Cerita si Anak Udik

Kemarin aku nyimpang ke sebuah rumah makan, lapar ceritanya. Seperti biasa begitu tamu memasuki area makan langsung disambut oleh seorang penjaga pintu dengan kalimat “Wilujeng sumping” dan di sambut koor oleh seluruh penduduk tetap rumah makan tersebut  “Manggaaaaa”.

Saat menunggu makanan tiba terdengar beberapa kali check sound dari area depan rumah makan, ternyata mas-mas yang tadi aku lihat saat memasuki area makan akan tampil. Nyanyi tepatnya. Jadi inget jaman SMP…

Jaman SMP dulu, anak-anak yang biasa tampil nge-band biasanya jadi idola bersama, baik vokalis, gitaris, bassis dan sebagainya. Selain pemain band, biasanya anak-anak basket selalu jadi idola juga. Kalau bisa diurutkan daftar kecengan populer saat SMP adalah anak band, anak basket, pengurus OSIS, paskibra dan PMR. Gitu sih menurut pikiran anak SD udik yang baru masuk SMP grade 1 di Bandung. Secara pengamatan sepintas saja sudah terbaca bahwa daftar itu karena kepopuleran, makin populer makin banyak penggemar.

Saat SMP sepertinya menjadi awal pengembangan bakat analitis si anak udik,  belajar mengamati perilaku adalah salah satu cara untuk belajar survive dan menyesuaikan suhu yang naik drastis setalah masuk SMP.  Banyak perubahan yang membuat terkaget-kaget dan tak mudah mengikutinya, akhirnya daripada mencoba nyebur tapi hasilnya krik krik kriuk, mending ngamatin aja deh.

Kenal dengan Boyzone? Backstreet boys? Westlife? The Moffats? Jaman SMP adalah jamannya boyband, ngga ada sih temen-teman sekolah atau senior yang jadi boyband tapi lagu-lagunya yang melambungkan cewe-cewe sering jadi bahan perandaian temen-temen. Bahasanya melted kalau jaman sekarang, seorang teman bahkan sampai berandai-andai Bob Moffats bernyanyi khusus untuknya tiap kali dia mendengarkan kaset the Moffats dari walkmannya. Itu agak berlebihan memang, tapi kayanya ngarep cinta Bob Moffats lebih tidak menyakitkan daripada mengharap cinta akang putih, tinggi, jago gitar, jago basket, pinter dan populer. Jleb!

moffats
The Moffats (ki-ka) Bob, Clint, Scott, Dave

Bukan hanya soal lagu, komik serial cantik asal Jepang juga selalu menjadi acuan perngecengan termasuk tips dan triknya yang siap dipraktekkan. Mengusung cerita sederhana tentang percintaan remaja dan dibuat semenarik mungkin membuat komik ini menjadi bacaan pilihan dibandingkan dengan komik berseri yang selalu bikin penasaran kalau akhirnya bersambung dan ngga ada sambunganya. Dalam satu buku komik pasti tamat, bisa 1 sampai 4 cerita pendek.  Adegan pura-pura jatuh, tabrakan dan berujung pada kenalan bahkan membelikan minum seusai bermain basket biasanya jadi jurus khas anak cewe ngejar gebetannya. Berhasil? Boro-boro si cowo jadi perhatian, yang ada malah jatoh dan sakit beneran, sekalinya beliin minum langsung woro-woro deh si cowo “Eh, ini gratis? (dijawab iya) Woooyyy gratis nih, tuh minta si Vina beliin” daaannn kembali gagal strateginya.

Pengurus OSIS tak lepas dari bursa kecengan, kenapa? Mereka adalah ujung tombaknya seluruh mata siswa baru. Dari mulai teteh cantik, akang ganteng, teteh jutek, akang misterius, teteh baik, akang cuek dan sebagainya. Gosip si teteh B  sama akang P juga jadi berita hangat n tersebar luas di penjuru sekolah, tapi yang bikin males adalah ketika ada cerita tentang si A ngeceng si Z, lalu si H nangis-nangis karena liat si F jalan sama si Y, yang akhirnya ketika si Z dan si Y jadian, si A, F dan H malah mendukung dan ikut tepuk tangan.

Bahasan macam apa ini?

