Aku bukan pencetak teroris

Teror itu kembali terjadi.
Menghantarkan nyawa sendiri atau orang lain bukan masalah.
Mungkin alasan ketidakpuasan.
Mungkin alasan membentuk tata dunia baru.
Mungkin alasan lainnya.
Mungkin hanya sekedar iseng.

Teror…
Menyebar ketakutan, dan kita terperangkap didalamnya, memakan bulat-bulat BC yang belum tentu sumbernya.
Teror itu berhasil.
Kita telah di teror.

Tapi bukan Indonesia namanya kalau gitu aja takut, kita ini negeri dengan self healing yang cepat, tengok saja #kamitidaktakut dan #kaminaksir, sebuah salah fokus yang nyata terjadi hanya di Indonesia ^^.

Tak perlu pengamat terorisme yang angkat bicara, pengamat fashion pun turun tangan.

Selalu saja ada yang ngga mainstream, termasuk pedagang sate dan cangcimen (kacang-kuaci-permen) ini.

Suka deh ma orang-orang seperti ini, hidupnya tampak santai, Laahaula saja 🙂 njemput rejeki ya jalan, kalau ketembak ya nasip, kalau belum waktunya mati ya ngga akan mati.
Kehidupan di Indonesia memang ajaib,bisa mencekam dan menjelma tawa dalam sekejap.

Lucu?

Ngga lucu kalau kita atau keluarga yang jadi korban, atau mungkin jadi pelaku.

Lho, kok pelaku? Iyah, bukan ngga mungkin kita-kita juga yang menjadikan celah sehingga teroris itu bisa leluasa melenggang santai didepan batang hidung kita sendiri.

Sedikit merefresh kuliah umum bang Aad mengenai the Green Adulthood, yaitu bahwa banyaknya kasus kenakalan remaja seperti narkoba, tawuran bahkan terorisme karena minusnya pendidikan aqil baligh dalam keluarga. Orang-orang yang terlibat terorisme ini sebenarnya adalah korban dan dijejalkan dengan nilai-nilai yang tak sesuai dan tidak di filter di keluarga.

Gampang sekali memasukkan pemahaman baru jika tidak ada nilai-nilai yang kuat dalam diri. Nilai-nilai moral, agama, etika, dan nilai lain yang sepatutnya diisi oleh orang tua sejak dalam kandungan. Butuh waktu lama menanamkan nilai-nilai ini, bukan sebulan-dua bulan. Namun inilah intinya, ketika nilai itu minus, tapi hasrat mencari tahu jati diri ini membuncah, penyebar teror itu mulai beraksi. Mulai dari kajian yang umum, diulang dengan kemasan yang lebih menarik, dibuat ketergantungan, dan akhirnya boom! Terciptalah teroris muda berbakat.

Tentu berat menjadi orang tua jaman sekarang, karena itulah butuh penyiapan diri sebagai orang tua. Aku ibu rumah tangga profesional, dan bangga karenanya. Aku bukan pencetak teroris! Perjalanan masih panjang dalam mendampingi anak-anak, berat? Sabarlah!

Itulah kenapa kita harus berlindung dari masa peralihan, masa transisi, masa dimana anak-anak mulai mencari jati dirinya, QS Al Falaq (113:1-2):

1). Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh
2). Dari kejahatan makhluk-Nya

Ada renungan yang menarik  JANGAN JADI ORANGTUA DURHAKA, tanpa bermaksud menggurui, tulisan ini bagus sekali.

by : Bendri Jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Hal yg indah ketika Allah memberi amanah kepada orang tua. Lahirnya anak sebagai pelipur lara. Dinanti sejak awal berumah tangga

2| Anak dinantikan hadirnya, namun saat terlahir banyak yg mengabaikannya demi mengejar obsesi dunia

3| Banyak pasangan berobat demi mendapatkan anak. Di sisi lain banyak pasangan setelah memiliki anak sibuk dgn mencari harta yg banyak.

