Balada Menjahit dengan Tangan

Salah 1 hal yang bikin aku lumayan banyak bolongnya dalam rangka penulisan ODOP ini adalah karena ngerasa kehabisan ide, ngerasa banyak pisan yang harus dikerjain dan ngerasa lebih cepet lelah.

Laaaahhh…etamah bukan 1 atuh, tapi banyak!

Hehehe…iya yah?

Cengengesan! Padahal cuma ngerasa doank, lemah kamu puteri!

Iya kak, ampun kak

*nunduk

*berasa lagi diospek

Soal kehabisan ide ini bisa dibilang haram buat seorang penulis, tapi penulis harus selalu punya cara mengembangkan ide, walaupun idenya sama satu dengan yang lain tapi delivery nya pasti beda. Seperti ide tentang membuat tas belanja sendiri yang akan dipajang di Salman Days Out tanggal 10 April nanti.

IMG-20160319-WA0006

Sebenarnya ini challenge datengnya belakangan, karena Rumah Belajar (RB) Menjahit IIP Bandung udah bikin ini duluan sekitar sebulan sebelumnya. Mulanya kegiatan perdana RB menjahit adalah menbuat sarung banyal kerut, tapi gara-gara sistemnya PR kaya ngga ada tatangannya. Akhirnya dibuatlah ide pembuatan challenge ini. Sengaja bentuknya challenge supaya anggota-anggotanya lebih terpacu buat bikinnya. Menang ngga menang bukan masalah, paling ngga kita bantu buat ikut mengkampanyekan diet kantong plastik, sekaligus tasnya bisa kita pake sendiri ^^.

Walaupun namanya RB menjahit, tapi tas yang dibikin no sew pun ngga papa. Buat aku sih cukup membuat senang karena jahit-menjahit sebenarnya adalah bidang yang baru mau akan aku pelaari. Jait dengan mesin sih maksudnya, jait tangan mah bisa, tapi yaa..gitu deng ada aja ngga rapinya.

Ngambil ide dari yutub akhirnya bikinlah aku tas belanja yang berasal dari kaos baru yang baru sekali cuci taunya malah melar kesamping dan menyisakan ngatung beserta udel yang sedikit-sedikit terlihat. Berbekal gunting, selotip, penggaris, spidol dan pengokot jadilah tas belanja no sew dalam sekejab.

Tahu pengokot?

Kokotan?

Ngga tahu?

Hwaduh!

Sama nih ternyata dengan rekan-rekan segrup menjahit, soal pengokot atau kokotan sebagai alat yang bisa mengokot ini ternyata ngga semua orang famliar. Beberapa rekan malah mengira ini bahasa Sunda buhun sementara yang lain keukeuh ngga pernah denger, dan imbasnya aku yang bingung sendiri ‘bener ah ini bahasa Indonesia, bener kan? bener ah! Eh iya kan? Iya gituh?’

Kok malah balik nanya?

Akhirnya setelah diskusi kokot mengkokot berlangsung lebih seru daripada bahasan jahit, aku mendamparkan diri juga di KBBI, dan menemukan ini.

kokot1/ko·kot/ n 1 besi (kawat) yang dibengkokkan untuk memaut; gembok; 2 bengkok dan melekat (tentang jari tangan, kaki,dan sebagainya); kerukut;

— betina besi (kawat) yang dijajarkan bersambungan dan dibengkokkan tempat memautkan kokot jantan;
— jantan besi (kawat) yang dibengkokkan pada pangkalnya dan dimasukkan ke dalam buluh, kayu, dan sebagainya yang berlubang untuk mengunci gembok;
— kunci besi yang dibengkokkan tempat menggantungkan (ibu) kunci;
— pemaut staples;mengokot/me·ngo·kot/ v 1 mengunci peti dan sebagainya dengan kokot; 2 mencakar-cakar; menggaruk-garuk (kerak dan sebagainya);

terkokot/ter·ko·kot/ v bengkok dan melekat (tentang jari tangan dan jari kaki); kerukut; kokot

Yeaaayyy….rasanya pecah bisul tuh setelah berhasil menemukan bahwa kokot itu bahasa Indonesia. Masih aneh sama namanya, okelah hekter atuh? Jekrekan? Jegleger?

