinya jawaban si psikolog tadi ada benarnya juga ketika aku mulai melihat lagi foto-foto. Ternyata aku punya senyum yang sama seperti Akang.

#ODOPfor99days

#day71

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s