Perjalanan menemukan minat

Beberapa hari ini grup lagi rame banget soal tour de talents, idealnya sih ini dilakukan dalam rentang usia 7-14 tahun, dalam rangka mengenalkan semua potensi-potensi yang ada supaya potensial si anak akan menjadi kinetis ketika minat ketemu sama bakat. Sayangnya nih yang beginian ngga diterapin dijaman kita-kita akibatnya ketika ditanya emak-bapaknya potensinya dimana dia bingung deh. Ngga ngga ngga….bukan dia yang bingung, aku yang bingung.

DSCN0731
Aku (kerudung putih) dengan tim fasilitator Bicons beberapa tahun lalu.

Berhubung ngga nemu aja minat bakatnya apa akhirnya aku memutuskan untuk flashback beberapa kegiatan yang aku suka.

Dulu nih pas SMA sering banget denger kata organisatoris, yaitu orang yang seneng berorganisasi. Sempet sih merasa sebagai organisatoris, tapi kok pernah juga ya ngga nyaman ketika berorganisasi? Aku lebih merasa senang bertemu, ngobrol, berbagi dengan teman-teman. Kurang pas juga kalau aku disebut organisatoris, mungkin communicator lebih pas. Tapi communicator juga baru denger-denger istilahnya sekarang, kalaupun jadi narasumber sebuah acara juga belum pede, efek kurang jam terbang katanya. Padahal sih galau ga ada yang minta jadi narsum hehe, lagian mau jadi narsum apa coba?

Kalau mau menuruti cita-cita jaman heubeul jadi wanita karier itu super mantap. Dalam bayanganku wanita karier itu wanita mandiri dengan penampilan modis yang naik mobil sendiri kemana-mana, atau santai menggunakan driver, bisa nyuruh ini itu sama bawahan dan cas cis cus bicara dengan klien dari dalam dan luar negeri. Nyatanya semakin dewasa kegiatan disuruh-suruh sebagai bagian dari peningkatan karir tak pernah aku sukai. Aku tak masalah bila sifatnya saling membantu dan bekerja sama, tapi jika disuruh-suruh? Maaf saja aku tak bersedia.

Nasib berkata buruk untuk ukuran cita-cita jaman heubeul ku, tak pandai dalam berbahasa Inggris, tak sanggup nyuruh-nyuruh orang dan tak menguasai kemampuan menyetir yang mumpuni. Ditambah dengan tawaran kerja yang minim mampir kepadaku, lengkaplah sudah aku melepas cita-cita itu.

Apa itu artinya aku ngga punya bakat berkomunikasi?

Owh, sudahlah lupakan

Kegiatan ku saat SMA dan kuliah tak jauh beda, ngobrol-ngobrol sama temen-temen sambil ngebahas event adalah hal yang paling menyenangkan, lebih menyenangkan daripada proses belajar formal di sekolah ataupun kampus. Bukan acara besar, bukan acara yang menghasilkan tapi aku menikmatinya. Mengumpulkan ide, informasi, mengolah data, membuat ide baru, mengkreasikan sesuatu, mengejar narasumber menjadi keasyikan tersendiri.

Berangkat pagi, pulang petang sudah biasa. Hanya kadang hingga larut atau bahkan menginap untuk mempersiapkan acara. Satu hal yang sangat aku pegang adalah soal pulang. Saat SMA aku selalu mengusahakan maghrib sudah di rumah. Kuliah pun demikian, namun dengan waktu yang lebih longgar, jam 9 malam. Memasuki perkuliahan ternyata kesenanganku akan dunia ngobrol-ngobrol berlanjut, masuk di berbagai kepanitiaan dan juga pengurus himpunan. Sebenarnya aku tak terlalu menyukai berorganisasi di tingkat ini, mungkin memang aku senang yang santai-santai saja, bicara politik (walaupun tingkat mahasiswa) terlalu berat untukku.

Menjelang tahun kedua atau ketiga di perkuliahan aku bergabung dengan salah satu komunitas lingkungan di Bandung, Bicons namanya atau Bird Conservation Society. Sebuah komunitas pecinta burung liar yang kegiatan rutinnya adalah mengamati burung liar di Taman Ganesha setiap minggu pagi, tak pernah ikut bergabung dengan penggemar burung kicau atau burung dalam sangkar lainnya. Bicons mengedukasi masyarakat agar membiarkan burung tetap di alam, termasuk dalam outbond-outbond yang kami lakukan. Alasanku bergabung sebenarnya bukan karena aku seorang birdwatcher, tapi karena aku diajak oleh senior-senior seru yang sama doyan ngobrol dan sudah bisa dipastikan kalau pada akhirnya teman-temanku yang sama-sama doyan ngobrol juga pada gabung.

