Resume: ILC, maraknya LGBT apa yang harus kita lakukan?

IMG-20160216-WA0007[1]

Akhirnya bisa juga ngeresume ILC selasa lalu tentang maraknya LGBT, tapi ya namanya disambi ini itu jadinya ada juga yang kelewat-lewat. Berbagai narasumber yang kompeten dibidangnya dihadirkan, yaitu:

  • Bu Elly Risman (Yayasan Kita dan Buah Hati)
  • Erlinda (komisioner KPAI)
  • Dr. Ali Mustafa Yaqub (Ketua Asosiasi Imam Besar Masjid Indonesia)
  • Fahira Idris (WaKa Komisi 3 DPR RI)
  • Dr. Fidiansyah (Psikiater)
  • Dr. Darmawan A.Purnama (Psikiater)
  • Natalius Piagai (HAM)
  • Moamar Emka (Penulis Jakarta Undecover)
  • Ade Armando (Pakar Komunikasi)
  • Aan Anshori (Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi)
  • Sudjiwo Tedjo (Seniman)
  • Beni Susetyo (Tokoh Lintas Agama)
  • Yuli Rustinawati ( aktivis LGBT)
  • Hartoyo (aktivis LGBT)
  • Idy Muzzyad (KPI)

Garis besarnya sih sebenarnya ada 3 hal, apa itu LGBT, kenapa bisa muncul dan bagaimana penanganannya.

Aku bukan orang yang anti LGBT dalam artian itu memang dilarang agama dan itu penyakit kejiwaan dan itu harus disembuhkan, tapi kalau seolah-olah melegalkan LGBT, maaf saja aku tak setuju. Penyakit kejiwaan bukan hanya seperti bayangan kita pada umumnya, tapi bisa dilihat dari disfungsi dan distress suatu organ seperti pernyataan psikiater Fidiansyah dan Darmawan Purnama. Biasanya psikiater akan menggunakan 4 aspek untuk proses penyembuhan seperti aspek biologi, kognitif, psikis, dan modifikasi perilaku sosial lingkungan dan agama. Namun yang terlihat alih-alih mencari penyembuhan, yang terlihat justru pendukung LGBT berlindung bahwa mereka tidak sakit, suka kepada sesama adalah wajar. Nauzubillah.

Penyakit ini bisa menular walaupun bukan virus, apakah ini bawaan atau bentukan lingkungan? Sampai saat ini masih banyak perdebatan asal muasal penyakit ini. Dalam Islam, Dr. Ali Mustafa Yaqub menyatakan bahwa jenis kelamin ada 2, perempuan dan laki-laki, tak ada jenis kelamin ketiga. Namun Islam mengenal kelamin ganda, dan ada penjelasan lebih lanjut mengenai ini, khusus LGBT beliau nyatakan haram. Bahkan beliau mencurigai adanya skenario yang lebih besar yaitu untuk menghancurkan bangsa Indonesia.

Nampaknya sikap keras penolak LGBT ini membuat mereka merasa perlu menunjukkan eksistensinya. Kenyataan ini semakin mengkhawatirkan ketika mereka juga membuka ruang diskusi untuk membuat pendukung LGBT bersatu dan semakin nyaman dengan eksistensinya. Diwakili oleh Hartoyo dan Yuli Rustinawati, mereka menyatakan bahwa alasan diskriminasi dan bullying yang membuat mereka pasang badan. Ruang diskusi yang mereka buka justru jadi menjadikan pendukung ini semakin eksis, ibarat yang datang setengah yang keluar satu. Tadinya masih setengah sakit begitu diskusi malah jadi sakit beneran.

