Berbakat agama?

Talents, atau kita mengenalnya dengan sebutan talenta atau bakat adalah hal yang pada umumnya kita kenal sebagai berbakat nyanyi, berbakat musik, berbakat olahraga dan sebagainya. Namun apakah ada anak yang berbakat agama?

Beberapa waktu yang lalu saat sedang mencari sekolah yang tepat untuk si sulung aku menemukan sekolah dengan konsep yang menarik karena belajar dengan tema yang sama tidak akan sama pembelajaran nya antara satu anak dengan anak lainnya. Matahari akan menjadi lukisan indah bagi si bakat melukis, dan akan dihitung jaraknya bagi si bakat matematika. Dalam semua tema akan tetap menjadi tantangan tersendiri karena setiap anak berbeda. Agama pun dikonsep menjadi sebuah pemahaman (jika tidak salah tafsir) seperti Nabi Ibrahim akan pencarian Tuhannya, mengamati kejadian alam semesta dan bemuara pada kesimpulan tentang Tuhan.
Pada akhirnya jika boleh disebut sebagai bakat agama atau kecerdasan intrapersonal yang dominan, bagaimana dengan anak-anak yang tak dominan? Akankah sampai pada pemahaman siapa Tuhannya? Untuk apa ia diciptakan? Bagaimana dengan ibadahnya? Bagaimana jika ia adalah seorang fisikawan lalu menuhankan ilmu fisika?
Bukankah kita wajib mengajarkan ilmu yang kita tahu kepada orang lain? QS. Al-Baqarah (2): 159
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah pernah Kami turunkan dari keterangan – keterangan dan petunjuk, setelah Kami terangkan dianya kepada manusia di dalam Kitab , mereka itu akan dilaknat oleh Allah dan merekapun akan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat. (Al-Baqarah(2): 159
Pola sekolah saat ini memang banyak yang bersifat mengajarkan semua hal, anak-anak akan cenderung pintar di semua hal tapi talentanya tak terasah. Konsep ini yang banyak dikritisi oleh orang tua karena menjadikan anak-anak tertekan. Banyak orang tua yang justru meninggalkan konsep outside in ini dan menggantinya dengan konsep inside out. Konsep inside out adalah menumbuhkan fitrah belajar anak tanpa harus memaksa, setiap anak akan berbeda pola belajarnya dengan anak lain. setiap anak akan berbeda bakatnya dengan anak lain. Tidak hanya fitrah belajar, termasuk fitrah gender, fitrah agama dan sebagainya harus ditumbuhkan bukan dengan pemaksaan.
Fitrah agama memiliki proporsi dan cara berbeda untuk bisa dimunculkan, beda dengan menumbuhkan bakat-bakat lain. Tugas orangtua adalah menumbuhkan fitrah agama, tentu dengan cara yang baik dan santun dengan cara mencontohkan secara bertahap. Mengenalkan siapa Tuhannya, akhlak yang baik, ibadah yang dicontohkan Rasul bukan masuk dalam katagori outside in, bukan masuk dalam kategori memaksa anak belajar agama. Jikapun orangtua merasa tidak mampu mengajarkan agama secara langsung, ada baiknya orangtua ikut belajar bersama anak, bisa dengan memanggil guru atau mengikuti kajian-kajian keagamaan.
Jangan sampai saat di akhirat nanti antara orangtua dan anak saling berhadap-hadapan dan saling menyalahkan karena anak merasa tak diajarkan sementara orangtua berlindung karena tak bisa mengajarkan agama.
#ODOPfor99days
#day37
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s