Warisan semangat dan jalan rejeki bagi orang lain

Part 2

Hari ini aku mendapat berita meninggalnya ayah seorang teman. Sulit untuk berpura-pura bahwa hati ini tak tersayat, selalu ada perasaan sedih yang kembali menyeruak ketika itu adalah kematian seorang ayah. Perjalanan pembentukan kenangan antara seorang ayah dan anak tentu berbeda satu dengan lainnya, namun akan selalu menarik dan menyisakan kenangan tersendiri bagi sang ayah, apalagi bagi sang anak, yang ditinggalkan.

Sudah hampir 6 bulan lamanya bapak meninggalkan kami semua, 6 bulan yang hanya ramai karena celoteh anak-anak ketika menginap disana, tak ada lagi obrolan hangat bapak. Rumah tak tampak seperti dulu, pagi-pagi hanya jendela kamar yang dibuka oleh ibu, tak ada lagi pintu-pintu yang dibuka oleh bapak. Seingatku bapak adalah orang yang sangat terbuka, semua tercermin dari kebiasaannya membuka semua pintu dan jendela rumah di pagi hari. Jika sore jarang sekali bapak menutup pintu dan jendela, mungkin saking senangnya bapak akan keterbukaan.

Tak ingat aku berapa banyak pedagang keliling yang silih berganti menawarkan dagangan ini-itu kepada bapak. Seringnya menawarkan kepada bapak, bukan ibu! Mungkin mereka pun tahu hampir selalu dibeli kalau menawarkan pada bapak. Banyak yang sudah jadi langganan sejak dulu, namun setelah aku menikah banyak juga pedagang baru yang kini juga jadi langganan bapak. Bapak sering sekali membeli karena alasan emosional, kasihan sama yang jual katanya padahal tidak semua produk bapak butuhkan. Pernah dalam sehari bapak membeli kerupuk dari 3 pedagang kerupuk yang berbeda.

Tak hanya membeli karena alasan kasihan, bapak sering sekali memberi hanya karena bapak mau bagi-bagi rejeki. Pernah lain waktu saat kami bertiga (aku, kakak dan adik) ditinggalkan ibu dan bapak berlebaran di Jogja, kami didatangi para tukang ojeg yang biasa diberi angpau oleh bapak, mereka meminta jatah angpau untuk lebaran tahun itu. Kadang kebiasaan bapak seperti ini suka sekali aku debat, aku minta bapak untuk lebih selektif dalam membeli dan memberi, namuan seperti biasa, bapak punya jalan sendiri, jalan yang kini aku pahami sebagai jalan bagi rejeki orang lain.

Rejeki itu bukan hanya berupa materi, bisa juga berupa petuah ataupun energi untuk dapat terus beraktivitas. Sering kutemui pekerja magang, mahasiswa sampai siswa yang sedang praktek lapangan di kantor bapak curhat ke bapak. Ada yang bahkan sampai menyempatkan diri malam-malam kerumah hanya untuk sekedar curhat. Sepertinya para curhaters itu kembali mendapatkan energi setelah curhat ke bapak. Bukan para curhaters saja yang semangat, bapak juga menularkan semangat ketika olahraga. Biarpun gerakannya kadang ngawur tapi bapak cuek saja, yang penting semangat.

“Bapak tuh ngga bisa kasih kalian warisan, bapak cuman bisa kasih kalian warisan semangat.”

Beberapa hari lalu saat menginap dirumah ini (rumah ibu-bapak) saat sedang menyiram tanaman aku ditawari oleh penjual susu murni “Neng, mau susu? Ini bapak biasanya suka beli, mana bapak? Mamang dah lama ngga liat bapak, mamangnya juga sih yang baru jualan lagi. Bapak sehat?.” Sedih rasanya ketika bilang “Bapak sudah almarhum mang.” Ada perasaan sedih dan sekaligus bangga ketika orang yang bahkan baru kali itu aku tahu, mengenang bapak dengan sangat indah. Meneteskan air mata dengan kenangan yang baik tentang bapak.

#ODOPfor99days

#day21

#part2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s