Bisnis bersama suami

Beberapa hari ini nih, ngga beberapa hari juga sih beberapa minggu deh aku dan suami sedang ngumpulin bahan buat merekonstruksi bisnis yang lama. Seneng rasanya ketika suami ikut serta mikir, sumbang saran, sumbang dana pula dan bersama mengerjakan ini. Sebelumnya aku ngerjain ini seperti sendiri, tapi akhirnya nyerah juga karena rasanya ngga nyaman kalo ngga ada yang digelayuti saat sedang sedih, sedih urusan perbisnisan ini ya, kalo urusan yang lain mah gak usah ditanya.

Suamiku bisa dibilang adalah ujung tombak akhirnya aku mantap berbisnis, bukan karena suamiku tak mencukupi kebutuhanku dan anak-anak, tapi lebih kepada memenuhi keinginanku saja untuk berpenghasilan sendiri tanpa bekerja pada orang lain. Dulu aku pernah berdoa untuk menjadikan suamiku saja sebagai jalan rejeki bagi keluarga kami, tapi kemudian aku ubah doaku agar tak hanya suamiku, tapi juga aku dan anak-anak bisa menjadi jalan rejeki bagi keluarga kami dan juga orang lain. Ini lebih menjadikan kami lebih bermanfaat bagi orang lain. Aamiin.
Bisnis sebenarnya bukan aku banget, aku semasa kecil terbiasa segala disediakan, dalam artian tidak harus bersusah payah bekerja. Walaupun demikian semua kebutuhan senantiasa tidak bisa langsung, karena keluargaku bukan keluarga yang berlebih, keluargaku adalah keluarga sederhana. Pola seperti itu membuat aku bisa berhemat tapi tak bisa menghasilkan. Jaman dulu bapak selalu bilang ‘kamu sekolah aja yang rajin, bapak masih bisa kok biayain kamu’ gitu katanya.
Beda aku, beda suamiku. Suamiku terbiasa membantu orangtuanya berdagang, walau tak ikut dalam proses jual belinya tapi bolak-balik ngangkutin kotoran kambing supaya tanahnya lebih gembur, menanam rempah, menanam pohon, mengukur lingkar pohon, beternak ayam dan sebagainya. Hidup penuh perjuangan amat terasa sejak suamiku kecil. Pola didik mertuaku menjadikan suamiku tangguh, walau ranah kerjanya sekarang bukan perniagaan, namun tetap tahan banting dan bisa mencari celah berniaga dengan cara elegan, santun dan tetap halal.
Tidak diragukan lagi, suamiku memiliki mental yang kuat yang terbentuk sejak kecil, tak pernah ada muka kusam dan kuyu saat pekerjaan suamiku dalam masa-masa sulit, jikapun sulit, rumah tetap hangat seperti biasanya. Suamiku masih bisa bermain-main dengan anak-anak, masih bisa bercanda denganku dan masih bisa membantuku dalam urusan domestik rumah tangga. Sedangkan aku yang tak memiliki daya juang setangguh itu, mengerjakan bisnis ini butuh energi yang senantiasa harus di dopping setiap waktunya, efeknya adalah pada kebergelayutannya aku ketika sedih, namun demikian tetap akan selalu ada tangan kuat untuk memeluk dan bahu kokoh untuk menangis di saat-saat sedih.
Kadang terfikir juga, kenapa ngga dari dulu ya ngejalanin bisnis bareng. Tapi apapun itu, ini adalah langkah awal memulai sesuatu yang baru untukku dan suami.
#ODOPfor99days
#day 47
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s