Saat Rayi Sakit

Menghadapi anak biasanya lebih tega dibandingkan anak orang lain, apa kebalik? Gitu sih yang aku rasa, ada target nilai-nilai kehidupan yang ingin anak kita jadi begini jadi begitu membuat kita kadang hilang kesabaran dalam menghadapi anak. Beberapa hari ini aku mengamati ada perasaan yang terlewat aku rasakan ketika si bocah lagi tantrum.

Phototastic-02_03_2016_b7d7d110-9c20-4555-9ae4-67f0ae128ce0[1]
Ngeyucup pagi-pagi walaupun sambil batuk-batuk

Rayi adalah anak lucu yang senang tertawa, kesehariannya adalah bunda dan main. Termasuk anak yang keras kepala, baik dalam artian yang sebenarnya maupun dalam arti kiasan. Dia bisa keukeuh mengerjakan sesuatu dengan caranya, disisi lain dengan santai mendaratkan kepalanya di bagian tubuh bundanya, kakaknya dan ayahnya tanpa perasaan bersalah bahwa kepalanya itu berat dan membuat sakit. Keinginannya kuat dan cukup berbelit ketika akan membujuknya. Rayi bisa menjadi sangat menyebalkan ketika keinginannya tak terpenuhi, dia bisa meraung-raung, menangis, menendang-nendang dan biasanya kudiamkan saja sampai dia tenang, itupun setelah kubujuk dan tak berhasil.

2 hari ini Rayi batuk-batuk, hampir setengah malamnya tak bisa tidur karena batuk. Manja dan tantrumnya pun berkelanjutan, kadang sampai membuat aku tak bisa, bahkan hanya untuk ke toilet. Seharian minta gendong dan peluk sambil batuk-batuk. Jika kuperhatikan, mungkin 2 hari kebelakang ini adalah fase aku memeluknya terlama, banyak ngobrol santai disela tangis dan rengekannya.

Aku mencoba menjadikan diriku sebagai Rayi, lalu aku kembali kemasa-masa saat aku sakit dulu. Saat aku batuk-batuk parah dan terbangun dalam tidurku, aku selalu memelankan batukku supaya orangtuaku tak terbangun. Sedih rasanya ketika sedang sakit dan dianggap ‘ah cuman gitu aja, jangan manja!’ atau paling tidak begitu pikiranku. Aku jadi memahami adanya sebuah kesedihan dan kekhawatiran yang Rayi rasakan, Rayi terlalu sering kubiarkan bingung dengan perasaannya. Di satu sisi seorang anak yang jangankan sakit, ketika sehat saja ingin bermain dengan orangtunya sekarang banyak kubiarkan sendiri merengek-rengek. Di sisi lain aku tak ingin Rayi menjadi manja.

Sakitnya Rayi kali ini membawa hikmah baru bagiku, Rayi butuh dipahamkan akan perasaannya. Aku menyejajarkan mataku dengan matanya ketika bicara, membiarkannya tenang supaya jelas ucapannya dan sering kali yang kulihat adalah Rayi mulai paham sedikit demi sedikit. Mengungkapkan apa yang dirasakan, diminta dan berbicara tanpa rengekan, meskipun agak sulit karena batuk-batuk.

#ODOPfor99days

#day48

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s