Ketika anak bertanya tentang cemburu

Ketika cemberut karena cemburu disebut cemen, maka bukan tak mungkin bisa menjadikan putus asa. Halaaaaahh….kok kayaknya ribet bener ya hidup? Ngga ribet-ribet amat sih karena ini semua adalah pertanyaan si sulung untuk menjelaskan arti kata-kata tadi. Borongan dalam sehari!

Proses untuk menjadi tahu bagi seorang anak itu beda-beda, ada yang dengan mengamati, ada yang dengan merasakan, dan sebagainya. Nah kebetulan nih kemaren sore sepulang sekolah Qai nanya cemburu itu apa sih? Pertanyaan Qai ini ngingetin aku beberapa tahun lalu, ketika itu kakak aku juga nanya cemburu itu apa ke ibu dan bapak. Belum juga ibu atau bapak ngejelasin, aku langsung nyamber kalau cemburu itu iri cinta, haduuuuhhh…kok kayanya aku cepat dewasa ya jaman kecil dulu? Astaghfirullahal adziim…Makanya ketika Qai nanya seperti ini aku langsung menjelaskan tanpa tanya kenapa dia nanya tentang cemburu. Aku menggunakan pendekatan perasaan, membuat Qai merasakan rasanya cemburu dengan membayangkan perasaannya ketika ingin main denganku tapi adiknya sedang butuh aku juga misalnya sedang menyusu.

Tak hanya sampai pada cemburu, ternyata Qai menanyakan tentang cemberut, “Kok Defa bilang cemberut jadi cemburu sih?” Kali ini giliran ayahnya yang menjelaskan, bahwa ekspresi cemburu bisa cemberut, marah atau bahkan nangis. Setelah Qai paham, muncul lagi kata baru, cemen. Untuk kata yang satu ini aku tanya dulu kenapa kakak nanya tentang cemen, dimana dia mendengarnya dan bagaimana kalimat lengkapnya. Buatku ini penting untuk memberikan rambu-rambu penggunaan kata-kata yang pantas dan tidak. Ternyata ada temannya yang ngata-ngatain teman lainnya dengan cemen, omaigat! Kadang bahkan anak tak sadar sedang membully, dan banyak anak tak sadar sedang di bully, yang akhirnya perilaku bully menjadi biasa dan dianggap wajar.

“Kakak, cemen itu artinya menganggap gampang tapi sifatnya merendahkan. Misalnya ada temen kakak namanya si A yang jago nyanyi tapi ngga jago gambar, ketika dia menggambar dan hasilnya ngga bagus terus dibilang cemen sama si B artinya si B sudah merendahkan si A. Padahal si A bisa nyanyi yang belum tentu juga di B bisa nyanyi. Setiap orang punya kelebihan masing-masing, jangan merendahkan apa yang ngga bisa dikerjakan orang lain kalau kita juga ngga mau direndahkan. Lihat aja kelebihannya, ngga usah dibahas kekurangannya.” Agak sulit memang menjelaskan soal merendahkan, menganggap remeh, menghina, karena butuh pengulangan, berbagai kata yang dibolak-balik supaya anak mengerti sesuai dengan umurnya. “Kakak ngga boleh bilang cemen ya, kasih tau temennya juga ngga baik itu kata-kata cemen.”

Tak lama berselang Qai kembali menanyakan tentang putus asa. “Kakak denger dimana kata putus asa?” tanyaku. “Tadi bun, pas Jarjit ngga bisa jawab soalnya, Mei-Mei bilang ‘jangan putus asa’.” Oooooohh…..

“Putus asa itu memutus rahmat Allah kak, misalnya ada orang sakit terus putus asa bilang ‘ah kayaknya saya ngga akan bisa sembuh’ ya udah itu mah beneran aja ngga akan sembuh-sembuh, padahal bisa jadi dengan bersabar sebentar lagi Allah ngasih kesembuhan. Jadi kita mah wajib berusaha, ngga boleh putus asa, hasilnya kaya gimana mah terserah Allah. Kalau putus asa malah jadi dosa.”

 

#ODOPfor99days

#day30

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s