(Kembali) Menyapih dengan Cinta

Sepanjang perjalanan dunia tidak ada orang yang benar-benar sama sekalipun itu adalah anak kembar.  Begitu juga dengan dua bocah lucu ini. Beberapa tahun yang lalu aku pernah menulis tentang menyapih dengan cinta, dan sekarang aku memutuskan bahwa cinta juga yang akan membawa anak keduaku menyapih dirinya sendiri.

Menyapih dengan Cinta

Qai tuh maniak mimik, kalau tidur pasti sambil mimik, sedang ga mau makan asal mimiknya banyak, amann…sempet kepikiran gimana ntar nyapihnya ya…

Nyari pencerahan dengan ngobrol sana-sini ma temen-temen, tapi rata-rata anak-anak mereka pada nyapih diri mereka masing-masing  dari yang bingung puting sampe karena biasa ngedot jadi ga mau mimik dari ibunya langsung. Hingga akhirnya seorang temen ngasi artikel tentang cara nyapih yang ga bikin anak-anak trauma mimik. Intinya si anak lebih diberi pengertian bahwa dia sudah besar, dan sudah saatnya untuk ga mimik lagi. Pasti akan ada adaptasi dengan cara ini, beberapa hari atau beberapa minggu, sampai si anak bener2 siap lepas dari zona nyamannya.

 

Akhirnya sampe juga pada saat Qai harus disapih, hal yang benar-benar harus diterapkan pertama kali adalah kita harus siap. Apapun itu, mau kalo anak ngerengek-rengek minta mimik, sampe mengantisipasi segala kemungkinan penolakan dari si anak. Selalu mengatakan betapa kita sangat bangga karena dia sudah semakin besar, semakin pintar bisa bikin anak lebih merasa bangga terhadap dirinya sendiri. Yang terakhir nih, yang bikin aku ga pengen nyapih pake cara yang aneh-aneh, aku pengen bikin pengalaman menyusui menjadi pengalaman yang menyenangkan, mempererat bonding antara ibu dan anak, sekaligus tanda cinta kita buat anak, sayang kan kalo karena bratawali seoles rusak asi 2 taun hehehe...

Dari beberapa hari sebelumnya aku selalu bilang ke Qai kalo dia suatu saat ga akan mimik bunda lagi, tapi namanya anak pasti aja ada penolakan, mau itu bilang ga mau atau malah jadi deket-deket terus, takut ga dikasi mimik lagi. Malem sebelum mulai di sapih aku bilang ke Qai ‘Qai sayang, kan udah gede, besok mulai disapih ya, artinya Qai uda ga mimik bunda, kalo mimik kan buat ade bayi, Qai mimiknya ganti air putih aja ya atau susu kotak yaa..’
Sedikit ada penolakan dari Qai, tapi ga berapa lama dia tertidur juga siang itu…walaupun harus nangis2 selama setengah jam. Malam pun gt, Qai sempet nangis dulu karena ga dikasi mimik, bentar nangisnya n langsung tidur setelahnya…

Tau rasanya nyapih? Sedih!! Tapi sekaligus bangga, Qai ternyata udah besar, uda bisa ngerti maksut bundanya apa. Pas sholat Isya, aq nangis, asli nangis!! Terharu banget ma Qai, antara pengen mimik dengan bertahan karena dia udah gede jadi ga boleh mimik lagi.

‘Qaiiiiiii bunda bangga banget ma Qaiiiii….’

