Buku baru Rayi, Odong-odong Donjeeeeng

Tahun ini salah satu resolusiku adalah menumbuhkan anak gemar membaca. Bukan berarti aku berharap anak-anak akan menjadi anak usia dini yang pandai membaca atau semata mengejar kemampuan baca anak karena mau masuk SD. Alasanku adalah mengembangkan we time antara aku dan anak-anak sekaligus membangun kebiasaan membaca dan selanjutnya adalah kebiasaan mengeluarkan ide secara lisan dan tulisan. Soooo funrenthink!

Sudah 2 tahun ini Rayi bergumul dengan buku-buku kakaknya, atau jika dia sedang main ke rumah yangti nya, buku ensiklopedi macan lah yang dia cari. Kasian juga jika Rayi selalu dapat lungsuran, walaupun sebenarnya ngga papa juga sih. Jika biasanya aku membelikan buku borongan namun tak kontinyu, kali ini aku putuskan untuk membelikan 2 buku per bulan untuk masing-masing anak dan membacakannya.

cover-odong-odong-serigala-dan-domba

Saat usia Qaireen 2 tahunan, dia sudah bisa apik membolak-balik halaman buku, tak pernah mencoretinya kecuali buku aktivitas, dan tak pernah menyobeknya. Namun berbeda dengan sang adik, karakternya lebih keras sehingga rapi dan apik bukan Rayi banget. Atas dasar inilah akhirnya aku putuskan membelikan hardbook untuk Rayi.

Banyak buku hardbook yang bisa dipilih, umumnya full color dengan beberapa baris tulisan saja. Cukup untuk anak seusia Rayi membaca gambar dan warna. Akhirnya aku putuskan untuk membeli buku Odong-odong Dongeng, yang pertama adalah Domba dan Serigala dan yang kedua adalah Semut dan Belalang, baru 2 buku dari sekian banyak serinya. Pakumis dan Topemon yang akan memandu cerita dalam odong-odongnya, dan Rayi suka sekali menggabungkan 2 karakter ini menjadi Pa’imon 🙂

Odong-odong donjeng, begitu Rayi menyebutnya, adalah buku interaktif-imajinatif yang punya banyak kelebihan, pertama karena ceritanya tidak ada kalah dan tidak ada menang, buatku ini penting untuk menekan egoisme anak yang diusia 2 tahunan sedang jaya-jayanya, isinya lebih menekankan pada pembentukkan karakter. Kedua isi di buku ini tak terduga bahkan dalam kemasan cerita yang kita semua sudah umum dengan kisah-kisahnya. Hal ketiga ini yang paling aku suka, diakhir cerita akan ada pertanyaan-pertanyaan lucu dan dijawab oleh sang pengarang dengan imajnatif juga, sekaligus menyisakan sebuah pertanyaan yang dibiarkan mengambang dan membiarkan anak-anak berimajinasi tanpa batas, selalu akan ada pertanyaan apa yang akan terjadi?

WP_20160127_14_20_12_Pro[1]

Ternyata bukan hanya Rayi yang suka dengan buku ini, Qai juga suka. Qai jauh lebih menikmati buku penuh warna dengan sedikit tulisan. Buku cerpen Frozen yang ku berikan nyaris tak disentuhnya lagi setelahnya. Mungkin memang belum masanya Qai senang dengan buku dengan banyak tulisan. Akhirnya aku lebih memilihkan buku aktivitas untuk Qai dengan sedikit tulisan namun tetap bisa memberikan keseruan.

#ODOPfor99days

#day19

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s