Bicara masalah eksistensi, ada beberapa hal yang perlu diluruskan:

  • Apa kalau memang menjadi LGBT harus bangga? harus pamer sampai mempertontonkan secara vulgar? jangan berlindung karena dorongan, orang normal pun ketika tertarik dengan lawan jenis tak serta merta mengikuti dorongannya jelas Darmawan Purnama
  • Apa kalau LGBT, lantas wajar mempropagandakan secara terbuka?
  • Apa kalau kita punya rekan LGBT kita harus jadi pembully? kita ini bisa toleran kok tak perlu diskriminasi dan kekerasan jika berbeda, kita harus rangkul malah, supaya bisa sembuh.
  • Ruang diskusi yang dibikin oleh oleh kaum LGBT hanya akan mengokohkan eksistensi mereka, sebaiknya ruang diskusi ini diperbanyak oleh lembaga-lembaga kompeten untuk menjelaskan secara ilmiah apa itu LGBT

Setelah mengetahui ini lho seluk beluk permasalahan LGBT, kini muncul pertanyaan LGBT itu kenapa bisa ada sih? Apa penyebabnya? Dan yang paling penting adalah gimana mencegah dan mengobatinya?

Bu Elly Risman menuturkan beberapa hal sehubungan dengan hal ini. LGBT adalah sebuah bencana nasional, Indonesia termasuk terlambat merespon sinyal-sinyal yang kini memasuki lampu kuning. Perlu diketahui bahwa LGBT adalah kerusakan otak dan orang tua perlu bangun dari pingsannya. Agaknya alasan budaya timur menjadikan banyak orang tua yang abai mengenai pendidikan sexualitas. Banyak orang tua yang justru mengartikan pendidikan sex sebagai cara untuk berhubungan sexual, bukaaaann….bukan itu. Perlu dibedakan antara sex dan sexualitas. Sex adalah alat kelamin dan permasalahan yang ada diantara keduanya, sedangkan sexualitas meliputi pencitraan, cara berfikir, bagaimana bereaksi, berpakaian dan menjunjukkan emosi. Bu Elly mencontohkan bagaimana sexualitasnya yaitu dengan berpakaian sopan,menggunakan jilbab dan berperilaku santun, bukan dengan baju terbuka, dandanan menor, anting segede gaban dan memanggil dengan intonasi menggoda.

Ada 5 aspek yang bisa menunjukkan sexualitas, yaitu fisik, kecerdasan, spiritual, emosi dan sosial. Anak perlu tahu identitas sexualnya pada umur 2-4 tahun, jangan pakaikan jilbab pada anak lelaki, ajarkan menutup aurat pada anak perempuan. Menjelang pubertas, ajarkan anak untuk mengenal sex secara sehat dan lurus. Dengan cara yang baik, benar dan menyenangkan tentunya, hindari 12 gaya populer komunikasi.

Ada 3 hal penting yang berpengaruh terhadap sexualitas anak, yaitu parents, peers dan lingkungan. Kenyataan sekarang, banyak yang identitasnya gak jelas, agama di sub kontrakkan kepada orang lain, ditambah lagi peran ayah yang kurang. Kasus sex sejenis bisa diawali dengan meniru dan coba-coba. Pada saat anak-anak mencoba akan keluar cairan dopamin di otaknya yang menyebabkan kecanduan, dan bagi anak-anak karena otaknya belum bersambungan maka yang terjadi adalah kerusakan otak.

KPAI yang diwakili oleh Erlinda menyatakan bahwa anak-anak Indonesia perlu diberikan  informasi yang benar, dengan cara yang tepat. Temuan beberapa propaganda yang berbau pornografi juga dikecam keras. Jika Natalius Piagai dari HAM menyatakan bahwa kaum LGBT juga mempunyai hak, harus diperhatikan hak dari 90 juta anak Indonesia lainnya.

Sebagai jalan tengahnya, tokoh-tokoh lain yang hadir dalam diskusi ini kurang lebih menyatakan pendapat yang serupa, yaitu mereka ada dan perlu dicarikan pengobatannya, sementara yang tak sama dengan mereka tak perlu mendiskriminasi. Membuat sebuah diagnosis bukan berarti diskriminasi, namun akan membantu pakar dibidangnya untuk membantu. Perkuat peranan keluarga dalam mencegah bencana ini semakin meluas.

#ODOPfor99days

#day34

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s