4| Padahal anak bukanlah piaraan sebagaimana kucing anggora. Sekedar dikasih makan selesai begitu saja. Mereka punya jiwa yg harus disapa

5| Ortu bersusah payah penuhi kebutuhan materi. Namun sering abai memenuhi kebutuhan hati dan ruhani. Jadilah mereka tumbuh tanpa harga diri

6| Saat anak dirundung masalah sepulang sekolah, ortu sering tak ada di rumah. Mereka mengadu kepada tetangga sebelah. Kita cemburu dan marah

7| Saat anak unjuk prestasi. Berharap ortu hadir dan memuji. Namun ortu sibuk dgn segudang alibi. Mereka merasa yatim sejak dini

8| Saat anak masih bayi ortu rela begadang. Setelah tumbuh remaja komunikasi menjadi jarang. Sekedar tanya PR tak ada waktu berbincang

9| Kita salahkan tv sebagai perusak. Namun tak mampu memberi hiburan anak walau sejenak. Malah bangga dianggap anak sebagai ortu yg galak

10| Anak mencoba datang ke mesjid. Saat bercanda malah dibentak dan dicubit. Hati mereka sakit. Bertekad jauhi masjid

11| Anak lebih memilih ke warnet. Disambut laksana artis di atas karpet. Disana mereka awet. Ortu makin mumet

12| Saat anak bertanya tentang seks yg tabu. Ortu menghardik dan menggerutu. Tak dijawab malah mengalihkan isu. Anak mencari jawab dari film biru

13| Saat anak mulai jatuh cinta. Mereka butuh teman bercerita. Ortu berada entah dimana. Mereka pun curhat lewat dunia maya

14| Saat ortu tak bisa menjadi kawan. Mereka pun memutuskan untuk pacaran. Demi bisa dapat perhatian sekaligus belaian yg diidamkan

15| Ortu hanya bisa marah. Sementara pacar bersikap ramah. Anak lebih membela pacar dibandingkan ortu yg suka menampar

16| Ortu merasa sudah berjasa. Memberikan semua yg anak pinta. Padahal anak jarang disapa. Sudah lama tak bermain dan bercanda

17| Saat anak dirasa menjauh ortu menyesal. Hanya bisa marah-marah dan merasa gagal. Saat bayi dulu anak ditimang. Sudah besar berbincang jarang

18| Andai waktu bisa berulang. Perbaiki kesalahan yg sudah melekang. Namun anak kadung menentang. Tinggallah ortu merasa gamang

19| Jika semua sudah terlanjur, maka evaluasi haruslah jujur. Tak perlu salahkan siapa-siapa. Semua pasti ada hikmahnya

20| Meminta maaf bisa lembutkan jiwa. Teriring kalimat cinta. Dengan pasangan saling bekerjasama. Memulai tekad jalin kasih dalam keluarga

21| Bersusah payah mengasuh anak di dunia tidaklah mengapa. Asal di akhirat bisa berkumpul bersama. Allah buatkan rumah di surga. Duh indahnya

22| Jangan malu mencari ilmu. Sebab mengasuh anak memang perlu guru. Agar kita tak keliru. Berharap anak jadi pribadi bermutu

23| Luangkan waktu ikut seminar pengasuhan. Praktekkan bersama pasangan. Anak bangga punya ortu idaman. Selalu mendampingi saat dibutuhkan

24| Saat ortu telah tiada. Anak tak henti mengirim doa. Sebab cinta telah tertanam sedemikian rupa. Buah dari pengasuhan yg utama

25| Kelak kita kan kumpul bersama di surga. Merajut kasih bersama anak cucu tercinta. Buah dari pengasuhan yg berkualitas selama di dunia

26| Sibuk bekerja itu sah sah saja. Tapi tanggung jawab sebagai ortu tetap yg utama. Kelak ditagih di akhir masa

27| Ingatkan pasangan jikalau lupa. Bahwa hidup bukan semata materi dan benda. Amanah Allah haruslah dijaga. Jangan sampai menyesal di masa tua

28| Semoga tak ada lagi ortu durhaka. Yang abaikan hak anak seenaknya. Berharaplah untuk bisa sukses dalam kerja. Keluarga tetap terjaga

29| Kultweet ini sekedar renungan. Jika ada yg salah mohon dimaafkan. Semoga kita bisa jadi ortu idaman.

#ODOPfor99days

#day10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s