Bapak dalam ingatan

Part 1

Rumah ibu dan bapak itu sederhana, 1 lantai dengan taman dan teras yang kecil. Sejak dulu tak pernah rumah ini mengalami renovasi besar-besaran. Jika ada yang direnovasi itu adalah keinginan bapak. Rumah dengan kolam dan kicauan burung serta teras yang nyaman adalah impian bapak. Kolam direnovasi berkali-kali, bahkan bisa dibilang kolam ikan lebih mengikuti perkembangan trend arsitektur daripada bagian lain dirumah ini. Selain kolam, bagian lain yang bapak suka adalah teras. Bapak selalu duduk di teras sekedar menikmati matahari pagi atau berlama-lama mengeringkan kaki dengan menggoyang-goyangkannya sebelum akhirnya memakai kaos kaki dan sepatu sebelum berangkat kerja.

WP_20160129_13_07_09_Pro[1]
foto ibu n bapak beberapa tahun yang lalu

Pagi hari adalah waktu yang menyenangkan untuk bapak, setelah sholat shubuh, bapak akan membuka gorden dan jendela serta membuka semua pintu, termasuk pintu ruang tamu dan pintu belakang yang berhubungan langsung dengan ruang makan. Kemudian bapak akan duduk manis menunggu sarapan yang disediakan oleh ibu. Pagi hari ialah paginya bapak, sementara ibu menyiapkan sarapan, aku menyuci piring dan kakakku menyapu. Bapak selalu menerima makanan lengkap, sudah disediakan dalam piringnya nasi, sayur dan lauk pauknya, pun juga sudah lengkap dengan minumannya, air putih hangat. Pagi hari buat bapak adalah saat menerima tamu, tamu-tamu yang silih berganti datang menjajakan dagangannya. Tukang kerupuk, bubur ayam, bubur sum-sum, jamu, susu murni, tahu, bahkan sampai peminta sumbangan tak pernah melewatkan rumah ini.

Bapak punya rasa kepercayaan terhadap orang lain yang tinggi, semua peminta sumbangan yang datang pasti dikasih. Beberapa kali aku protes akan royalnya bapak, aku hanya minta bapak selektif memberi sumbangan, tapi bapak acuh, bapak tetap memberinya juga. Seringkali bapak menjadi donatur anak-anak yatim, yang bahkan lokasi panti asuhannya pun tak pernah disurvey oleh bapak, diselewengkan atau tidak dananya bapak tak peduli. Bapak hanya bilang bapak pengen bantu, bapak hanya bisa bantu dengan ini saja. Rasa kepercayaan bapak pada orang lain juga kadang tak berbuah manis, beberapa kali ditikung orang, namun tetap saja bapak berprasangka baik.

Sore hari adalah waktunya bapak duduk-duduk lagi, namun bukan diteras melainkan di ruang tamu dan tetap dengan pintu dibuka. Ruang tamu menjadi ruang keluarga menjelang maghrib, semuanya akan berkumpul disana sambil ngemil-ngemil pisang goreng dan teh manis hangat menunggu maghrib. Kadang-kadang bapak tiduran setelah ashar, dan tak lama setelahnya tempat tidur penuh dengan kami berlima, bapak, ibu, aku, kakakku, dan adikku. Sempit sih, tapi menyenangkan, kami menyebutnya untel-untelan. Biasanya bapak selalu punya cerita, bisa tentang masa mudanya dulu, atau cerita-cerita ringan lainnya. Saking serunya cerita bapak kadang malah bikin nagih, ujung-ujungnya ketika bapak sudah ngga ada ide cerita bapak akan bilang “Ceritanya ada raja punya anak tiga, yang paling kecil minta cerita. Ceritanya ada raja punya anak tiga, yang paling kecil minta cerita. Ceritanya…” dan akhirnya sore itu bubar jalan.

#part1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s