Bijak memperkenalkan uang pada anak by Bu Elly Risman

“Ayah pelit! Masa uang 250 perak aja ditanyain? Ayah pelit! Aku ngga suka sama ayah!” begitu Bu Elly Risman menceritakan kembali pengalaman masa kecilnya bersama sang ayah sambil berkaca-kaca. Pengalaman mendapatkan pendidikan mengenai keuangan saat kecil itu begitu membekas yang kini menjadikannya pribadi yang menghargai uang, dari mana, dan kemana dibelanjakan, tentu bisa dipertanggung jawabkan.

IMG-20160127-WA0001[1]

“Elly sayang, ayah sayang sama Elly. Ayah hanya mau tau uang itu kemana, ayah mau Elly lebih bertanggung jawab uang itu dibelanjakan apa. Ayah bisa membungkus Elly dengan emas dan melemparinya dengan permata, tapi didalamnya Elly akan membusuk. Makanan pun jika sudah membusuk tak ada orang yang akan memakannya” begitu jawaban ayah dari psikolog anak ini, mengomentari protes sang anak kala itu. Sebuah pembicaraan dari hati ke hati yang menyejukkan, yang meredamkan emosi dan menjadikan sebuah pembelajaran mengenai komunikasi.

Komunikasi adalah hal yang hilang dalam pengasuhan sekarang, termasuk dalam berkomunikasi soal pengenalan uang. Pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati ini juga menuturkan kembali bahwa kunci pengasuhan adalah pembiasaan dan pengalaman. Dalam mengenalkan uang pada anak juga memerlukan 2 hal ini. Terus menerus dan tidak bisa instan, bahkan beliau bisa menunggui sang anak yang kala itu berusia 13 tahun untuk berbelanja keperluannya untuk seminggu selama 1 jam hanya agar segala keperluannya benar-benar sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Pengenalan uang bisa dilakukan bertahap:

  • umur 0-3 tahun: mulai dikenalkan bahwa uang bisa digunakan sebagai nilai tukar, bisa untuk membeli sesuatu, namun bendanya kotor karena sudah memamui tangan banyak orang, jadi harus disimpan pada tempatnya.
  • umur 3-5 tahun: anak mulai diajarkan belanja agar tahu nilai tukar. Bermain peran saat akan belanja juga akan memahamkan anak pentingnya mempunyai daftar belanja agar apa yang dibeli sesuai kebutuhan.
  • 5-8 tahun: anak bisa mempunyai uang jajan sendiri.
  • 8-aqil baligh: mulai dikenalkan dengan pos-pos penggunaan uang. Bukan lagi disebut uang jajan tapi uang saku. Berapa besarnya tergantung dari kebutuhan anak, misalnya uang untuk nabung, untuk shodaqoh, sumbangan, buku, jalan sama teman-teman dan sebagainya. Biasakan 1 pos 1 amplop agar lebih memudahkan saat membelanjakan uang. Bisa dimulai dari uang saku untuk 2 hari, kemudian bertahap menjadi 5 hari, seminggu, 2 minggu dan kemudian sebulan.

Ibu tiga anak ini menambahkan bahwa pada umur 8 tahun anak sudah harus diperkenalkan dengan earn the money, not only spent! Bukan berarti orang tua lepas tanggung jawab membiayai anak, namun ini adalah media pembelajaran keuangan dan persiapan aqil baligh. Terlambat jika orang tua baru mulai memberikan uang mingguan atau bulanan pada anak yang beranjak SMP. Karena SMP yang biasanya sudah memasuki masa aqil baligh, anak seharusnya sudah memiliki pendapatan sendiri. Terdengar kejam?

Persiapan dari pra aqil baligh (usia 7-8 tahun) sampai aqil baligh mempunyai rentang yang cukup panjang untuk mempersiapkan anak mempunyai tanggung jawab keuangan. Orang tua bisa mulai berdiskusi mengenai kebutuhan dan keinginan anak dalam membelanjakan uangnya serta membiasakan anak untuk memberikan laporan detail mengenai penggunaan uangnya hari itu. Kepercayaan akan terbentuk jika terbiasa menuliskan detail penggunaan uang, sekaligus juga merupakan bentuk tanggung jawab terutama pada Allah SWT.

#ODOPfor99days

#day18

Advertisements

One thought on “Bijak memperkenalkan uang pada anak by Bu Elly Risman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s