Sedikit ingatan ketika ospek

Ruangan itu kosong, hanya ada kursi-kursi berjajar, sebuah mimbar dan beberapa stiker berwarna ditempel disana sini. Di depan papan tulis, di atas pintu dan juga di langit-langit ruangan. Kami pun duduk dan kegiatan hari itu dimulai.

Coach memanggil seseorang diantara kami dan mulai bertanya.

“Bisa kamu ambil stiker disana?” (sambil menunjuk stiker didepan papan tulis).

Alaaahh…cetek gitu mah sendiri juga bisa.

Temanku pun dengan mudah mengambilnya.

 

“Berapa banyak orang yang kamu butuhkan untuk mengambil itu?” (sambil menunjuk stiker diatas pintu) tanya coach lagi.

Yaelaaahh….ambil pake kursi aja kali, lebih stabil.

Temanku pun memanggil seorang teman lainnya untuk menggendongnya dan stikerpun terlepas.

Hah? buat apa gendong-gendongan? pikirku.

 

“Nah sekarang butuh berapa orang untuk mengambil stiker di langit-langit itu?”

Pake mimbar lah, 2 orang pegangin mimbarnya biar ga jatoh.

Kemudian temanku memanggil 4 teman lainnya untuk gendong-gendongan dan stikerpun terlepas.

Whatt??

Sejurus kemudian aku sadar bahwa pertanyaannya adalah ‘berapa orang yang dibutuhkan untuk mengambilnya’ bukan ‘bagaimana cara mengambilnya.’

Ini tentang kerjasama tim dan temanku berhasil bekerjasama dalam tim, sedangkan aku? Apa aku orang yang menghindari kerjasama? Atau merasa mampu bekerja solo? Atau aku terlalu takut disakiti dan tak mau mengambil resiko bekerjasama?

Ingatan beberapa tahun lalu itu mengusikku, masihkah aku orang yang sama?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s