Demo lagi? Plis deeh…

Sebenarnya hari ini aku berencana menulis tentang hasil tes kematangan kakak, tapi berhubung sedang hits banget soal demo angkutan darat, jadilah dipending dulu.

IMG-20160322-WA0011

Demo, mau itu demo buruh, demo mahasiswa, demo angkutan darat biasanya ngga jauh-jauh dari namanya urusan perut, terlepas dari apa yang dituntutkan. Bisa dalam bentuk penurunan kepala pemerintahan karena menyengsarakan rakyat, kenaikan UMR, atau penghapusan armada darat karena merasa kalah saing pasar.

Jujur, buat aku yang namanya demo semacam itu bikin ngga simpati! Memaksa pengemudi armada-armada lain untuk ikut demo dengan cara kasar, memaksa penumpang keluar dengan paksa dari dalam taxi atau bis, membuat macet sejalan-jalan, siap dengan senjata tumpul dan tajam. Mau demo apa mau perang sih?

Pernah mikir ngga gimana kalau penumpangnya ternyata sedang menuju rumah sakit untuk berobat atau melahirkan? gimana kalau ada ambulans dengan orang yang kritis didalamnya yang juga ikut terjebak macet? Gimana kalau ternyata dengan aksi kalian yang terkesan heroik menurut kalian ini ternyata menyebabkan orang lain meninggal? Siap nanggung akibatnya?

Okey, sekarang jika para pengemudi yang terhormat ini boleh merasakan menjadi pemilik motor atau mobil yang terjebak macet. Setiap hari anda harus bekerja dengan jadwal yang sangat ketat, telat sedikit saja proyek anda batal. Padahal proyek ini adalah proyek impian anda dengan keuntungan yang bisa membuat anda berleha-leha selama 6 bulan. Anda sudah menghabisakan waktu anda hanya untuk mengerjakan proyek ini dan unfortunatelly, anda bertemu dengan kondisi sekarang. Jalanan macet, sama sekali tak bisa jalan, bahan bakar anda terbakar percuma, proyek anda lewat begitu saja sementara anak dan istri anda memendam kesal dengan kesibukan anda yang pada akhirnya gagal total karena demo.

Rejeki mah Allah yang atur cuy! Mau segimana kita ngelotok ngerjain kerjaan kita, nunggu-nunggu gaji setiap bulannya, tapi pas mau bayar DP rumah bisa jadi itu bukan dari gaji, tapi dari hibah orangtua misalnya. Nunggu-nunggu uang proyek turun, udah dapet capeknya, makan waktu sampai ngorbanin waktu sama keluarga, tapi bisa jadi Allah berkehendak lain, uang proyeknya ngga sesuai sama perkiraan kita. Artinya kita ngga bisa mendaratkan rejeki ke kerjaan kita, karena rejeki datangnya dari Allah dari pintu yang tak kita sangka.

Liat aja pedagang di pasar-pasar tradisional, dalam 1 pasar berapa banyak penjual sayur? Berapa banyak penjual ikan? Berapa banyak penjual ayam? Komoditas mereka sama, harganya ngga jauh beda, tapi apa rejekinya sama? Pembeli tak hanya melihat dari sisi murahnya saja, karena kalau murah tapi barangnya ngga bagus apa gunanya? Barang bagus tapi mahal mungkin jadi pilihan, tapi buat beberapa orang tak akan membeli jika pelayanan penjualnya tak menyenangkan hati. Standar kepuasan konsumen akan berbeda satu dengan lainnya, namun tak membuat para pedagang saling bacok demi mendapatkan pembeli kan?

Ini hanya tentang alat aja kok, angkutan umum berbasis aplikasi bisa lebih booming karena mudah di akses, ngga perlu nelepon pool yang ngga jelas diangkat apa ngga, jikapun diangkat belum tentu armadanya ada. Mereka siap datang dengan biaya bersaing dengan ketersediaan armada yang real time dan itu memudahkan pengguna. Jika itu jadi membuat armada lain tersaingi, ya silakan meng-upgrade kemampuan teknologi. Itu cara paling elegan dibanding dengan demo semacam ini.

#ODOPfor99days

#day57

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s