*lempar meja

Tau kenapa paskibra itu keren? Karena tinggi, tegap-tegap dan gagah pastinya. Melihat tim paskibra latihan formasi itu bikin kagum, sayangnya pedoman jatuh cinta kepada paskibra ngga ada di serial cantik, yang ada adalah cerita cinta pemudah gagah, tinggi kepada gadis ceroboh khas Sailor Moon.  PMR walaupun tak segagah paskibra tapi si akang yang suka menolong adik-adik yang pingsan juga bisa jadi sumber kecengan yang berharga lho. Bayangkan kalau tiap upacara dan olahraga pingsan, seminggu dah 2x tuh dibopong akang baik hati. Dikalikan lagi dengan 1 tahun masa-masa sering pingsan, hmm…minggu ke-2 aja udah bisa deket tuh.

Kalau cinta itu bisa divisualisasikan menjadi gambar hati yang beterbangan, mungkin lapangan basket sekolah menjadi  tempat terbanyak hati-hati beterbangan menuju sang idola. Hati ungu akan mengetuk-ngetuk pujaan hati tanpa balas, hati kuning dengan enggan menyapa sahabatnya, deg-degan ketika sahabat jadi cinta, hati putih berisi kekaguman dan hati merah si cinta yang bertepuk tangan. Tapi mungkin tak sebanyak hati hitam yang membumbung menghiasi langit begitu melihat teteh OSIS manis dambaan hati jalan dengan akang paskibra ganteng  yang gagah. Owh pedih jenderal!

Bagaimana dengan anak SD udik dari SD tak dikenal seantero SMP, apa dia sudah tumbuh menjadi angsa muda cantik dan tak buruk rupa lagi?

Tetooooottttt….

Analisa si anak udik masih berlangsung, lapangan SMP si anak udik hanya lapang basket dan voli dan lapangan dipilih menjadi sentra duduk-duduk saat istirahat atau ketika pulang sekolah. Banyak anak-anak yang melambatkan pulang hanya sekedar duduk-duduk di bata merah (sebutan untuk keramik merah  yang ada di pinggir lapangan voli), di tangga lapang basket atau di tangga antara lapang basket dan voli. Okey, ngaku! Bukan sekedar duduk-duduk tapi juga ajang ngeceng-mengeceng kakak kelas yang sedang main basket atau pemain band yang main basket.

Apa sih sebenarnya daya tarik pemain band dan pebasket ini ? Ternyata eh ternyata ada luapan keseruan yang banyak membuat cewe-cewe jadi suka.  Lama-lama si anak udik ini juga ikut berandai-andai juga, kalau punya pacar pemain band atau pebasket pasti keren.  Pacarnya aja keren gitu loh, tiap manggung di ‘kyaaaa…kyaaaa…’ in ma anak-anak cewe. Atau kalau beres main basket cewe-cewe rebutan ngelap keringetnya dan ngga akan nyuci saputangannya sampai kapanpun. Jangankan ngelap keringet, kayanya kalau bisa salaman aja dibela-belain ngga cuci tangan seminggu dan wudhu diganti ama tayamum. Dan ketika cewek-cewek berebut salaman atau ngelap keringet sang pacar (ngaku-ngaku) si anak udik bisa melenggang dengan santainya dan langsung mengambil alih semua kehebohan disana dan meninggalkan tatapan penuh benci karena idola mereka sudah ada yang punya wkwkwkwk….

Kayaknya memang sudah bawaan anak-anak cewe pada umumnya kalau cowo keren itu yang tinggi, putih, wangi, langsing (kalau tak mau dibilang kurus), bisa musik, jago olahraga, pinter, terkenal seantero sekolah. Atau mungkin memang seperti itu tipe-tipe yang umum gampang disukai? Si anak udik sendiri lebih cuek dengan tren tersebut, hanya saja yang jadi pertanyaan adalah ‘kok ngga ada suka-sukanya ya ma tipe cowo begitu?’

Normal gitu?