Menjadi Bicons itu seru, walaupun harus kuakui beberapa tahun bekerjasama dengan teman-teman semua tetap tak membuat aku mahir mengamati dan identifikasi burung. Aku lebih banyak berkecimpung dalam kegiatan, mempersiapkan acara, menjadi fasilitator outbond dan sebagainya. Parahnya adalah ketika menjadi perwakilan bicons di satu acara, aku blank tak tahu apa-apa soal burung kecuali burung gereja, itupun tak pernah tahu klasifikasinya. Pernah ikut lomba pengamatan burung dan menjadi juara pertama, tapi itu adalah kerja tim, seorang temanku yang stand by dengan binocular, aku dan temanku yang lain hanya mencatat.

Paraaaaahhhhh…..

Untuk urusan kegiatan-kegiatan yang kulakukan sebenarnya tak pernah ada yang melarang. Namun Akang (yang saat itu belum jadi suamiku) biasanya lebih mengeremku, tak memperbolehkanku pulang larut misalnya, tapi bila memang diperlukan sekali-kali Akang membolehkanku. Memang agak terlihat sedikit mengekang, tapi yang kurasa saat ini adalah adanya prioritas, aku jadi belajar mana yang bisa dan harus diselesaikan cepat sehingga menyita waktu lebih larut, mana yang bisa besok saja atau didelegasikan pada orang lain. Menariknya ini juga yang terasa saat kami membangun keluarga, akang mempunyai sikap dalam bekerja. Tak pernah membawa pekerjaan kerumah, tak pernah menerima telepon untuk urusan kantor selama weekend, tak pernah menyelesaikan pekerjaan sampai lembur kecuali bila kaitannya dengan kegiatan penting dan mendesak.

Setelah menikah, hanya ada beberapa kegiatan yang masih kulakukan dengan teman-teman Bicons, setelah itu full aku bekerja sebagai ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga sangat menyenangkan, menikmati kehamilan dengan berleha-leha dirumah, makan, tidur, dan sebagainya. Ketika anak pertama lahir aku merasa ada hal baru yang bisa kuamati, kuajak main setiap hari, mengerjakan pekerjaan rumah bisa nanti saja sesudah bermain dengan anak. Namun ternyata bosen juga, ngga ada yang bisa dikerjakan, sehari-hari dengan anak, pekerjaan rumah dan facebook tak membuatku jadi bersemangat. Pengen juga punya kegiatan yang bisa tetap deket sama anak dan suami, ngga harus ninggalin mereka tapi cociks untuk mengaktualisasikan diri, untuk belajar, dan untuk bersosialisasi.

Mulai mendata lah aku dengan berbagai kegiatan, dari mulai ngaji, kuliah, les, yoga, EO, dan sebagainya. Ngga aku kerjain juga semuanya sih, dimulai dengan plus minusnya, benefit untukku dan keluarga apa. Beberapa yang kujalani nyatanya melempem juga karena alasan ketidaknyamanan. Alhasil dari semua kegiatan itu hanya ngaji yang berhasil bertahan. Tapi tetap saja rasanya masih ada yang kurang, sepertinya kebutuhan untuk berperan kurang terpuaskan.

Setelah hampir menjalani 7 tahun pernikahan, barulah aku menemukan ada yang namanya institut ibu profesional, sudah ikut grup di webnya lama tapi baru kesampaian ikut kuliah umum dan grup WAnya sekarang-sekarang. Ternyata memang butuh bongkar-pasang kegiatan, nyoba ini-itu sekian lama sambil mencari-cari kenyamanan. Bahasan tentang parenting, meningkatkan kemampuan sebagai ibu menjadi hal yang menyenangkan, berbagi dan membaca pengalaman orang lain jadi menarik bahwa ternyata akhirnya aku menemukan teman-teman seperjuangan.

Walaupun belum begitu yakin dengan minat dan bakat sendiri tapi mengikuti aneka kegaitan seperti ini agaknya pas dengan kondisiku, tak perlu jauh dari keluarga, tetap dapat ilmu baru dan teman baru dan aku merasa full.

Satu doa ku kembali dijawab Allah dengan manis.

#ODOPfor99days

#day46

Advertisements

7 thoughts on “Perjalanan menemukan minat

  1. Teh Uput… suka bacanya 🙂

    Kalo dari cerita diatas, teteh suka dengan aktivitas mengonsep, menelurkan ide, inovasi plus suka kerjasama dalam tim juga ya teh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s