Hasbunallah wanikmal wakil…

Perasaan itu muncul lagi, perasaan kacau setiap kali Akang berangkat tugas. Akang, panggilanku untuk suamiku bukan tentara yang berangkat tugas dengan taruhan nyawa, atau pelaut yang menerjang ombak. Suamiku hanya sedang ditempatkan di luar wilayah.WP_20160102_13_56_44_Pro[1]

Berpisah adalah sesuatu yang sangat wajar, tapi kadar merelakannya berbeda-beda. Sudah hampir setahun lamanya akang bolak-balik untuk bekerja di tempat barunya. Tidak terlalu jauh, bahkan masih di pulau Jawa, dan bisa hanya 3 hari di tempat dinasnya, namun aku masih tetap tak terbiasa. Mengungsi ke rumah ibu sepertinya jadi ‘pelarian’ yang cukup menarik, bukan hanya karena sekolah si sulung lebih dekat dengan rumah ibu, namun juga dalam rangka menemani ibu selepas ditinggal alm.bapak, selebihnya hanya karena aku tak mahir berkendara jadi cukup kesulitan dengan mobilitas harian.

Entah sampai kapan Akang akan ditugaskan disana, jikapun itu masih belum akan dipindahkan lagi ke Bandung dalam hitungan tahun, akankah aku masih tetap tak terbiasa? Menjalin persahabatan hanya dengan suami sendiri manjadi hal terindah, sekaligus terberat kurasa, karena menjadikanku sangat tergantung pada Akang. Terlepas dari itu semua, aku tak tahu apakah kecemasanku, ketidaknyamananku adalah pengingkaran dari ketetapan Allah? Pada akhirnya aku hanya bisa mendaraskan dzikir.

“Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maulana waanikman nashir”

“Cukuplah Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s