Memasuki masa SMA ternyata tren ngeceng senior ngga berubah jauh, itu berlangsung panas sejak di ranah siswa baru, kali ini targetnya adalah senior rohis. Entah kenapa rohis justru lebih populer dibanding anak band dan pebasket saat SMA, mungkin juga sih karena SMA ini lebih terkenal religius, kayanya…

Ngomong-ngomong si anak SD udik dari SD tak terkenal seantero SMP Grade 1 di Bandung kini sedikit berubah menjadi siswa baru SMA yang katanya sedikit religius walaupun sekolah  Negeri dengan status ‘aku mau jadi lebih ramah dan punya banyak teman’.

Okey itu terlalu panjang.

Dentingan gonjrang gonjreng gitar mendadak adem liat senior rohis ceramah atau ngaji. Anak yang cerewet dan nyablak pun akan tertunduk malu dan buru-buru memanjang-manjangkan roknya begitu ketemu akang rohis, dan kembali tertunduk kesal ketika dinasihati ketua keputrian  ‘akhwat, ketawanya meni ngakak kitu, sing anggun atuh,  Rosul aja kalau senyum ngga pernah keliatan gigi’.

Oh, come on….

Jaman SMA itu bukan komik lagi tren nya, tapi novel. Novel-novel perjuangan dan perjodohan ala Islam ramai menghiasi lemari perpustakaan masjid sekolah, yang entah kenapa jauh lebih mudah di akses daripada perpustakaan sekolah. Kisah cinta romantis khas novel Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa serta Habbiburahman El Shirazy sepertinya menjadi tolak ukur kisah cinta perempuan muda yang menginjakkan kakinya di perpustakaan masjid sekolah.

Tak termasuk aku

Memangnya kamu siapa?

Okey, okey aku anak udik tadi? Puas?

Akhirnya udah deh nyerah aku dengan semua tren ngeceng senior populer. Kenal dengan senior populer pun ngga lantas menjadikan nyaman diajak bicara. Beberapa ada yang nyambung selebihnya ngga pernah ngerti apa pikirannya.

Apa sekarang si anak udik berubah menjadi anak SMA yang periang dan lebih ramah dan berubah menjadi angsa cantik yang tak lagi buruk rupa?

Sssst…analisa masih berlangsung!

Rasanya wajar ketika beberapa alumni senior masih banyak yang main ke sekolah, beberapa diantaranya ada yang masih bermian basket, latihan karate, mengisi kajian agama dan lain-lain. Beberapa aku kenal, selebihnya hanya kenal muka saja. Hanya ada 1 alumni senior yang tanpa embel-embel ekskul tapi aku kenal secara tidak sengaja karena suatu urusan.

Alumni senior ini ternyata kuliah di ITB, katanya. Agak sanksi  juga sih mengingat SMA ku adalah SMA biasa yang jarang sekali lulusannya masuk ITB atau kedokteran. Tapi sulit juga menggali informasi benar tidaknya karena bingung nanya sama siapa. Tambah lagi dengan jurusannya kelautan, kok kayanya baru denger ya? Apa aku dikibulin gitu?

Setelah diajak kekampusnya pun masih tetep mikir, ini bener anak ITB? Apa jangan-jangan hanya numpang lewat? Ngga pernah dikenalin juga ma teman-temannya juga soalnya. Sampai ketika dikenalkan pada keluarganya pun orangtuanya sepakat bahwa si alumni senior ini adalah mahasiswa ITB.

Oooohhh…konspirasi yang sangat rapi dan mulus sekaliii….

Aku tak ingat sejak kapan akhirnya aku mulai meninggalkan kecurigaanku pada alumni senior ini, namun sepertinya pertanyaan ‘ini beneran?’,  ‘asli?’,  ‘seriusan?’,  ‘ini ngga bohong kan?’ ngga bisa hilang dari pertanyaan sehari-hari untuk setiap kejutan dalam hidupku. Saat dilamar, saat menikah, saat hamil dan punya anak, sampai saat ini alumni senior yang menjadi suamiku kini selalu punya kejutan manis tanpa bermaksud memberi kejutan. Ngga pernah itungan tapi selalu penuh perhitungan, mudah menerima pendapat tapi teguh pada prinsip sudah menjadi bagian dalam kehidupan kami. Tak perlu lagi senior putih, jago basket, jago gitar yang di elu-elukan para gadis, menggandengnya kini sudah bisa membuatku menjadi wanita terbahagia di dunia.

 

Maret 2016

#ODOPfor99days

#day49

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s