Tapi deg-degan dengan kejutan-kejutan menyapih masih belum berakhir, masih ada besok dan besoknya lagi dan besoknya lagi dan seterusnya sampe Qai benar-benar bisa adaptasi.
Besok siangnya rasa deg-degan ini muncul lagi, sebenernya antara nunggu Qai bilang ‘Nda mimik…’ dengan berharap Qai ngga nyinggung-nyinggung soal mimik. Rasanya klo Qai bilang tuh aku bakalan pecah berkeping-keping dan bilang ke Qai ‘yuk mimik yuk!’.
Sleeping time…tau apa yang terjadi? Qai nyinggung-nyinggung soal mimik…apa aku pecah berkeping-keping?
Ngga!!
Karena Qai bilang ‘uda gede, ngga mimik bunda, mimik buat ade bayi ajah’
Hwaaaa…..langsung mewek donk aku…..
Anak pinteeeeeerrrrr……….:)
Hari-hari kedepannya ternyata Qai ga serumit yang dibayangkan, ngga pernah minta mimik lagi, dan tiap kali ditanya ‘Qai mu mimik?’ dia selalu bilang ‘Ngga, kan udah gede, mimik bunda buat ade bayi…’

Menyapih adalah hal yang melelahkan baik secara fisik maupun batin baik untuk anak maupun untuk kami, para bunda. Memutus bonding antara ibu dan anak yang selama ini terlalui penuh suka cita lewat ASI,  terasa lebih sedih daripada diputusin pacar (lebay mode: ON) sepertinya terdengar berlebihan namun ini adanya. Di satu sisi aku merasakan hal yang sangat gembira, bahwa anakku sudah besar, sudah dapat memilih untuk menemukan kenyamanan di hal lain dibandingkan dengan tetap ngASI ke bundanya. Namun di sisi lain tidak jarang aku merindukan saat-saat ngASI.

Belajar dari teman yang butuh waktu sekitar 3 minggu untuk menyapih, membuatku jadi menyapih anak pertamaku lebih cepat dan justru membuatku menyesal. Keputusannya untuk menyapih dirinya sendiri membuatku jadi lebih merasa bersalah karena memotong jatah ASInya 3 minggu. Tak butuh waktu lama untuk membuat Qaireen keluar dari zona nyamannya, bahkan itu tak lebih dari setengah jam. Sekalipun itu sangat melegakan karena tidak ada drama yang menyayat hati, aku kembali rindu saat-saat menyusui putri kecilku.

Tahun tahun berlalu dan kembali aku harus memulai proses penyapihan pada putra keduaku, Rayi.

Proses penyapihan kali ini terasa sangat sulit, berkali-kali Rayi berontak dan menyangkal bahwa dia sudah besar. Rayi selalu bersikukuh bahwa dia masih bayi, masih butuh ASI. Rayi selalu menjerit keras menolak tak mau disapih. Menolak makan yang kerap membuat aku luluh memberinya ASI lagi, bahkan jika aku terpaksa tak memberinya ASI selama aku menyelesaikan urusan-urusanku Rayi tetap keukeuh memilih lapar dan menungguku pulang tanpa makan selama aku tinggalkan.

Sampai  akhirnya aku memutuskan untuk tak memaksanya, membiarkan Rayi siap dengan keputusan menyapih dirinya sendiri dengan tetap memberi pengertian.

Tak banyak yang berubah selama beberapa minggu, hingga suatu dari kesakitanku mencapai  batasnya. Payudaraku lembek habis disusui Rayi seharian, Rayi menolak makan, Rayi membiarkan dirinya kelaparan dan bertahan walaupun hingga payudaraku sakit. Malamnya aku mencapai batasku, aku tak menyusuinya  sampai sepanjang malam Rayi menangis dan aku membiarkannya. Suamiku sepertinya kehabisan akal karena tak bisa berbuat apa-apa, berusaha menenangkan Rayi yang tetap teguh pendiriannya dan bingung membujukku karena payudaraku benar-benar sakit. Ditambah Qaireen yang terbangun mendengar tangisan adiknya, lengkaplah sudah.

Beberapa jam berlalu dan aku mengalah membiarkanku kesakitan daripada seisi rumah tak bisa tidur dan terganggu oleh tangisan Rayi. Akhirnya aku menyadari sesuatu, ada yang salah. Aku menyamaratakan bahwa  semua anak sama, bahwa semua diperlakukan dengan pola yang sama. Namun nyatanya aku keliru.

