Qaireen: Aku ngga mau masuk SD

Liburan lalu Qai tiba-tiba nangis sesenggukkan sampai ngga bisa ngomong saking hebohnya nangis. Akhirnya aku bilang “Mandi dulu aja kak, nanti kalau udah beres mandinya, udah beres nangisnya, udah lebih tenang sok kakak bisa cerita ke bunda.”

Setelah beres mandi Qai aku tanya lagi “Sudah siap cerita? Sok sini, kenapa kakak teh tiba-tiba nangis?.” Meledaklah lagi tangisannya, ayahnya sepertinya mulai kesal karena si sulung nangis ngga jelas. “Gapapa kak, sok nangis aja dulu, keluarin semuanya.” Tak berapa lama dengan suara perlahan Qaireen buka suara “Kakak ngga mau masuk SD, pelajaran SD susah-susah.”

Memilih sekolah untuk anak itu gampang-gampang susah. Gampang karena sekolah bagus makin banyak bertebaran apalagi didaerah Bandung timur, susah karena banyak ini-itu yang gak sesuai dengan kurikulum yang didesain dalam keluarga, terlebih lagi belum tentu sesuai dengan kepribadian anak.

PANO_20130908_102309895

Qaireen itu unik, bisa dibilang dia adalah gambaran aku saat kecil dulu. Kemauannya keras, senang berbagi namun sangat perasa. Sedikit saja ada hal yang mengganggu akan berpengaruh pada sikapnya beberapa lama, bahkan sampai beberapa hari. Tingkat kecemasannya tinggi, bahkan setelah ditenangkanpun dia masih akan memikirkannya beberapa lama. Butuh waktu untuk menjelaskan ini itu, bahkan jika dia sudah paham pun selama itu masih bertentangan dengan hatinya, untuk mengembalikan moodnya itu cukup lama.

Beberapa waktu setelahnya aku tanyakan kembali kenapa Qai ngga mau masuk SD, dan ternyata jawabannya sesuai dengan perkiraannku. “Kakak tuh takutnya nanti kalau masuk SD pas disuruh baca kakak masih belum bener bacanya atau belum bisa nulisnya nanti malah dibilang kok bacanya salah atau kok nulisnya salah, jadi kakak ngga suka digituin.”

Jika aku mengingat kembali saat aku kecil dulu, aku bisa merasakan apa yang dirasakan Qai. Pulang kerumah dengan bergetar karena takut dimarahi hanya karena tugasku diberi nilai 7, walaupun sesampainya dirumah orang tuaku tak komentar mengenai nilaiku. Namun itu tak berakhir hanya saat itu saja, hari-hari berikutnya juga. Takut jika tulisanku jelek, takut jika tak masuk 10 besar, takut terlambat, dan sebagainya. Ujung-ujungnya prestasiku ngedrop saat SMP, sering pulang telat hanya karena tak mendapatkan refreshing ketika dirumah, tak bisa cerita dan sebagainya.

Mengingat itu semua, sepertinya aku akan sangat menyesal sekali jika memasukkan Qai ke sekolah formal. Semua kesulitan yang aku hadapi memang membentuk aku menjadi sekarang. Biarlah Qai mengalami pendidikan dan pembelajaran dan juga mendewasa dengan cara yang menyenangkan. Tidak ada jaminan berhasil 100% namun paling tidak aku tak mengulangi pengalaman belajarku yang penuh tekanan pada Qai.

Advertisements

One thought on “Qaireen: Aku ngga mau masuk SD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s