Memeluk Bapak dalam Lorong Waktu

Selama ini aku berfikir bahwa aku baik-baik saja, tapi ternyata masih ada urusan yang harus diluruskan dengan bapak.

Bapak adalah sosok pelindung dan pengayom, sebagai sulung dari 12 bersaudara bapak mengambil tanggung jawab penuh saat mbah kakung harus masuk lapas karena fitnah. Tak ingat kapan persisnya, namun yang jelas ketika itu bapak belum berkeluarga. 9 tahun bukanlah waktu yang sebentar, apalagi meyakinkan diri bahwa besok juga pasti akan bebas. Sementara Mbah Kakung terkurung dibalik kokohnya jeruji besi, bapak pun terpenjara dalam pemikiran yang tak menentu. Tak tahu harus bertanya pada siapa, tak tahu harus mengadu pada siapa, hidupnya seakan berakhir disitu. Pelangi kehidupannya pudar, samar-samar menghilang dan hanya menyisakan hitam dan putih.

Semua penyangkalan takdir ini membuat Bapak terpaksa kuat, terpaksa menguatkan pegangan agar tak ada lagi yang bisa diambil dalam hidupnya. Bersikap overprotektif tak pernah nyata terasa sebagai hal yang berlebihan, hidupnya sudah begitu hancur ketika panutannya tanpa sebab yang jelas terpaksa dibawa pergi. Mungkin karena itu juga hampir semua adiknya merasa bahwa Bapak adalah sosok yang paling menyayangi mereka. Hampir dalam semua kehidupan adik-adiknya ada peran bapak disana, tak boleh ada perpecahan bahkan walau sekecil apapun.

Bapak mengatur peran dalam keluarganya, membagi tugas-tugas rumah dengan adik-adiknya. Menempatkan adik-adiknya pada posnya masing-masing agar rumah senantiasa bersih, sementara Bapak hanya berlaku seperti komandan. Adik-adiknya tak pernah keberatan bila bapak hanya berdiam diri dan belajar, mereka paham tugas kakaknya sangat berat. Sementara Bapak sibuk berkutat dengan pelajaran-pelajaran sekolahnya, adik-adiknya lebih membantu Mbah Puteri berjualan.

Aku tak pernah tahu Mbah Puteri berjualan apa pada masa itu, tapi saat aku SD Mbah Puteri sering kulakan kulot di pasar Ciroyom. Berjualan adalah satu-satunya sumber penghasilan keluarga, tak banyak memang, tapi cukup untuk membantu keluarga. Tapi apa ada yang mau membeli dari keluarga yang terjerat hukum? Itu terjadi beberapa puluh tahun yang lalu dengan kasus yang sangat tabu dibicarakan, walaupun aku tahu itu semua hanya fitnah. Dapat kubayangkan betapa susahnya pada masa itu, dipandang sebelah mata, terutama bagi Mbah Puteri sebagai ujung tombak penjemput rejeki.

Mungkin itu juga yang akhirnya membuat Bapak sangat melarang kami, Ibu dan anak-anaknya untuk berniaga. Pandangan cibiran itu memang tak menyenangkan. Tak layak sebenarnya mengumbar pandangan penuh penghinaan itu, tapi ketika tragedi dibungkus cerita kelam dan tak ada daya melepasnya, pandangan itu jauh lebih merusak seluruh syaraf perasa. Cukup bagi Bapak semua perlakuan ini, Bapak hanya ingin memastikan kami baik-baik saja. Mendapat gaji dan berlaku positif, menjadi profesional dibidangnya sepertinya menjadi jalan aman bagi Bapak mencari rejeki bagi Ibu dan juga kami anak-anaknya.

Semua orangtua tentu ingin hal yang terbaik bagi anaknya, memberikan pendidikan yang baik, lingkungan yang baik, begitupun dengan bapak. Aku dibiarkan bermain kemanapun, menyusuri sawah atau sungai sesukaku, dibiarkan mandiri dan bertanggung jawab atas semua pilihanku. Believe ku adalah bapak, asal bapak bilang oke aku percaya diri menantang bahaya. Sampai suatu hari bapak memasukanku ke SMP grade 1 di Bandung, bukan SMP yang ingin aku masuki sebenarnya. Berat untuk berkata tidak, tapi kujalani karena Bapak. Bapak percaya bergaul dengan orang-orang sukses akan membuatku ikut sukses, yang bahkan aku tak tahu apa itu sukses kala itu.

Tapi apa aku bisa bertahan disana?

Bertemu dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang berbeda terasa timpang sekali denganku. Jangankan mengejar mereka, sejajarpun tidak. Aku jadi luar biasa minder dan menutup diri. Bisa dibilang tak ada semangat untuk sekolah, nilai-nilaiku jeblok. Merasa tak punya teman, merasa sendiri tapi tak mampu berkeluh kesah karena ini permintaan Bapak. Rasanya ada yang salah jika aku harus meminta untuk pindah sekolah. Namun bahkan Bapak tak pernah merasa aku tak nyaman.

Perasaanku banyak ditekan, aku tak boleh menangis, menangis dianggap sebagai suatu kehinaan. Aku harus kuat, aku harus berjuang, sama seperti nama tengahku Yudha yang berarti berjuang. Memastikan diri tetap waras selama 3 tahun adalah masa-masa terberat. Berkali-kali aku menuliskan ‘pengen mati aja’ dalam banyak buku, notes, whiteboard. Kemudian hanya bisa menangis dalam kamar, terisak-isak agar tak terdengar oleh Bapak. Aku menjadi begitu tertutup, aku menuliskan semua keluh kesahku, kemudian hanya bisa kubakar atau kusobek sekecil mungkin agar tak ada orang yang membacanya. Aku tak bisa bicara tentang perasaanku pada siapapun, sulit bagiku menjalin persahabatan disana. Bahkan ketika dirumahpun, semua cerita ceriaku hanya menutupi keinginanku untuk mati.

