Menghadirkan hati

Ada beberapa hal yang tak kita sadari sampai akhirnya pada hal yang tak disangka-sangka kita sampai juga pada momen itu. Momen yang bisa bikin ‘iya yah? kok bisa ya aku kaya gitu?’

Momen sederhana seperti saat foto keluarga untuk pertama kalinya dan saat fotografer berkata ‘Bu, anaknya diajak main aja, biar kesannya natural’ aku terdiam.

Main? Main apa? Selama ini aku main apa sama Qai?

Selama ini aku ngga pernah main sama Qai…

84009 Do (35)
Foto keluarga saat Qai 10 bulan

Sederhana sekali pernyataan mas-mas fotografer tadi, tapi itu bikin aku benar-benar berfikir, selama ini apa saja sih yang kulakukan?

Rasanya antara kaget bercampur senang ketika memiliki anak, semua terasa seperti punya tamu dari luar negeri yang aku ngga ngerti maunya apa, maksudnya apa. Aku dibekali kamus berupa gadget yang bisa dengan siap sedia memberikan informasi mengenai arti tangisannya, tahapan perkembangan setiap bulannya, cara mengatasi lecet pada payudara dan sebagainya.

Setiap hati aku menyibukkan diri dengan pekerjaan domestik. Bagiku saat-saat Qai tertidur adalah saat yang membahagiakan, aku bisa bebas mengerjakan ini itu. Kadang merasa seperti sendirian, menjalani peran sebagai ibu tanpa tahu benar atau salah. Dokter anak pun menjadi tempat curhat seputar kegelisahan ibu baru. Jika Qai terbangun pilihannya adalah menyusuinya lagi supaya tidur atau menemaninya terjaga sambil mencari-cari informasi seputar ibu dan anak. Aku berlaku sebagai robot, yang ketika Qai nangis otomatis segera menyusuinya, ketika pipis otomatis mengganti popok, tanpa mengajaknya bicara, langsung saja kukerjakan semuanya.

Mencari-cari ilmu tentang menjadi ibu yang baik nyatanya tak menempatkan Qai sendiri sebagai subjek. Aku terus menerus mempraktekkan apa kata artikel tanpa memperhatikan benar tumbuh kembang anak. Memiliki rasa parno yang berlebih ketika anak belum bisa tengkurap, bertanya-tanya kapan Qai bisa ngomong, tak sabar menunggu kapan Qai mulai berjalan. Aku terus bertanya kapan ya Qai begini, kapan ya Qai begitu, kok Qai belum bisa begini ya? Kenapa ya Qai? Ada yang salah gitu?

Qai termasuk anak yang panasnya lama, dibulan-bulan awal senyumnya langka. Jarang menangis tapi paham apa yang kukatakan. Bisa dibilang Qai punya wilayah teritori sendiri dalam pikirannya, paling tidak begitulah yang kupikir.

Sampai akhirnya ketika sesi foto dimulai, aku serasa ditampar! Aku merasa hidup dalam masa depan, mengangan-angan akan menjadi ibu yang seperti apa dan akan mencetak anak yang seperti apa. Aku berangan-angan tanpa benar-benar menghadirkan hati untuk mewujudkannya.

Sepulangnya dari studio foto aku memaksakan diri lebih banyak mengajaknya bicara, bermain, mengajarkannya berbagai macam lagu, menggambar, dan sebagainya. Aku melepaskan gadgetku, banyak berkreasi bersama Qai, bercerita sepanjang jalan, bercerita sebelum tidur. Banyak memeluknya dan mengungkapkan sayangku padanya. Qai mulai membuka dirinya, perlahan-lahan senyumnya terkembang, lebih sering dari sebelumnya. Mulai banyak mengoceh dan bernyanyi. Aku seperti mendapati aku sebagai seorang ibu baru. Menjadi ibu diusia Qai 10 bulan.

#ODOPfor99days

#day68

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s