Mengenal Mindfulness bersama Adjie Silarus

“Masi otewe teh Shan, di Gasibu. Tth dimanakah?”

“Sudah duduk manis di daytrans. Pake baju merah.”

“Oke,aq mendarat di day trans sebentar lagi”

“Alhamdulillah pas banget. Mereka juga sudah di Dago katanya.”

Begitu chat WA dengan teh Shanty sesaat sebelum bertemu dengan praktisi dan penulis buku Sejenak Hening dan Sadar Penuh Hadir Utuh, Adjie Silarus. Buku yang mengenalkan konsep mindfulness, yang menjadi bahan diskusi hangat beberapa waktu yang lalu. Bisa dibilang ini yang dinamakan kebetulan yang menyenangkan, baru mengetahui tentang mindfulness beberapa hari yang lalu dan Alhamdulillah hari ini bisa bertamu dengan orangnya langsung.

IMG-20160404-WA0032[1]
Aku, teh Shanty dan mas Adjie Silarus

Pernah mengenal konsep mindfulness sebelumnya? Konon katanya dengan mempelajari ini hidup bisa lebih fokus, sholat bisa lebih khusyu dan segala wow tentangnya. Terlihat keren? Tentu akan lebih keren kalau bertemu dengan orangnya langsung, dan bertanya-tanya seputar hal-hal wow tadi.

Jujur sebelumnya aku tak pernah mengenal kata mindfulness sebelum teh Shanty meresumenya secara singkat plus dengan e-book yang bisa bebas diunduh di grup Ibu profesional. Aku selalu kagum dengan orang yang bisa mengkombinasikan sesuatu, mindfulness termasuk salah satunya. Bagaimana suatu hal bisa dinamai dan menjadi suatu ‘ooh’ yang baru tapi sebenarnya secara tak sadar sudah kita tahu sebelumnya. Nama Adjie Silarus mengemuka menjadikan benchmark mindfulness di Indonesia.

Hal pertama yang bis dikesankan dalam pertemuan pertamaku dengan Adjie Silarus adalah humble. Tak seperti bayanganku sebelumnya yang dengan lancang membayangkan sosok sibuk dengan pengawalan beberapa ajudan dan penuh dengan barikade berkomunikasi. Semuanya luntur sudah hanya dalam beberapa detik bahkan sebelum komunikasi itu dimulai. Posturnya tinggi, putih dan berkacamata dan sangat ramah, terlihat sekali sangat menghargai lawan bicaranya dengan menatap penuh perhatian kepada lawan bicaranya, satu persatu.

Aku takjub dengan sosok yang ternyata seangkatan sama aku ini, berkarya diusia semuda itu (ehm…) dan membagikan ilmunya dengan gratis bisa dibilang menjadi caranya menjadikan ilmu ini lebih bermanfaat. Untuk umum termasuk Ibu Profesional, mas Adjie (sok akrab banget ya) bersedia meluangkan waktu dan ilmunya for free. 3 jam masing-masing selama 1 jam/hari bersedia mas Adjie luangkan untuk kulwap BanSel, BanUt dan RB Menulis, yippie ^^.

Bertempat di salah satu restoran cepat saji di simpang Dago, suami dari wanita cantik bernama Indri ini bercerita tentang mindfulness dan mengapa akhirnya dia bisa mendalami ini.

Aku cukup kaget ketika mengetahui bahwa mas Adjie mengemukakan bahwa mindfulness itu bisa dilatih dengan:

  1. Duduk tenang
  2. Makan perlahan-lahan
  3. Bergerak perlahan
  4. Bekerja perlahan

Kebiasaan yang sebenarnya juga sudah diajarkan dalam Islam tapi sering kita abaikan.

Mindfulness sebenarnya berakar dari budaya timur, kebiasaan yang nrimo (menerima dengan ikhlas), ramah tamah dan tersenyum, eling dan waspada sekaligus. Kebiasaan yang dewasa ini banyak terkikis dan terkesan kuno justru menjadi hal yang dicari dalam mencari kebahagiaan. Menjadi diri sendiri secara utuh tanpa berfikir tanpa tertarget.