Aku mulai membenahi hati dan pikiranku, aku membiarkan diriku menikmati me time dan mengumpulkan semangat positifku kembali. Ku titipkan Rayi sebentar pada ibu, dan aku mengubah mindset-ku. Menyapih tak harus memaksa, tak perlu ada tangisan, anak bisa menyapih dirinya sendiri, aku tak perlu stres jika anak belum mau menyapih dirinya sendiri.

Kusiapkan perbekalanku, kuniatkan untuk tetap memberi ASI sampai Rayi siap menyapih dirinya sendiri. 2 bulan berlalu dari hari lahirnya, Rayi tengah bersamaku menikmati malam-malam indah sebelum tidurnya, bercerita dan menimpali ceritaku bahkan sebelum ceritaku habis. Namun kali ini berbeda, Rayi memandangiku penuh antusias, semua ceritaku diterimanya tanpa berkata-kata dan hanya tersenyum menatapku. Hingga akhirnya aku putuskan memberinya cerita tentang perasaanku. Perasaan seorang ibu yang bangga dengan anak lelakinya yang beranjak besar, yang tak lama lagi sudah tak mimik ASI lagi, yang bundanya sakit karena terus memberinya ASI sementara Rayi semakin besar.

Tak banyak yang Rayi tanggapi, Rayi hanya menekankan sedikit ‘Bunda sakit?’ tanyanya. ‘Iya sayang, kalau Rayi terus-terusan mimik, bundanya sakit. Rayi kan makin besar, nyedotnya makin kuat, tapi mimik bunda keluarnya ya cuma segini-gini aja, jadi sakit kalo disedot terus’.

Tak lama Rayi berpaling, dia berusaha tidur sendiri. Dan perasaan itu tetap sama seperti proses penyapihan yang pertama, aku menangis…

 

#ODOPfor99days

#days6

Advertisements

5 thoughts on “(Kembali) Menyapih dengan Cinta

  1. saya jg lg bingung nih dgn anak ke 3 yg udah 2 th lewat 4 bln msh ngASI juga. 2 kakaknya sih dulu 2 tahun pas sukses disapih secara bertahap lewat pengertian. Ini yg ketiga susaaaah bgt dikasih pengertian. Kalo dibiarin nangis bisa tahan sejam lebih 😦

    1. Beda2 tiap anak yah,aku juga gitu,anak pertama gak sampe sehari juga uda anteng setelah disapih.Anak yang kedua malah ngamuk kalo dibilangin.Yang penting mah asal anaknya siap teh,jangan dipaksa.Nanti juga mereka siap kok,asal dikasi pengertian terus.Semangat teh😊

    2. Jangan ngasi target anak kapan harus disapih teh,aku juga awalnya ngasi target tapi lama-lama jadi pusing sendiri akunya keukeuh harus disapih anaknya keukeuh gak mau. Teteh mah udah pengalaman anak 3,tau pasti cara ngadepin anak2.Bisa lewat beberapa bulan sampai setaunan.Sabar weh ya teh

  2. Ni anak prtama kmren pas 2 taun aq sapih.sukses smp 12 hr dah g nyusu.tp bdanx mkin krus g doyan mkan smp akirx Dy skit panas tinggi skli smp triak2 ktakutan kyk liat setan.akirx dy ingt lg sm mimikx,,krn sya g tega liat anak sya skit g mw mkan sm skali,mnum susu gelas jg g mw akirx nyusu lg smp skrg hmpir umur 25 bln.

    1. Anak aku juga sama teh pernah pas awal2 aq sapih belum full tapi disapihnya malah gak mau makan n panas tinggi juga,akhirnya aku susuin lagi. Setelah sembuh dan doyan makan mulai diobrolin pelan-pelan,kalo lagi gak mau ngobrolin nyapih (anaknya) ya aku biarin. Aku baru bisa nyapih itu ketika anakku bener2 bisa fokus dengerin alasan dia harus disapih(kontak mata intens). Hope it helps😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s