Aku tak pernah betah berada di sekolah namun selalu melambatkan pulang kerumah sebagai refreshing, padahal tak ada kegiatan ekskul yang kuikuti. Beberapa kali sengaja berjalan kaki beberapa kilometer saat pulang sekolah untuk menghilangkan semua emosi yang terpendam. Berusaha mengikuti apa yang Bapak mau ternyata melelahkan, ujung-ujungnya aku hanya bisa bersabar, menangis, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Beberapa tahun berlalu tanpa pernah aku mengungkapkan apa yang kurasakan pada Bapak. Sampai ketika Bapak meninggalkan kami semua 13 Agustus lalu, aku kehilangan kesempatanku mengungkapkan semuanya.

13 Agustus 2015 Bapak meninggalkan kami semua setelah sebulan lebih menderita sesak nafas parah. Disaat banyak orang bersedih atas meninggalnya Bapak, aku justru merasa lega dan bersyukur, Bapak akhirnya tak perlu menderita lebih lama didunia dan segera bertemu Rabb-nya. Mungkin memang sikapku tak terlihat sebagai seorang anak yang kehilangan ayahnya, hampir tak ada kesedihan yang berarti, tapi sungguh aku pun kehilangan. Beberapa kali muncul perasan seperti anak durhaka, anak yang secara sadar ‘bahagia’ ayahnya dipanggil Allah, bahkan sebelum meninggalnya Bapak, doa agar Bapak cepat dipanggil dalam keadaan yang baik dan disegerakan sering aku panjatkan.

Sejak bapak meninggal, hampir semua kenangan tentang bapak menjadi samar, hanya muncul kenangan-kenangan yang manis saja, tak ada lagi kenangan dimarahi, atau kenangan buruk lainnya, bukan tak ada tepatnya, tapi tak ingat. Semua kenangan tentang bapak hanya yang baiknya saja yang kuingat.

Namun meninggalnya Bapak justru banyak membuka ingatanku akan cerita-cerita masa kecil Bapak dulu, aku mencoba merekonstruksi hal-hal yang terjadi, menemukan potongan-potongan puzzle, menyambungkannya dan akhirnya terciptalah puzzle raksasa berisi kemarahan, kecemasan, ketidakberdayaan, penyangkalan, penekanan emosi, dan pemberontakan Bapak. Sulit mengidentifikasi puzzle itu sebagai sesuatu yang sehat, bahkan dengan memegangnya pun puzzle itu terserap ke dalam pikiranku.

Seandainya saja tak kugabungkan puzzle itu…

Puzzle itu kembali mencuat dan tak bisa kubendung sampai akhirnya aku sadar bahwa ada hal-hal yang memang tersimpan kuat dalam pikiran bawah sadarku. Empati luar biasa ini menghalangi jalanku dan emosiku, empati dari seorang anak yang hanya ingin Bapak bahagia.

Ada impian, harapan dan doa Bapak menari-nari dalam pikiranku, tak pernah ku merasa setidakberdaya seperti sekarang ini. Sepertinya semua impian bapak yang disandangkan terhadapku tak pernah satu pun terwujud.

Siang itu bapak duduk dihadapanku, disebuah restoran dengan kolam indah ditepinya. Bapak menggunakan batik coklat favoritnya. Kedua tangannya tertangkup didepan mulutnya dengan siku menempel pada meja. Bapak memandang kolam disebelah kiriku, menikmati suasana restoran walaupun cuaca siang itu tak bisa dibilang cerah.

Aku memulai pembicaraan dengan ragu ‘Pak, Uput kangen Bapak’ sejurus kemudian Bapak memalingkan wajahnya dari kolam dan menatapku. Tangannya kini bersidekap dimeja, siap mendengarkanku. Tatapan itu begitu kuat, sampai aku tak mampu memandang Bapak. Aku menunduk, tak sanggup lagi berkata-kata dengan tenang, tangisanku pecah sudah ‘Bapak, maaf kalau Uput ngga pernah bilang ini sebelumnya, Uput ngga nyaman di SMP. Uput cuma pengen Bapak seneng aja, tapi Uput tertekan Pak. Nilai-nilai Uput jeblok juga Bapak ngga pernah nanya dan Uput juga ngga bisa cerita ke Bapak, Uput takut Bapak ngga ngerti’

Bapak masih diam di kursinya, tanggannya tak lagi berada di meja, Bapak kemudian berdiri, tangannya membantang dan memelukku ‘Ya sudah’ begitu katanya. Terasa sedikit rasa yang mengganjal disana ‘Pak, ikhlasin yaa…Uput sudah berusaha menjadi seperti yang Bapak harapkan semampu Uput, sekarang Uput dah ada yang jagain, Bapak ngga usah khawatir, Bapak ikhlas yaa…’ dan Bapak memelukku lebih erat.’

Special thanks to teh Inna n kang Muvti.

Melepaskan, merelakan, ikhlas dan membingkai ulang puzzle ini menyedihkan tapi melegakan.

Selasa, 8 Maret 2016

#ODOPfor99days

#day50

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s