Resume Kuliah Umum: The Green Adulthood

Late post #ODOPfor99days #day5

Sebenarnya aku sudah pernah posting tentang ini, namun tidak ada salahnya kalau diposting ulang dan di retouch sedikit.

29 November 2015 lalu, aku datang ke sebuah seminar parenting yang diisi oleh ust.Adriano Rusfy salah satu anggota dewan pakar mesjid Salman ITB tentang The Green Adulthood atau  “Membangun Generasi Aqil Baligh yang Hijau”.

Hampir semua orang tua setuju bahwa pusing sekali mendidik anak sejalan dengan banyaknya kasus kenakalan remaja. Banyak yang terlalu overprotektif atau justru terlalu permisif, nah bagaimana pandangan jebolan psikologi UI ini?

Mari kita kilas balik tentang kenakalan remaja. Remaja sendiri dapat diartikan sebagai bukan anak-anak namun belum cukup dewasa, sudah baligh namun belum aqil. Secara fisik matang, namun secara pemikiran belum.

Remaja, sebuah kata yang belum dikenal sebelum abad ke 19 merupakan sebuah bentukan sosial yang muncul sejak mulai berkembangnya revolusi industri. Revolusi industri menciptakan pekerjaan baru, namun untuk memperoleh pekerjaan baru seseorang harus sekolah lebih tinggi. Orang tua mendorong anaknya  untuk menunda kepuasan bermain dan bersekolah tinggi agar mendapat pekerjaan dan bayaran mahal. Anak-anak pada zaman itu secara tidak langsung akan bersikap menurut dan menyesuaikan dengan keinginan orang tua dan tuntutan sekitar. Padahal di usia yang kita sebut remaja, anak-anak butuh banyak banyak hal untuk di eksplor, melimpah energi fisiknya namun hanya berakhir di bangku sekolah saja tanpa tersalurkan.

Anak-anak terlambat dikenalkan pada masalah, dianggap terlalu dini memikul beban. Anak-anak dibuat sibuk dengan sekolah dan membuat nalarnya kurang terbentuk serta tidak peka terhadap permasalahan di sekitar. Ini yang menyebabkan terjadinya jurang antara kematangan fisik dan pemikiran.

Konsultan SDM dan pendidikan ini menuturkan bahwa dalam Islam, aqil dan baligh idealnya sepaket. Termasuk dalam pematangan aqil dan baligh juga sepaket, butuh kombinasi peranan ayah dan bunda.

Aqil berarti matang pemikirannya, disinilah ayah yang berperan sebagai penanggung jawab pendidikan, memberikan suri tauladan, pandangan-pandangannya dan kasih sayang terhadap anak.

Baligh berarti matang fisiknya, dan ini merupakan tugas bunda sebagai pelaksana pendiaikan. Penyiapan fisik anak berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar anak yaitu makan dan minum.

Aqil-baligh merupakan sebuah kesatuan, matang fisik-matang pemikiran. Aqil-baligh adalah dewasa seutuhnya, dan bukan remaja. Mandiri, bertanggung jawab, siap memikul beban dan menjadi bagian dari solusi, bukan malah menjadi masalah.

Orang tua perlu strategi khusus untuk menyiapkan generasi aqil baligh, yaitu dengan memutus fase remaja! Bukan tanpa alasan mantan pimpinan majalah Ummi ini bicara demikian, beliau menyodorkan fakta bahwa di daerah terpencil tidak ditemukan pola sosial remaja, hanya ada anak-anak dan dewasa. Pada zaman Rasulullah pun banyak sekali sahabat yang bersinar diusia muda, mereka dikenal dengan nama pemuda, bukan remaja!

Tak perlu takut membiarkan anak bereksplorasi, orang tua bisa mulai mengenalkan anak pada hal-hal berikut sejak anak berusia 7 tahun:

  1. mulai mengenalkan anak dengan masalah
  2. jangan mengecilkan anak, jangan anggap anak terlalu dini untuk menanggung beban
  3. biarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri
  4. diberikan konsekuensi atas tindakannya
  5. bangun gentleman agreement
  6. libatkan anak di organisasi
  7. latih anak untuk berniaga.

Membangun generasi aqil baligh artinya membangun  generasi yang punya peran sosial-lingkungan di masyarakat. Ketika peran ini optimal tersanding dalam anak-anak kita, inilah yang disebut oleh Bang Aad, sapaan akrab beliau, sebagai generasi aqil baligh yang hijau.

Mencintai kebenaran dan membenci yang bathil adalah kuncinya!

Generasi aqil baligh yang hijau akan terbentuk jika para pendidik, mendidik hati, hati akan menggerakkan otak dan otak menggerakkan tubuh.

Generasi aqil baligh yang hijau akan melahirkan generasi berakal sehingga akan mudah bagi anak untuk berfikir bahwa buang sampah sembarangan itu salah dan sebagainya.

Generasi aqil baligh hijau adalah generasi yang bertanggung jawab, yang memakmurkan dan memelihara alam semesta, dan itu bisa dilatih dengan latihan menggembala, bisa dengan memelihara binatang, atau merawat tanaman.

Menjadikan anak-anak menjadi generasi aqil baligh yang hijau adalah inti dari menguatkan pondasi (aqidah) dan tercermin dari perilaku (akhlak). Tidak hanya bagus ibadahnya namun juga peka sosial dan lingkungan.

Akhir sesi ini ditutup dengan pertanyaan ‘jika sudah terjadi (tidak membangun aqil-baligh anak secara utuh) apa yang harus orang tua lakukan?’

‘Minta maaflah pada anak!’
Semudah itu, bila memang sudah terjadi minta maaflah, katakan bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa ayah-bunda ajarkan pada anak, dan minta anak untuk belajar secara mandiri.

 

Advertisements

2 thoughts on “Resume Kuliah Umum: The Green Adulthood

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s