Mindfulness adalah sikap penuh kesadaran, hadir sepenuhnya, hidup untuk saat ini tak terjebak masa lalu dan tak berandai untuk masa depan menjadi kunci being human. Menjadikan kita 100% atas apa yang sedang kita kerjakan saat ini dengan penuh kesadaran.

Menurut lulusan Psikologi UGM ini, kehidupan itu bisa dibagi menjadi 2, being dan doing. Selama ini kita terlalu banyak berada dalam fase doing tanpa menikmati manjadi manusia itu sendiri. Hidup seperti dikejar-kejar waktu, mengerjakan berbagai macam kegiatan bersamaan, dikejar target, tidak menikmati hidup. Multitasking kalau bahasa gaul sekarang bilangnya.

Tentu sebagai ibu multitasking menjadi semacam ‘tuntutan’ dalam keseharian, ya masak, ya ngurus anak, ya beberes, ya nyuci , ya ngelola keuangan dan semacamnya. Ada sedikit sanksi bahwa ilmu ini akan bermanfaat untuk ibu rumah tangga. Namun menurut penulis yang memulai karir kepenulisan dari blog ini, multitasking itu capek lo! Mengalihkan dari satu pikiran ke pikiran lain itu ibarat membuka kulkas berkali-kali, butuh beberapa jeda sampai akhirnya kulkas itu kembali dingin.

Kita bisa memilih untuk sadar sepenuhnya, bebas memilih apa saja prioritas yang akan kita kerjakan, tak perlu semua dikerjakan tapi hanya menyentuh permukaannya saja, jadikan prioritas kegiatan kita hanya sedikit tapi dalam. Merelakan atas apa yang tak bisa kita kerjakan, dan hidup hanya dalam prioritas kita.

Kita bebas memilih berapa banyak prioritas yang akan kita kerjakan, bebas memilih segimana ritme hidup kita dalam menikmati hidup, dalam menjadikan kita manusia seutuhnya.Ngga perlu ngoyo menjadi sibuk mengerjakan semua hal.

Namun muncul kemudian pertanyaan apakah mindfulness bisa diterapkan dalam ranah produktivitas ekonomi? Latihan mindfullness adalah bukan menjadi seberapa banyak, tapi seberapa tepat! Ketika tepat, maka produktivitas akan melejit. Mas Adjie juga memberi contoh bahwa di Google sendiri menjadikan mindfulness sebagai salah satu kurikulum pembelajaran wajib bagi karyawannya. Menjadikan pekerja bekerja tepat dan saling menghargai sebagai manusia.

Pemikiran yang dalam seperti ini biasanya muncul dari orang yang berusia lebih matang, tapi mengetahui ini dari orang yang hanya setahun lebih tua dariku mau tak mau membuatku penasaran juga, apa hal yang membuatnya berfikir begitu dalam seperti ini. Singkat cerita mas Adjie bercerita tentang masa lalunya yang penuh dengan kemarahan karena konflik rumah tangga orangtuanya. Bersikap memberontak diusia remaja, sampai akhirnya mendapatkan ilham untuk belajar psikologi. Belajar psikologi ibarat selfhealing bagi pecinta buku ini. Banyak diskusi dengan beberapa dosen tidak juga membuatnya puas, dan banyak berguru melalui buku.

Well, udah ngga sabar ikut belajar? Setelah kulwap kita bisa bertemu langsung dengan beliau di tanggal 22 atau 25, tempat dan waktu menyusul yaa…

#ODOPfor99days

#day66

Advertisements

5 thoughts on “Mengenal Mindfulness bersama Adjie Silarus

  1. Naha ada foto dirimu dan teh Shan dalam tema mindfullnes?
    aahhhaa….hhaa….

    *tulisan teh Uput selalu kena di hati.
    Singkat jelas dan padat.

    Haturnuhun sharingnya teh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s