Okey, balik lagi ke soal tas belanja. Ternyata setelah banyak yang mengikuti challengenya dan share sedikit-sedikit hasil karyanya jadi merasa tas bikinan aku kok kayanya terlalu tebel ya? Jatohnya memang jadi waterproof dibagian dalam, lentur tapi lumayan tebal dan kurang praktis ketika dimasukkan kedalam tas, mirip2 keranjang belanja emak-emak jaman dulu gitu deh dalam versi yang lenih fleksibel.

Kemarin nih 3 hari menjalang challengenya ditutup (batas challengenya diperpanjang sist) akhirnya aku maksa bikin lagi 1 tas belanja, dengan konsep dompet. Kalo gi ngga dipake bisa dilipet kaya dompet, kalo mau dipake tinggal dibuka. Permasalahannya ternyata adalah bagian jahitnya. Namanya juga challenge, rasanya ngga adil ketika minta dijahitkan walaupun pola kita yang bikin. Tapi mau maju dengan mesin jahit juga belum bisa. Pernah nyobain make mesin jahit, tapi yang ada malah maju-mundur gejed. Benangnya kusyut, putus, dan ngedadak ngadat. Udah coba diarayu-rayu mesin jahitnya, tetep ngambek, coba dikasih benang yang warnanya lucu angger ngambek, mau ngga mau pake cara terakhir.

Mesin jahit sayang, capek ya ngeboseh terus? Pasti teu puguh ngebosehnya malah jadi pegel, kan? Kita pake dinamo ya, biar ngga capek, mau?

Dan si mesin jahit pun langsung semangat.

Persoalan selesai dengan masang pedal otomatis berdinamo? Oh hohoho….anda salah, si mesin tua nan cantik ini seperti baru menemukan gairah mudanya, dia nyelengceng persis anak kecil yang kegirangan naik bom-bom car dan injek gas poll.

Menjahit dengan dinamo pertama kali gagal.

Tahu ngga bedanya ngejait pake mesin dan pake tangan? Yang jelas mah kadar kecepatan berbeda, kadar capek berbeda, kadar hasil berbeda, kadar kepuasan berbeda dan kadar emosi juga beda.

Dengan hasil jadi yang terbayang ini sebenarnya kalo minta jaitin ma tukang jait mah 10-15 menit beres, masalahnya tukang jaitnya ngerjain orderan yang mana dulu?orderan kita apa orderan orang lain?  Tinggal nunggu jadi deh, ngga usah capek jait paling tinggal cape jalan ketempat jaitnya doank, sama capek nunggu sih kalau orderannya gi banyak, dan cape hate kalau orderan kita kepending-pending wae. Dikit ya waktunya kalau jahit pake mesin, tapi hasil cakep ngga pake capek, tambah lagi dijaitin.

Berhubung si aku memutuskan untuk fair dengan menggunakan tangan karena ngga bisa ngoprasiin mesin jait, jadilah 8 jam bekerja dan belum beres. Jait bentar pending makan, jait lagi pending sholat, jait lagi pending main ma anak, jait lagi pending nyuapin dan sebagainya. 8 jam ngejahit ternyara bikin ngedrop, tangan serasa tremor n kaku dalam gaya memegang jarum dan kain. Ngga bisa dibilang beres juga sih pas Maghrib, tapi nyerah dulu lah hari itu, ngantuk sangat dan sepertinya kasur-kasur sudah melambai-lambai. Minta anak-anak pijitin tapi yang ada dinaikin, dijadiin tunggangan dan sebagainya. What a wonderful life

#ODOPfor99days

#day63

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s